Berakhir Damai, Ini Kronologi Pengepungan Resto Mie Gacoan Kotabaru oleh Driver Ojol

Polisi berjaga di area Mie Gacoan Kotabaru setelah insiden ricuh antara ojol dengan manajemen restoran, Minggu (14/11/2021) - Harian Jogja/Yosef Leon
14 November 2021 11:17 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Insiden ricuh antara karyawan restoran Mie Gacoan dengan pihak pengemudi ojek online (ojol) di Kotabaru pada Sabtu (14/11/2021) disebut telah diselesaikan secara kekeluargaan. Pihak-pihak yang terlibat didampingi dengan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Kotabaru telah melakukan mediasi pada kemarin malam.

"Penyelesaiannya kekeluargaan atau restorasi justice karena dari pihak restoran juga telah menerima bahwa kerusakan barang atau peralatan kemarin wajar karena kan ada luapan emosi ya kemarin. Biasa itu emosi dari simpatisan pihak ojolnya. Jadi masalahnya sudah selesai," kata Kapolsek Gondokusuman, AKP Surahman, Minggu (14/11/2021).

Kapolsek menjelaskan, insiden itu terjadi pada Sabtu 13 November sore kemarin. Peristiwa ricuh antara karyawan restoran Mie Gacoan sempat terjadi dengan seorang pengemudi ojol yang melakukan pemesanan layanan go food. Hal itu dikarenakan kesalahpahaman antar kedua belah pihak. Ojol merasa telah mengantre lama sementara pesanan yang dipesan salah.

Kemudian pada Sabtu 13 November malamnya, suasana sempat kembali memanas. Area restoran Mie Gacoan Kotabaru dikepung oleh simpatisan dan sejumlah pengemudi ojol lainnya. Insiden ini pun berlangsung sampai menjelang tengah malam di lokasi tersebut, hingga kemudian pihak berwenang, pemerintah dan tokoh masyarakat setempat memediasi insiden itu.

"Kesalahannya ada masalah dengan pesanan, kemudian dari manajemen itu diganti makannya tapi mungkin karena kekesalan ojol yang menunggu lama kemudian dari pihak ojol menendang kursi lalu ada juga suara atau perkataan yang tidak pantas dan terjadi kesalahanpahaman," ujar Kapolsek.

Surahman mengklaim bahwa tidak ada tindakan kekerasan atau adu fisik seperti yang tersebar di sosial media. Meski suasana sempat tegang dan alot, tindak kekerasan yang mengarah pada sentuhan fisik tidak terjadi saat insiden berlangsung. "Tapi memang tidak ada kekerasan fisik saat insiden itu, hanya masalah ringan saja," katanya.

"Intinya tidak ada tindakan fisik dari karyawan maupun dari ojol sendiri, kita juga tidak ada intervensi apapun kaitannya dengan permasalahan itu," sambung dia.

BACA JUGA: Kronologi Kebakaran Kilang Minyak Pertamina di Cilacap

Saat ini permasalahan tersebut telah selesai. Kedua belah pihak telah sepakat bahwa insiden itu tidak dibawa ke jalur hukum. Kerusakan dan juga kerugian yang terjadi akibat luapan emosi ojol juga telah diterima oleh manajemen Mie Gacoan setempat. Pihak restoran disebut Kapolsek juga sepakat akan mengevaluasi layanannya dan mengaku akan bebenah terutama yang berkaitan dengan layanan online.

"Kedua belah pihak sudah sepakat walau ada barang yang rusak itu dari manajemen sudah terima keadaan itu sebagai bentuk ketidakpuasan dari pelanggan. Artinya ada solusi yang sama-sama baik antara ojol dan manajemen restoran," imbuhnya.

Untuk sementara waktu, operasional restoran Mie Gacoan Kotabaru akan ditutup. Pengelola bersama dengan Muspika setempat disebut kapolsek sepakat untuk memberhentikan layanan restoran untuk sementara waktu. Hal ini dilakukan untuk keperluan penyelidikan dan pembenahan sejumlah peralatan dan perlengkapan yang rusak.

"Untuk sementara memang belum operasi lagi, karena kan masih proses pembenahan kami dengan Muspika untuk sementara sambil berbenah masih ditutup dulu. Makanya jangan sampai kita frontal menutup, tapi kesalahan atau insendennya hanya kecil saja. Salahnya kan di manajemen atau pelayanan saat beroperasional," ujar dia.

Pantauan di lokasi, area restoran ditutup dengan garis polisi terpasang di sekeliling area itu. Tiga orang petugas kepolisian dari Polsek Gondokusuman juga berjaga di lokasi. Kapolsek juga mengimbau kepada pengelola restoran dan usaha pesan antar makanan lain untuk berkaca dengan kejadian ini. Terlebih, peristiwa seperti ini juga tidak hanya sekali terjadi di Kota Jogja. Masa pandemi yang masih memberlakukan pembatasan massa dan kerumuan mesti jadi acuan oleh pengelola usaha.

"Harus bisa berkaca pada pelayanan yang lain yang baik harusnya ditiru, karena di masa pandemi ini kan tidak juga bisa antre banyak, karena ada pembatasan berkaitan dengan kerumuan massa, makanya baik dari pihak manajemen atau pelanggan dan ojol ya saling mengerti saja dengan suasana sekarang," kata Kapolsek.

Poin Kesepakatan

Sementara dalam surat pernyataan bersama yang diterima Harian Jogja, kedua belah pihak yakni antara manajemen Mie Gacoan Kotabaru dan pengemudi Ojol sepakat berdamai dan menghasilkan lima poin kesepakatan dalam surat tersebut. Surat pernyataan itu ditandatangani oleh pihak Mie Gacoan yang diwakili oleh tujuh karyawan dan juga pengemudi ojol dengan inisial WA, laki-laki 50 tahun.

Dalam surat kesepakatan, lima poin yang dihasilkan dalam mediasi itu adalah manajemen Mie Gacoan yang diwakili oleh tujuh karyawan meminta maaf kepada WA dan WA pun telah memaafkan manajemen atas insiden itu; pihak manajemen Mie Gacoan juga berjanji tidak akan mengulangi kembali insiden itu; pihak Mie Gacoan juga berjanji akan mengubah sistem layanan guna memudahkan para pengemudi ojol; kesepakatan itu juga dibuat atas kesadaran kedua belah pihak tanpa paksaan.

"Menyelesaikan perkara tersebut secara kekeluargaan dan musyawarah mufakat," demikian dikutip dari surat keterangan kesepakatan yang ditandatangani kedua belah pihak dan bermaterai.