100 Warga Membatik di Acara Jogja Membatik Dunia

Haryadi Suyuti (kanan) dan Tri Kirana Muslidatun sedang membatik dalam rangkaian acara JIBB di Malioboro Mall, Sabtu (6/10). Ist - Pemkot Jogja.
07 November 2021 18:57 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, GONDOKUSUMAN – Sekitar 100 warga Kota Jogja membatik bersama dalam kegiatan bertajuk Jogja Membatik Dunia. Acara ini sebagai rangkaian Jogja International Batik Biennale 2021 (JIBB). Masyarakat membatik motif Ceplok Mangkoro sebagai wujud harapan dan doa dengan makna menolak bala musibah. Hal ini khususnya dalam konteks agar pandemi Covid-19 segera berakhir.

Menurut Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Jogja, Tri Kirana Muslidatun, kondisi pandemi sangat berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Masyarakat Indonesia, termasuk Jogja perlu memiliki ketangguhan dan semangat untuk terus tumbuh. Upaya ini salah satunya dengan menciptakan momentum positif yang erat kaitannya dengan kearifan budaya.

“Motif Ceplok Mangkoro berasal dari bagian belakang penutup kepala atau sumping dalam kostum epos pewayangan Jawa. Mangkara berarti ora ana sekara-kara yang bermakna tidak ada halangan dan rintangan. Menorehkan Ceplok Mangkoro merupakan wujud harapan dan doa dengan makna menolak bala atau musibah,” kata Tri Kirana dalam rangkaian JIBB 2021 di Galeria Mall, Sabtu (6/11/2021).

Sejak 2 Oktober 2009, UNESCO telah menetapkan sebagai batik sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity atau Warisan Kemanusiaan Pusaka Lisan dan Tak Benda oleh. Jogja sebagai Kota Batik Dunia berupaya semakin mengenalkannya pada dunia dengan acara ini.

“Dalam kegiatan membatik bersama ini menunjukan membatik sudah menjadi nafas kebiasaan di Jogja. Kami juga hidupkan kembali kampung-kampung wisata yang ada basis masyarakat membatik. Kami berharap pelaku usaha seperti hotel, restoran, dan lainnya bisa menyediakan satu sudut untuk mencoret atau mencanting batik sehingga nafas batik di Jogja ada di mana pun,” kata Tri Kirana.

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti mengatakan kegiatan ini bisa menjadi momentum strategis dalam mengembangan batik di Indonesia maupun dunia. Predikat Jogja sebagai Kota Batik Dunia menjadi tanggung jawab moral semua pihak untuk melestarikannya.

Perlu juga adanya upaya keras menggaungkan ini pada generasi muda, khususnya terkait menjaga batik sebagai warisan adiluhung tradisi luhur bangsa. Dalam keseharian, perlu juga meningkatkan penggunaan batik dalam segala suasana, terutama batik yang ramah lingkungan.

“Momentum ini kami jadikan penyemangat untuk senantiasa memiliki rasa handarbeni terhadap batik sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Jogja, sehingga predikat Jogja sebagai Kota Batik Dunia akan senantiasa melekat, lestari secara berkelanjutan, dan berkesinambungan,” kata Haryadi.