Kebanyakan Siswa SD Terpapar Covid-19 di Kulonprogo karena Belum Divaksin

Ilustrasi. - ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
15 November 2021 18:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Kasus penularan Covid-19 di kalangan siswa sekolah dasar (SD) di Kulonprogo diduga kuat karena banyak siswa belum divaksin.

Dari total 18.000 siswa SD, total capaian angka vaksinasi Covid-19 baru mencapai empat persen atau sekitar 720 siswa, karena sejauh ini vaksinasi baru menyasar anak usia minimal 12 tahun,

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kulonprogo, Eko Teguh Santoso, mengatakan angka vaksinasi Covid-19 di kalangan siswa SD, khususnya siswa genap berusia 12 masih rendah dari targetnya yang sampai menyentuh angka belasan ribu siswa.

"Siswa yang terpapar Covid-19 didominasi oleh siswa yang usianya di bawah 12 tahun. Semua siswa yang dinyatakan positif Covid-19 masuk kategori orang tanpa gejala (OTG)," kata Eko saat dikonfirmasi pada Senin (15/11/2021).

lembaganya belum mengetahui kapan pelaksanaan vaksinasi Covid-19, khususnya kepada siswa di bawah usia 12 tahun dilaksanakan. Kendala wewenang penyelenggaraan vaksinasi Covid-19 menjadi alasan Eko tidak bisa membeberkan jadwal pelaksanaan vaksinasi Covid-19.

BACA JUGA: Petugas Kewalahan Batasi Pengunjung Malioboro, Personel Bakal Ditambah

"Kami saat ini masih fokus melakukan pendataan kepada siswa, khususnya yang berusia di bawah usia 12 tahun. Dengan adanya pemaparan kasus positif Covid-19 kami juga akan melakukan evaluasi penyelenggaraan pembelajaran tatap muka (PTM) di sejumlah sekolah," terang Eko.

Dikatakan Eko, berdasarkan pedoman yang dimiliki oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kulonprogo, jika penyebaran Covid-19 di sebuah sekolah sudah menyentuh angka lima persen, maka jawatannya meminta sekolah tersebut untuk melakukan kegiatan belajar dari rumah (BDR).

"Tetapi, kalau pemaparan Covid-19 itu mengelompok dan terjadj hanya di satu kelas maka yang melaksanakan BDR hanya kelas itu saja. Kalau itu kurang dari lima persen. Evaluasi ke depan, pertama kami akan meminta sekolah untuk mengurangi jumlah siswa yang masuk setiap waktu pembelajaran di satu kelas," kata Eko.

"SMP hanya 10 siswa, SD hanya tujuh siswa, TK hanya lima siswa. Untuk durasi jam kami serahkan ke sekolah masing-masing. Harapannya jeda antar sif tidak saling bertemu (siswa)," ungkap Eko.

Eko mengimbau agar orang tua siswa pro aktif dalam mengantisipasi terjadinya penularan Covid-19. Orang tua diharapkan mampu menerapkan protokol pencegahan penularan Covid-19 di rumah agar anak tidak terpapar Covid-19 saat di luar sekolah.

"Pertama, prokes harus diikuti. Kedua, harus jujur. Jika memang dirinya atau sang anak mempunyai gejala yang menunjukkan Covid-19 ya tidak usah dipaksakan untuk masuk ke sekolah. Semua kegiatan di sekolah masih menggunakan persetujuan dari orang tua," jelas Eko.

Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo, Baning Rahayujati, mengatakan pasca temuan kasus positif Covid-19 di sejumlah sekolah yang telah menggelar PTM, jawatannya telah meminta sejumlah sekolah untuk menghentikan sementara kegiatan PTM terhadap 12 sekolah dengan rincian 10 SD dan 2 SMA.

"Dari total 39 sekolah yang telah melewati swab PCR acak, diputuskan 18 sekolah terdiri dari SD sebanyak 13, SMP sebanyak tiga, dan SMA sebanyak dua bisa melanjutkan PTM karena temuannya sedikit. Sedangkan, enam sekolah kami minta untuk menghentikan PTM hanya untuk lingkup satu kelas terdiri dari tiga SD, dua SMP, dan satu SMA," terang Baning.

Lebih lanjut, untuk 12 sekolah yang diminta untuk menghentikan kegiatan PTM sementara seluruhnya terdiri dari 10 SD, SMP nihil, dan SMA sebanyak dua sekolah. Penghentian ini berlaku selama 15 hari, dan digantikan pembelajaran daring.

"Selain menyetop kegiatan PTM, Satgas juga melakukan tracing terhadap 61 kasus positif tersebut. Hasil sementara ada 250 kontak erat. Terhadap mereka telah dilakukan test antigen dengan hasil seluruhnya negatif," ungkap Baning.