Sekolah Lapang Iklim Diklaim Mampu Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Kepala Stasiun Klimatologi Sleman, Reni Kraningtiyas (kiri) bersama-sama dengan anggota TNI-Polri saat menunjukan contoh hasil panen milik petani yang sudah mengikuti SLI yang dilaksanakan di Dusun Sawahan 2, Kalurahan Bleberan, Playen. Rabu (11/11/2021) - Harian Jogja/David Kurniawan
12 November 2021 11:07 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Stasiun Klimatologi Sleman atau Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta melakukan pendampingan kepada petani melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI). Selain memberikan pengetahuan tentang cuaca, program ini diklaim bisa meningkatkan produktivitas pertanian.

Kepala Stasiun Klimatologi Sleman, Reni Kraningtiyas mengatakan, sesuai dengan ketugasan yang dimiliki untuk memberikan informasi berkaitan iklim maka dilaksanakanlah pembinaan peran serta masyarakat dalam kegiatan meteorologi klimatologi dan geofisika. Kegiatan ini dilaksanakan melalui SLI yang diselenggarakan di Kabupaten Gununkidul dan Bantul.

“Sekolah lapang ini untuk antisipasi dampak dari fenomena iklim ekstrem di sektor pertanian,” katanya kepada wartawan di sela-sela Focus Group Discussion (FGD) SLI Operasional di Dusun Sawahan 2, Kalurahan Bleberan, Playen, Kamis (11/11/2021).

Dia menjelaskan, sekolah lapang ini diselenggarakan sebanyak lima kali yang dimulai pada 9 April 2021. Hasil dari pelatihan, para peserta mengalami peningkatan pengetahuan berkaitan dengan masalah cuaca.

Baca juga: BMKG Perkirakan Hujan Lebat Turun Masih di DIY Sepekan ke Depan

Pelatihan dari SLI juga sudah diimplementasikan para petani untuk penanaman. Adapun hasilnya di Dusun Sawahan 2 terdapat peningkatan panen kedelai sebesar 9% dibandingkan dengan hasil di tahun lalu.

“Peningkatan panen tidak hanya di Dusun Sawahan, Bleberan, Playen. Sebab petani bawang merah di Dusun Karang, Kapanewon Kretek mengalami peningkatan 15% ketimbang panen di tahun sebelumnya,” katanya.

Ditambahkan Reni, pelaksanaan SLI ada lima poin penting dalam pembelajaran. Yakni, memahami untuk belajar mengenidentifikasi permasalahan; mengungkpakan permasalahan yang dihadapi kepada peserta lainnya. Setelah itu, melakukan analisas terhadap permasalahan serta membuat kesimpulan guna menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

Adapun poin kelima adalah dengan menerapkan berdasarkan menganalisa, menyimpulkan dan diharapkan peserta dapat menerapkan solusi dari permasalahan yang dihadapi. “Poin yang tak kalah penting dari kegiatan ini adalah pengenalan unsur cuaca atau iklim beserta alat ukurnya dan pemahaman tentang informasi tentang iklim,” katanya.

Salah seorang alumni SLI di Dusun Sawahan 2, Kamijo mengaku senang dengan kegiatan ini karena mendapatkan pengetahuan baru tentang iklim dan cuaca. Salah satunya berkaitan dengan curah hujan sehingga akan berpengaruh terhadap jenis tanaman yang ditanam.

“Kalau dulu, kami hanya menggunakan ilmu titen [mengingat], tapi sekarang ada cara yang mudah mengetahui cuaca sehingga dapat digunakan patokan memulai bercocok tanam maupun jenis tanaman apa yang ditanam,” katanya.