Victory Plus, Rumah Penyintas HIV dan AIDS

Samuel Rachmat Subekti saat ditemui di kantornya di Caturtunggal, Depok, Sleman, Selasa (30/11/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
01 Desember 2021 09:17 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Victory Plus Jogja, yayasan yang mendampingi para penyintas HIV dan AIDS telah mendampingi hampir 5.000 penyintas. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sirojul Khafid.

Semua bermula pada 2000. Samuel Rachmat Subekti bersama enam teman gereja lainnya membuat panti rehabilitasi bagi pecandu narkoba.

Selang empat tahun berjalan, mereka tidak hanya mendampingi pecandu narkoba, adapula penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang masuk.

Para pecandu dan penderita HIV yang sudah menjalani masa rehabilitasi tidak pulang ke tempat masing-masing. Keluarga pasien menitipkan pada Samuel dan rekan-rekannya.

Para penyintas kemudian melanjutkan kegiatan seperti semula. Ada yang kuliah sampai bekerja. Pada 2004 itu, Samuel bersama rekannya mendirikan komunitas Victory Plus. Komunitas ini sebagai ruang untuk mendampingi para penyintas narkoba dan HIV serta AIDS setelah selesai menjalani rehabilitasi.

“Kondisi waktu itu, ada teman, keluarga, dan sebagainya yang memerlukan bantuan. Sehingga terwujudlah ruang dukungan sosial ini. Ayo kita bikin. Tahun 2004 di DIY belum ada. Pernah ada, tapi bubar,” kata Samuel saat ditemui di kantornya di Caturtunggal, Depok, Sleman, Selasa (30/11/2021).

“Kemudian berkembang menjadi sembilan komunitas. Selanjutnya Victory Plus menjadi yayasan.”

Para penyintas yang didampingi juga semakin beragam. Dari yang sebelumnya hanya laki-laki, seiring waktu bertambah mulai dari waria, pekerja seks, pecandu perempuan, dan sebagainya. Hingga saat ini, hampir 5.000 penyintas HIV yang telah didampingi Victory Plus. Sementara untuk total penyintas di DIY sekitar 6.000 orang.

Pada dasarnya, Victory Plus memberikan pendampingan saat layanan kesehatan tidak bisa memberikan. Saat penyintas menjalani rawat inap atau jalan, ada dukungan berupa konseling dan sebagainya. Terutama saat penyintas baru saja tahu statusnya positif HIV.

“Saat ada yang positif HIV, dari RS dirujuk ke kami. Staf dalam program Kelompok Dukungan Sebaya akan memberikan pemahaman dan edukasi. Staf itu juga penyintas HIV,” kata Samuel yang merupakan Direktur Victory Plus Jogja. “Orang-orang yang tahu statusnya HIV ada yang bisa menerima hasil, terus bingung apa yang harus dilakukan. Ada pula yang belum bisa menerima statusnya,” ujarnya.

Dalam kondisi ini, anggota Victory Plus berupaya memberikan kepercayaan diri pada penyintas, termasuk upaya membuka status itu pada orang yang hidup bersamanya. Orang ini bisa pasangan, keluarga, atau layanan kesehatan yang memberikan pengobatan pada HIV. Pada tahap ini, penerimaan orang bisa berbeda-beda. Ada yang cepat menyesuaikan diri, ada pula yang butuh berbulan-bulan.

Tahap selanjutnya, penyintas akan mendapat informasi layanan yang bisa memberi dukungan. Hal ini bisa berupaya layanan kesehatan yang menyediakan obat atau lainnya. Langkah selanjutnya menanamkan komitmen untuk tidak menularkan HIV pada orang lain.

Adapula tahap memberikan kondom gratis sebagai upaya pencegahan penularan saat berhubungan badan. Bagi penularan melalui suntikan obat-obatan terlarang, akan didorong agar rehabilitasi ke RS yang menyediakan jarum suntik steril.

“Atau misal tetap mau menggunakan narkoba, bisa ke puskesmas yang menyediakan narkoba cair, agar tidak menularkan orang lain, diminum di puskesmas. Nanti ada pendampingan dari dokter sampai bisa lepas. Semua berproses, meski yang seperti itu sudah jarang,” kata pria berusia 57 tahun itu.

Untuk kasus-kasus baru di DIY, kebanyakan terdeteksi akibat hubungan seks berisiko. Setelah semua proses itu, tahap pendampingan selanjutnya berupa pengubahan perilaku. Penyintas yang berperilaku merugikan diri sendiri dan orang lain, akan didorong mengubah perilaku menjadi lebih positif.

Dampak Pandemi

Sama halnya dengan masyarakat umum, pandemi Covid-19 juga berdampak pada penyintas HIV. Ada yang kehilangan pekerjaan atau pendapatannya menurun. Sejumlah penyintas HIV juga ada yang positif Covid-19. Selama penyintas menjalani pengobatan secara rutin, dampak Covid-19 sama dengan orang kebanyakan. Namun apabila pengobatannya tidak rutin, risiko dari Covid-19 juga besar.

Tidak ada program khusus bagi penyintas yang terdampak Covid-19. Namun saat ada bantuan dari Pemerintah Pusat maupun daerah, Victory Plus membantu menyalurkannya. Terakhir, ada bantuan uang untuk membeli bahan makanan pokok sehari-hari.

Pola pendampingan juga lebih banyak dilakukan secara daring. Termasuk dalam distribusi obat. Dari yang awalnya bisa kontrol secara luring ke layanan kesehatan, saat kasus Covid-19 sedang tinggi, kontrol tidak bisa dilakukan. “Memang setiap pasien HIV sebulan sekali perlu kontrol, konsumsi obatnya seumur hidup,” kata Samuel. “Saat mereka tidak bisa mengakses layanan kesehatan, staf kami yang membantu mendistribusikan obat-obatan.”

Kendala datang saat penyintas merupakan pendatang dan mereka pulang ke kampung halaman. Tidak semua orang mau menerima obat HIV-nya. “Sebagian tidak mau dikirim obatnya, takut ketahuan keluarga, karena dia belum terbuka,” jelasnya.

Pemahaman Keliru

Meski HIV bukan penyakit baru dan sudah tersedia banyak informasi di Internet, masih saja ada pemahaman yang keliru. Pemahaman ini terutama terkait dengan penularan HIV. Masih ada yang menganggap HIV bisa menular selain dari cairan kelamin, darah, dan air susu ibu pada anaknya. Masih ada yang ketakutan bahkan mengucilkan penyintas HIV. “Dari tahun ke tahun seperti itu. Bahkan di kampung, pernah ada penyintas HIV yang meninggal kemudian tidak dilayati,” kata Samuel.

Pemahaman keliru juga kadang terjadi pada penyintas. Ada yang menganggap pengobatan tidak perlu lantaran merasa sehat. Padahal ada potensi peningkatan jumlah virus dan berdampak pada waktu kematian. Atau penyintas berobat tetapi efek sampingnya merasa sakit.

Dari hal-hal itu, Victory Plus juga berupaya mengontrol pengobatan setiap penyintas. Apabila ada yang tidak berobat sama sekali atau berhenti di tengah jalan, mereka mendatangi tempat tinggal penyintas. “Kalau tidak ditolong, cepat atau lambat akan meninggal. Selama masih hidup juga berpotensi jadi agen penularan. Apabila menjalani pengobatan, risiko menularkannya sedikit, kalau tidak menjalani pengobatan, virusnya bertambah terus,” kata Samuel.

Samuel menganjurkan para penyintas HIV berobat sedini mungkin dan konsisten. Selain agar bisa menjalani aktivitas sehari-hari, upaya ini agar tidak menulari orang lain. “Yang sudah pernah pengobatan tetapi memutuskan berhenti, jangan berlama-lama, segera hubungi kami untuk memulai lagi pengobatannya. Banyak varian obat untuk pengobatan HIV yang efek sampingnya lebih sedikit dibanding jenis lama,” katanya.