Petugas Kewalahan Batasi Pengunjung Malioboro, Personel Bakal Ditambah

Suasana di Jalan Malioboro, Kota Jogja, Minggu (5/9/2021). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
15 November 2021 17:47 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Jogja menyatakan bakal menambah jumlah personel di Malioboro untuk memaksimalkan penerapan aplikasi Sugeng Rawuh sebagai skema pembatasan pengunjung di kawasan itu.

Akhir pekan lalu, UPT mengaku kewalahan dan penerapan belum berjalan maksimal karena masih ada pengunjung yang lolos dan enggan keluar saat durasi kunjungan telah habis.

"Nanti tentunya kami akan tambah personel untuk yang menjaga dan jangan sampai ada yang menerobos lagi, baik dari Dinas Perhubungan, Sat Pol, kepolisian atau linmas yang ada disana kami libatkan," kata Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Jogja, Ekwanto, Senin (15/11/2021).

BACA JUGA: Cek Besaran Kuota Internet Gratis Kemendikbud Tahap 3!

Ekwanto mengatakan, pada penerapan Sugeng Rawuh di akhir pekan lalu petugas cukup kesulitan karena membludaknya kunjungan wisatawan. Antrean pengunjung saat akan didata lewat Sugeng Rawuh disebut dia cukup panjang. Hanya saja, Ekwanto belum merinci berapa jumlah wisatawan yang berkunjung ke jantung Kota Jogja itu selama akhir pekan kemarin.

"Kewalahannya itu agak ramai dan panjang antreannya, sehingga kami minta bantuan kepolisian, limmas dan Satpol PP di sana," katanya.

Dijelaskan, meski masih dalam masa PPKM level 2 pengunjung di kawasan Malioboro telah ramai belakangan ini. Peningkatan mulai terasa sejak Sabtu sore lalu dan beranjak sampai Minggu. Kebanyakan pula para pengunjung berasal dari wisatawan luar kota yang berpelesir di Kota Jogja. Ekwanto menambahkan, Malioboro kerap jadi destinasi terakhir yang didatangi wisatawan saat telah berkeliling di objek wisata lain di DIY.

"Memang ada juga pengunjungnya yang menolak atau enggan mengisi formulir untuk pendataan, itu kan memang perlu edukasi lagi. Kita memang memaklumi karena kan mereka mungkin capek dan agak abai ya, faktornya karena Malioboro ini lokasi yang dikunjungi terakhir oleh wisatawan," ujarnya.

Padahal, pihaknya telah menempatkan petugas di semua pintu masuk utama kawasan Malioboro, tak terkecuali di sirip-sirip jalan. Hanya saja, dia mengakui bahwa penerapannya masih jauh dari maksimal. Petugas masih kurang, apalagi saat menghadapi wisatawan yang masuk secara rombongan. Satu atau dua pengunjung dipastikan lolos dari pendataan petugas. Terlebih lagi, durasi kunjungan selama dua jam dan parkir tiga jam tak juga diterapkan dengan ketat.

"Efektivitasnya memang agak terlalu susah ya, kita memang harus terus sampaikan, busnya yang mana dan tour leadernya yang mana, kadang ya mereka masih asik dengan belanja, jalan dan sebagainya," kata dia.

Pada penerapan Sugeng Rawuh, pengunjung yang masuk ke Malioboro nantinya akan dimintai nomor telepon okeh petugas. Nomor itu nantinya digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan pengunjung saat waktu kunjung telah mencapai dua jam. Hal ini dilakukan guna membatasi kunjungan di wilayah itu demi mencegah penyebaran Covid-19. Penggunaan layanan itu disebut dia juga telah melalui simulasi dan evaluasi demi membuat skema pengawasan yang simpel dan optimal.

"Kita sudah beri pemberitahuan kalau sudah hampir dua jam. Teknisnya mereka hanya isi nomor hp dan tidak lama memang dan simpel, karena jangan sampai terjadi penumpukan ya. Kalau rombongan memang ada kadang yang menerobos, misal satu atau dua karena keterbatasan petugas kami," ungkapnya.

Kasie Pengendalian Operasional Sat Pol PP Kota Jogja, Yudho Pamungkas mengatakan, pihaknya memang belum dilibatkan secara penuh dalam penerapan skema pembatasan melalui Sugeng Rawuh. Namun, pihaknya mengaku siap jika UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Jogja melibatkan petugas Sat Pol PP untuk ikut serta dalam mendata dan mengawasi jumlah kunjungan di Malioboro.

"Sampai sekarang kita tetap mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan di Malioboro. Protapnya masih sama, di akhir pekan kita juga patroli mobile," ucapnya.