Pentas Kawasan Pakualaman Menampilkan Ragam Kuliner

Potongan adegan film pendek dari acara Pentas Kawasan Pakualaman bertema Kawruh Rasa yang ditampilkan dalam Youtube Pemkot Jogja, Selasa (9/11 - 2021). (tangkapan layar Youtube Pemkot Jogja)
10 November 2021 04:27 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pariwisata Kota Jogja menyelenggarakan acara pentas kawasan yang ditayangkan secara virtual lewat kanal Youtube Pemkot Jogja pada Selasa (9/11/2021). Pada edisi yang ketiga ini, pentas kawasan menghadirkan berbagai potensi seni dan budaya yang ada di kawasan Pakualaman.

Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Kota Jogja, Wahyu Hendratmoko mengatakan, selain memiliki unsur tradisi yang kuat, Pakualaman ternyata juga memiliki ragam kuliner yang menarik. Potensi ini bisa dijadikan referensi wisata kuliner bagi para wisatawan. "Misalnya saja Ayam Goreng Bu Tini, Bakmi Kadin, atau Gudeg Permata yang sangat mengugah selera,” ujar Wahyu dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Selasa (9/11/2021).

Wahyu menambahkan, Pakualaman juga memiliki banyak perajin, seperti perajin busur panah Gendewoku Jogja, perajin batik Indah Giri Gunungketur, dan perajin keramik Luthuk Pottery Craft. Ia menyebut Dinpar Kota Jogja terus mendorong agar keberlangsungan industri pariwisata setiap kawasan terjaga, salah satunya dengan kegiatan pentas kawasan yang digelar secara virtual.

Dinpar Kota Jogja berharap melalui penyelenggaraan pentas kawasan, akan mampu menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung ke Kota Jogja, salah satunya untuk menikmati eksotisme serta keunikan kuliner wilayah Pakualaman.

Creative Director Pentas Kawasan, Ibnu Prabowo mengatakan pentas kawasan kali ini masih menggunakan konsep perpaduan antara short movie (film pendek) dan pentas seni dengan melibatkan beberapa nama seniman seni peran yakni Den Baguse Ngarso, Broto Gandrik, dan pendatang baru, Blasia Tyas Unadika.

Pentas kawasan Pakualaman mengambil tema Kawruh Rasa yang merupakan refleksi atas adanya unsur tradisi yang kuat dan masih dipertahankan di kawasan Pakualaman, seperti tradisi Jemparingan atau olahraga memanah.

"Narasi-narasi dalam short movie berusaha menemukan jawaban bagaimana unsur-unsur tradisi kemudian dapat ‘berkompromi’ dengan modernisasi," ujar Ibnu. Pentas seni dalam Pentas Kawasan kali ini menyajikan penampilan dari beberapa sanggar dan kelompok seni, meliputi Sanggar Margoyasan, Sanggar Giri Beksa, Keroncong Bintar Jaya, dan Keroncong Giriswara. (ADV)