Buruh Jogja Gelar Mimbar Bebas, Desak Kebutuhan Hidup Layak Jadi Acuan Upah 2022

Foto ilustrasi. - Bisnis Indonesia/Rahmatullah
24 November 2021 19:47 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) DIY gabungan sejumlah serikat buruh mengadakan mimbar bebas pekerja di kawasan Titik Nol KM pada Rabu (24/11/2021).

Dalam kesempatan itu, pekerja menyerukan sejumlah tuntutan diantaranya penetapan upah minimum sektoral di DIY dan menetapkan upah minimum Kabupaten/Kota (UMK) berdasarkan survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang telah dilakukan pekerja.

Perwakilan MPBI DIY, Irsyad Ade Irawan mengatakan, penetapan upah minimum provinsi (UMP) dan UMK untuk tahun 2022 tidak memberikan angin segar bagi pemulihan ekonomi pekerja/buruh. Kondisi upah tetap murah meski menggunakan formula pengupahan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) 36/2021 yang merupakan turunan dari Undang-undang (UU) Ciptaker No. 11/2020.

Menurut dia, buruh masih mengalami defisit ekonomi jika penetapan upah mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan beberapa waktu lalu yakni naik sebesar Rp75.915,53 sehingga menjadi Rp1.840.915,57. Kondisi UMP itu naik sebesar 4,30 persen dibanding UMP tahun 2021. Jika dibandingkan dengan survei KHL pihaknya, buruh masih mengalami defisit ekonomi antara Rp800 ribu-Rp1 juta di sejumlah kabupaten/kota di DIY.

BACA JUGA: Fadli Zon "Hilang", Fahri Hamzah Minta Bantuan Anies Baswedan

Berdasarkan survei KHL pekerja DIY per Oktober 2021, besaran angka KHL pekerja buruh pada lima kabupaten/kota adalah sebesar Rp3.067.048 untuk Kota Jogja; Sleman Rp3.031.576; Bantul sebesar Rp3.030.625; Kulon Progo Rp2.908.031; dan Gunung Kidul sebesar Rp2.758.281. Sementara, ketetapan upah 2022 yang dikeluarkan Gubernur DIY untuk wilayah di atas masing-masing sebesar Rp.2.153.970 (Kota Jogja); Rp2.001.000 (Sleman); Rp1.916.848 (Bantul); Rp1.904.275 (Kulonprogo); dan Rp1.900.000 (Gunung Kidul).

"Dilihat dari upah yang ditetapkan untuk tahun 2022 dan memperhatikan kembali angka kebutuhan hidup layak pekerja di lima kabupaten/kota di wilayah DIY, menunjukkan angka defisit pendapatan yang cukup besar. Kenaikan upah lima persen yang ditetapkan Gubernur DIY masih jauh dari harapan buruh," ungkapnya.

Irsyad berpendapat, kenaikan upah yang tidak signifikan mendongkrak kesejahteraan buruh ini seharusnya dicarikan alternatifnya oleh pemerintah DIY. Terlebih, DIY punya Dana Keistimewaann yang seharusnya mampu memiliki formula khusus dalam meningkatkan kesejahteraan buruh. PP 36/2021 juga tidak layak dipatuhi sebagai penetapan upah buruh karena mengurangi peran Dewan Pengupahan tingkat I, II dan III.

"Karena sekedar berdasarkan atas kondisi ekonomi dan ketenagakerjaan. Sehingga aspirasi pekerja buruh terancam kehilangan tempat," ujarnya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Jogja, Krisnadi Setyawan mengungkapkan, keputusan Gubernur DIY terkait dengan kenaikan UMP 2022 yang jauh dari KHL harus diikuti tanggung jawab Pemda DIY maupun kabupaten/kota untuk mendata dan memfasilitasi pekerja penerima upah minimum masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

"Untuk memastikan pekerja tidak kehilangan haknya sebagai warga negara dan bukti pemerintah hadir mengentaskan rakyatnya dari kemiskinan," katanya.

Menurutnya, dalam Peraturan Menteri Sosial 3/2021 disebutkan bahwa orang tidak mampu adalah orang yang mempunyai sumber mata pencaharian, gaji atau upah yang hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar yang layak, sehingga sudah jelas bahwa pekerja penerima upah minimum adalah orang tidak mampu. Terfasilitasinya pekerja penerima upah minimum akan memberi kesempatan untuk bisa mendapatkan berbagai bantuan dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota.

"Kehadiran pemerintah tidak saja membantu pekerja namun juga membantu pengusaha sekaligus yang memang terbukti menghadapi situasi ekonomi yang sulit. Pendataan DTKS pekerja penerima upah harus dilaksanakan secara khusus dan menjadi masukan dalam pengambilan kebijakan demi kesejahteraan rakyat," ujarnya.