Produksi Emas Hijau Pegunungan Menoreh Terus Digenjot

Anggota Kelompok Tani Ayem, Kalurahan Pagerharjo, Samigaluh, Surasa (kiri), saat menjelaskan proses pengembangbiakan tanaman vanili, Rabu (8/12/2021). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
09 Desember 2021 09:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo terus berupaya menggenjot potensi produksi vanili yang banyak dibudidayakan di Pegunungan Menoreh. Komoditas yang disebut emas hijau ini mempunyai nilai jual yang tinggi sehingga diharapkan mampu mendongkrak perekonomian petani.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Muhammad Aris Nugroho mengatakan pengembangan komoditas vanili rencananya dilaksanakan 2022. Konsep pengembangan komoditas yang sangat diminati pasar domestik dan luar negeri ini yakni agro eduwisata.

BACA JUGA: Banyak Bus Pariwisata Tak Lewat Terminal Giwangan, Kota Jogja Akan Memaksimalkan Pengawasan dengan CCTV

"Tahap pertama kami memulai sosialisasi. Kami ingin vanili menjadi emas hijau di Kulonprogo. Kontur tanah di kawasan Menoreh sangat cocok untuk menanam vanili," kata Aris, Rabu (8/12/2021).

Menurut Aris, agro eduwisata vanili di Kulonprogo merupakan konsep yang saat ini disiapkan. Nantinya, warga maupun wisatawan yang datang mampu mengetahui tanaman vanili mulai dari penanaman sampai produk siap jual.

"Lahan tanaman vanili di DIY sekitar 14 hektare. Selain di Kulonprogo, vanili juga ditanam di Sleman. Di Kulonprogo lahan yang bisa dimanfaatkan ada di Samigaluh, Kokap, Girimulyo, dan Kalibawang dengan total luas lahan mencapai sembilan hektare," kata Aris.

Komoditas vanili sebenarnya termasuk dalam komoditas yang bisa menghasilkan cuan bagi petani dalam jumlah yang cukup besar. Berdasarkan catatan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, vanili basah di pasaran harganya mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram.

"Harga vanili basah di pasaran mencapai Rp200.000 sampai Rp500.000 per kilogram. Jika diolah harganya bisa menyentuh Rp2 juta. Bagaimana meningkatkan pendapatan petani vanili yang mempunyai komoditas bernilai ekonomis tinggi itu, saat ini masih menjadi pekerjaan kami. Agro climate di Kulonprogo cocok untuk budi daya vanili," kata Aris.

BACA JUGA: Kabar Baik, Herd Immunity dari Covid-19 Sudah Terbentuk di DIY

Kepala Diskominfo Kulonprogo Agung Kurniawan mengatakan vanili di Kulonprogo termasuk komoditas unggulan yang harus diberikan panggung agar pasar bisa mengenali vanili Kulonprogo secara lebih luas. "Terkait dengan pemasaran vanili juga menjadi hal yang tidak luput dari perhatian, terutama agar jangkauan pemasaran produk vanili tidak hanya sampai di dalam negeri. Pasar negara lain diharapkan tertarik dengan komoditas unggulan Kulonprogo ini," kata Agung.

Surasa, 59, anggota Kelompok Tani Ayem, Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, mengatakan tanaman vanili baru bisa dipanen setelah berumur sekitar satu sampai dua tahun. Harga komoditas ini diklaim sangat bagus. "Untuk satu kilogram vanili basah saya mendapatkan harga Rp325.000. Budi daya vanili cukup menjanjikan namun membutuhkan ketelitian," kata Surasa.