Wisatawan Masuk Jogja Meningkat, Tetapi Belum Senormal Dulu

Wisatawan mengantre di Gate Zonasi Malioboro untuk cek suhu dan kode QR pada Minggu (27/12/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
14 November 2021 19:57 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Meski wisatawan yang memasuki Kota Jogja cenderung meningkat, jumlahnya belum senormal saat sebelum pandemi Covid-19. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Jogja, Wahyu Hendratmoko, sebelum pandemi jumlah bus pariwisata yang memasuki Jogja pada akhir pekan sekitar 250-300 unit.

Sedangkan dalam beberapa akhir pekan ini, rata-rata bus pariwisata yang masuk Jogja di bawah angka tersebut.

"Kalau akhir pekan di interval 200-300 bus, kondisi saat ini masih belum sampai ke angka itu. Kalau dibandingkan dengan sebelum pandemi Covid-19, [jumlah kunjungannya saat ini] belum [senormal dulu]," kata Wahyu, Jumat (12/11/2021).

Hal ini salah satunya dampak dari aturan di wilayah aglomerasi. Beberapa wilayah di sekitar Kota Jogja menerapkan pembatasan masuknya wisatawan. Namun jumlah ini bisa berubah seiring momen atau peraturan baru dari pemerintah terkait perjalanan antar kota.

Terlebih menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022, pemerintah mengimbau warga untuk tidak bepergian. Hal ini guna memutus rantai penularan Covid-19. Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan dalam rapat dengar pendapat menjelang libur Nataru, Pemerintah Kota Jogja mengusulkan penerapan one gate system di seluruh kota, terutama kota yang mengandalkan wisata. Hal ini untuk menjamin kesehatan masyarakat yang bepergian.

BACA JUGA: 950 Perenang Berpartisipasi dalam Wali Kota Cup Jogja 2021

Dalam penerapan one gate system di Jogja, sejauh ini dianggap berjalan cukup baik. "Kalau sejauh ini penerapannya masih baik. Dari ratusan bus yang masuk ke Terminal Giwangan, sudah terskrining dan lolos pengecekan bahwa wisatawan sudah divaksin," kata Heroe.

Meski mayoritas bus pariwisata lolos skrining, masih ada sekitar 28 bus yang tidak lolos dalam dua pekan terakhir. Hal ini karena mayoritas penumpang tidak bisa menunjukkan bukti vaksin minimal dosis pertama. "Ini untuk kebaikan bersama. Bahkan dari hasil one gate system ini kami usulkan ke Kementerian Perhubungan agar diaplikasikan di kota atau kabupaten lain," katanya.