Budi Daya Kopi di Gunung Gambar Kembali Dihidupkan

Bupati Gunungkidul Sunaryanta saat menikmati secangkir kopi robusta yang ditanam di kawasan Gunung Gambar di Kalurahan Kampung, Ngawen. foto diambil beberapa waktu lalu. - Ist.
03 November 2021 06:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, NGAWEN – Budi daya kopi di Gunung Gambar, Kalurahan Kampung, Ngawen, Gunungkidul akan dihidupkan kembali setelah vakum puluhan tahun. Rencananya dalam waktu dekat akan ditanam 2.000 batang pohon kopi jenis robusta.

Pegiat wisata di Gunung Gambar, Purwo Jayusman mengatakan, kawasan wisata religi Gunung Gambar sempat menjadi sentra budidaya kopi di Gunungkidul. Hasil dari penelusuran melalui  buku Mangkunegara penanaman sudah dilakukan sejak 1907. Upaya penanaman kembali di lakukan di medio 1970-1980, namun setelah itu budidaya berhenti sehingga produksi kopi di wilayahnya tidak terlihat lagi.

BACA JUGA : Studi UGM: Kopi Berpotensi Cegah Paparan Virus Corona

Menurut dia, upaya menghidupkan budidaya kopi mulai dikembangkan lagi di 2018. Sebanyak 20 batang pohon kopi di tanam hingga akhirnya bisa kembali produksi. “Di awal produksi hasilnya 10 kilogram kopi robusta Gunung Gambar,” katanya kepada wartawan, Selasa (2/11/2021).

Adanya hasil ini, upaya pengembangan akan ditingkatkan lagi. Rencananya pada 10 November akan ditanam 2.000 batang bibit kopi. Menurut dia, budidaya ini sebagai upaya mendukung pengembangan wisata di Kalurahan Kampung.

Jayus menungkapkan, selama ini yang terkenal di Gunung Gambar adalah wisata religi adanya petilasan Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said yang merupakan pendiri Puro Mangkunegara di Kota Solo. Diharapkan dengan pengembangan ini dapat meningkatkan antusiasme kunjungan. “Untuk sementara sudah dibuka menikmati kopi, tapi belum dibuka setiap hari karena terbatasnya produksi kopi dari Gunung Gambar,” katanya.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Lurah Kampung, Suparna. Menurut dia, kopi jenis Robusta di Gunung Gambar sudah ada sejak jaman Belanda. Selain itu, juga sempat ada pabrik pengolahan yang dibangun dan lokasinya berada di  sebelah utara balai kalurahan.

BACA JUGA : Kisah Marwiyah Temukan Hoki di Kopi Menoreh

 “Ada juga bendungan yang dibuat sebagai sarana penopang kebutuhan air pabrik hingga saat ini masih ada,” katanya.

Meski demikian, lanjut Suparna, seiring perkembangan waktu, pemahaman masyarakat tentang pembuatan kopi menghilang sehingga tanaman yang ada banyak dibabat. “Barulah pada era digital sekarang ini, kopi dikenal menjadi komoditas yang bernilai sehingga upaya budidaya dihidupkan lagi. Untuk pengembangan tidak sendiri karena juga ada bantuan dari akademisi asal Korea Selatan,” katanya.