20 Siswa SMA/SMK di Sleman Positif Covid-19, PTM 4 Sekolah Dihentikan

Ilustrasi. - ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
25 November 2021 20:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Sebanyak 20 siswa SMA/SMK di empat kapanewon wilayah Sleman terpapar Covid-19. Untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini, pemerintah mengalihkan proses pembelaran luring ke daring di empat sekolah SMA/SMK.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Cahya Purnama mengatakan penemuan 20 kasus tersebut dihasilkan dari sampling (tes swab acak) yang dilakukan oleh Dinkes. Dinkes melanjutkan tracing kepada kontak erat (KE) pada Rabu (24/11/2021). Dari hasil tracing KE, terdapat penambahan 20 kasus lagi. "Hasil tracing dari random sampling PCR di SLTA 24 November kemarin, ditemukan 20 kasus tambahan," kata Cahya, Kamis (25/11).

Temuan kasus paling banyak terdapat di SMKN 1 Tempel sebanyak 14 kasus, SMAN 1 Cangkringan, SMAN 1 Seyegan dan SMAN 1 Pakem masing-masing dua kasus. "Kami sudah berkoordinasi dengan Balai Dikmen dan Puskesmas wilayah untuk segera tracing di lingkungan dan mengarahkan ke isoter," ujar Cahya.

BACA JUGA: Corona di Jogja Hari Ini Meroket Lagi, Tertinggi se-Indonesia

Menurut Cahya, banyaknya siswa SMA/SMK yang terpapar Covid-19 ini tidak terlepas dari tingginya mobilitas mereka. Pasalnya siswa-siswa SMA/SMK ini sudah lebih mandiri sehingga aktivitas untuk berkumpul dan berkerumun juga tinggi. "Kondisi berbeda dengan siswa SD dan SMP yang mana mau ke sekolah harus diantar jemput. Jadi memantaunya lebih mudah," katanya.

Oleh karenanya, ia meminta agar seluruh masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan 5 M meliputi memakai masker, mencuci tangan pakai sabun / hand sanitizer, menjaga jarak, mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan. "Apalagi setelah divaksin status mereka yang terpapar Covid-19 menjadi orang tanpa gejala (OTG)," katanya.

Kepala Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Sleman Priyo Santoso mengatakan sekolah yang siswanya ditemukan kasus Covid-19 untuk sementara meniadakan kegiatan luring (PTM). Sebagai gantinya, siswa tetap bersekolah dengan metode daring. "Kegiatan luring bisa dilakukan kembali setelah masa inkubasi virus selesai dalam waktu 14 hari ke depan," kata Priyo.

Priyo mengatakan kasus tersebut bermula saat tes acak yang dilakukan di sejumlah SMA/SMK di Sleman. Sampel siswa diambil di setiap kapanewon. Di Tempel ditemukan 14 kasus, Cangkringan 2 kasus, Kalasan 1 kasus, Pakem 2 kasus, dan Seyegan 2 kasus. "Ada juga di SMA Insan Cendekia Turi, hasilnya belum kami terima," katanya.

Dikmen, katanya, sudah melakukan koordinasi dengan sekolah dan Dinkes Sleman. Hasilnya sekolah tidak libur tetapi digelar secara daring. "Proses pembelajarannya kan tinggal beberapa hari lagi. Terutama di Tempel itu, ada ujian kompetensi masih kurang tiga hari. Kami tunda ujiannya setelah PTAS. Begitu juga dengan sekolah lainnya (yang terpapar Covid-19)," katanya.

Priyo mengatakan, kasus di Seyegan ada 1 kasus siswa yang awalnya ditemukan positif. Siswa tersebut sudah seminggu tidak mengikuti pembelajaran. Setelah ditracing, dua siswa lainnya dinyatakan positif Covid-19. "Jadi penularannya juga tidak tahu dari mana. Yang jelas tracing dilakukan tidak hanya kepada siswa tetapi juga kepada keluarganya," katanya.

Sejatinya, kata Priyo, proses pembelajaran tatap muka tidak harus menunggu masa inkubasi selama 14 hari. Hanya saja kebijakan Dinkes Sleman meminta agar sekolah tetap ditutup selama 14 hari untuk mencegah penularan dan menfokuskan tracing. "Kalau dari sisi pendidikan ya sebenarnya kasihan anak-anak kalau kelamaan tidak sekolah. Tetapi kami ikuti aturan di Sleman dengan mengubah metode pembelajaran daring," ujarnya.