Dilaporkan ke Ombudsman, Lapas Perempuan di Gunungkidul Membantah Ada Kekerasan Fisik ke Napi

Ilustrasi. - Freepik
02 November 2021 16:57 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Kepala Lapas Perempuan Kelas IIB Yogyakarta di Gunungkidul, Ade Agustina menanggapi santai rilis ombudsman DIY berkiatan dengan kekerasan warga binaan di lapas yang dikelola. Dia pun menyiapkan sejumlah bukti berupa 21 CCTV yang terpasang di area lapas untuk membantah tudingan tersebut.

“Sudah kami siapkan dan nanti kalau sewaktu-waktu dibutuhkan ombudsman akan diserahkan,” kata Ade, Selasa (2/11/2021).

Terkait dengan laporan ombudsman, ia mengaku belum lama ini ada perwakilan yang datang ke lapas. Meski demikian, hingga sekarang belum ada rekomendasi apapun yang diberikan.

Untuk masalah kekerasan ke napi, Ade pun mempersilahkan untuk mengecek ke setiap ruangan di lapas. Menurut dia, permasalahan muncul karena laporan dari salah satu napi yang merupakan pindahan dari lapas di Semarang, Jawa Tengah.

BACA JUGA: Benarkah Makan Telur Bikin Radang Sendi Makin Parah?

Ia menjelaskan, perpindahan tempat penahanan ini karena napi yang bersangkutan masuk register F dari Kementerian Hukum dan Hak Azazi Manusia. Register diberikan karena ada kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan berkaitan dengan tata tertib di lapas.

Oleh karenanya, sambung Ade, saat dipindahkan napi ini dimasukan ruang keamanan maksimum sehingga berbeda dengan napi lainnya di Lapas Perempuan IIB Yogyakarta. “Penjagaannya dan ruang geraknya lebih dibatasi ketimbang napi yang ditempatkan di minimum maupun medium security,” katanya.

Dia pun memastikan penanganan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain itu, kebutuhan dasar dari para napi juga sepenuhnya terpenuhi tanpa membeda-bedakan kelas penahanan. “Napi yang pindahan dari Semarang memang sedikit-dikit ngomong akan lapor ke komnasham atau ombudsman. Padahal dari sisi pelayanan tidak beda dengan yang lain,” katanya.

Ade mengungkapkan omongan dari napi ini malah membuat petugas tertekan. Ia pun menginstruksikan kepada petugas mengurangi kontak sehingga tidak terjadi kesalahan. “Tapi tetap saja kebutuhan dasar yang diperlukan tetap dipenuhi, sama seperti napi yang lainnya,” katanya.