Harga Mulai Naik, Petani Cabai Waspadai Patek

Seorang petani di Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Bantul, menunjukkan tanaman cabai miliknya yang mengering akibat serangan penyakit patek, Selasa (28/1/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
26 November 2021 08:07 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Harga cabai di tingkat petani mulai merangkak naik setelah beberapa bulan terakhir anjlok akibat minimnya serapan produksi cabai selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Kini, petani mewaspadai patek yang menyerang kala musim hujan.

Salah satu petani cabai di Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Suharno, menjelaskan saat ini harga cabai rawit dengan kualitas bagus di tingkat petani sebesar Rp20.000-Rp22.000. “Rawit yang Ori. Kalau yang nggak bagus di bawahnya selisih Rp3.000,” ujarnya.

Sedangkan untuk harga cabai keriting saat ini selisihnya juga tidak jauh dari cabai rawit, yakni di kisaran Rp18.000-Rp20.000 untuk yang kualitas bagus. Selisihnya tidak jauh, bahkan beberapa waktu sebelumnya sempat lebih tinggi harga cabai keriting dibanding cabai rawit.

Pada saat anjlok, ia mengungkapkan harga cabai rawit di tempatnya, yakni di tempat lelang Kelompok Tani Taruna Bumi, hanya di kisaran Rp15.000. hal ini terjadi lantaran tidak maksimalnya serapan cabai oleh masyarakat sepanjang masa PPKM.

Baca juga: Corona di Jogja Hari Ini Meroket Lagi, Tertinggi se-Indonesia

Meski telah merangkak naik, para petani cabai saat ini tetap waspada karena telah memasuki musim penghujan. Di musim ini, tanaman cabai rawan terserang penyakit patek yang membuatnya membusuk. “Karena pengaruh musim hujan,” ungkapnya.

Untuk mengatasi patek, Suharno dan petani lainnya kini telah memiliki obat yang dapat mengeringkan penyakit tersebut sehingga tidak menyebar ke tanaman cabai di sekitarnya. “Tetap kena tapi kering, nggak menular. Kemaren banyak yang kena. Sekarang juga masih banyak,” katanya.

Sebelumnya, Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Supramono, mengatakan dalam menghadapi musim penghujan, penggunaan agensia hayati Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan Trichoderma untuk memperkuat ketahanan tanaman dari serangan penyakit wajib digunakan sejak awal budidaya.

“Penyemprotan dengan fungisida berperekat, perata dan penembus untuk pengendalian berkembangnya jamur, karena air akan menyebabkan kelembaban tinggi yang memacu perkembangan jamur,” ujarnya.