Budi Daya Maggot Bisa Atasi Masalah Sampah

Sejumlah armada pengangkut sampah lalu lalang di sekitar TPST Piyungan, Rabu (23/12/2020). Setelah ditutup warga beberapa hari terakhir, kini TPST Piyungan dibuka kembali. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
11 Desember 2021 15:07 WIB M Faisal Nur Ikhsan Jogja Share :

Harianjogja.com, SEMARANGBudi daya maggot atau belatung dari lalat jenis Black Soldier Fly bisa menjadi solusi persoalan sampah. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Muhammad Faisal Nur Ikhsan.

Arif Jatmiko bersama tujuh kawannya boleh dibilang merupakan pelopor budi daya maggot atau belatung dari lalat jenis Black Soldier Fly (BSF) di Jawa Tengah. Miko, sapaan akrabnya, telah mengenal maggot dari 2008.

Meskipun demikian, proses budi daya secara serius baru mulai dilakukan pada 2017. Miko secara khusus bertugas untuk mengawasi proses budi daya maggot. Sementara itu, urusan kerja sama dan pemasaran ditangani langsung oleh Yeka Johar, salah seorang kawannya. Keduanya pun bergabung dalam komunitas BSF Indonesia Raya sembari mendirikan cabang di Kota Salatiga.

Miko mengelola 100 meter persegi lahan budi daya maggot. Dalam sehari, kapasitas produksinya bisa mencapai 10 kg maggot segar. “Untuk bibit yang dibutuhkan sebetulnya tidak terlalu banyak. Untuk satu meterpersegi, kami paling butuh 5 gram telur. Nanti hasilnya bisa 10 kg. Semisal tidak dipanen, nanti maggot ini akan jadi pupa, akan bertambah terus,” katanya saat ditemui Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, beberapa waktu lalu.

Pembibitan sendiri bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan mencari lalat BSF di alam bebas. Lalat bisa ditangkap menggunakan jaring sederhana, setelah itu dirawat sampai menetaskan telur. Cara kedua adalah dengan membeli bibit langsung ke pembudidaya lain. “Bisa dari telur, pre-pupa, fresh maggot juga bisa. Tetapi untuk mempercepat siklus, akan lebih baik membeli pra-pupa dan telurnya,” jelas Miko.

Seperti belatung pada umumnya, maggot dari lalat BSF hidup dengan mengonsumsi sampah organik. Miko mengungkapkan untuk mencapai hasil yang optimal, kebutuhan sampah untuk pakan maggot bisa mencapai 1:4. Artinya, untuk 1 kg maggot, diperlukan kurang lebih 4 kg sampah organik. Angka tersebut tentunya bisa berubah sesuai kondisi yang dihadapi. Jika pembudidaya ingin meraih hasil lebih baik, asupan pakan bisa ditingkatkan. Begitu pula sebaliknya. “Minimalnya itu 1:1, jadi setiap 1 kg maggot perlu 1 kg sampah. Itu agar tetap hidup saja,” jelas Miko.

Sampah organik yang tersedia bisa langsung dijadikan pakan maggot tanpa melalui proses pengolahan. Meskipun demikian, untuk mempercepat proses metabolisme, sampah organik bisa dicacah terlebih dahulu hingga berbentuk bubur. Proses penyacahan juga membantu pembudidaya dalam memberikan pakan. Pasalnya, pakan bisa disebarkan secara lebih merata ke setiap kolam penampungan maggot.

Miko telah memiliki kerja sama dengan pasar-pasar tradisional hingga restoran di Kota Salatiga untuk mengolah sampah organik. Karena itu, pasokan pakan sebetulnya tak jadi soal. Meskipun belakangan hari pasokan sampah organik harus terhenti akibat menurunnya kunjungan serta aktivitas masyarakat baik di restoran ataupun di pasar tradisional.

Tentunya, sampah-sampah organik tersebut bakal mengeluarkan bau yang kurang sedap. Terkait dengan hal itu, Miko dan kawan-kawannya telah mengembangkan metode pengolahan sampah agar bisa mengurangi bau tersebut. “Sampah organik yang masuk sebetulnya bisa langsung kami gunakan. Tetapi bisa juga kami simpan dan silase selama sehari. Itu untuk mengurangi bau, juga untuk meningkatkan nafsu makan si maggot-nya,” jelas pria tersebut.

Tingginya kebutuhan sampah organik bagi usaha budi daya maggot menjadikannya salah satu solusi alternatif bagi persoalan sampah, khususnya di Jawa Tengah. Pasalnya, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, sepanjang 2020 Jawa Tengah memiliki total timbunan sampah hingga 4 juta ton. Dari data tersebut, jumlah timbunan sampah hariannya mencapai 12.668,48 ton.

Jika dilihat dari sumbernya, sampah-sampah di Jawa Tengah utamanya berasal dari sisa konsumsi rumah tangga. Persentasenya mencapai 32,64% dari total keseluruhan timbunan sampah. Sementara itu, jika dilihat dari jenisnya, 41,33% sampah di Jawa Tengah merupakan sisa makanan yang bisa diolah kembali menjadi pakan maggot.

Yeka Johar menyebut persoalan tersebut mendorongnya dan kawan-kawan di BSF Indonesia Raya untuk mempopulerkan budi daya maggot di masyarakat. “Kami ambil dari bawah dulu. Bagaimana sampah dari masyarakat ini tidak perlu berakhir di Tempat Pembuangan Akhir [TPA]. Pemungut sampah juga kita bantu bagaimana supaya mereka hanya menerima plastik, supaya tidak perlu memilah sampah lagi,” jelasnya.

Peluang usaha dari budi daya maggot tersebut juga cukup menjanjikan. Harga maggot yang telah dikeringkan bisa mencapai Rp5.000-Rp7.000 per kilogram. Sedangkan biaya operasionalnya, menurut Yeka, ditaksir sekitar Rp2.000-3.000 per kilogram maggot. Meskipun demikian, untuk memulai bisnis tersebut, diperlukan modal dan investasi yang lumayan. “Di luar lahan saja total bisa Rp25 juta-Rp30 juta. Kami perlu chopper untuk mengolah pakan, greenhouse, bio-pond, juga insektariumnya. Itu full menggunakan plastik UV semua, sama jaring serangga,” jelas  Yeka Johar.

Menurut hitung-hitungan Yeka, keuntungan bersih yang bisa dinikmati pembudidaya maggot berkisar di angka Rp3 juta-Rp4 juta per bulannya. Dengan syarat, maggot yang dijual sudah diolah kembali. Yeka menyangsikan peluang Break Even Point (BEP) dari menjual produk maggot dalam bentuk hidup. Pasalnya, di pasaran dalam negeri sendiri harganya masih terlalu rendah.

Meskipun menjanjikan secara ekonomis, Yeka tak menyarankan pembudidayaan maggot secara independen. Dalam artinya, pembudidayaan maggot akan jauh memberikan manfaat apabila dilakukan bersamaan dengan usaha peternakan ataupun perikanan.

“Keuntungannya sebenarnya ada di situ. Maggot sebagai substitusi pakan pabrikan bagi peternak ayam dan ikan. Katakanlah peternak hanya menggunakan 60 persen pakan pabrik, sisanya maggot. Ini akan jauh lebih untung, karena ada margin dari sumber pakan. Syaratnya itu tadi, maggot-nya harus dikembangkan sendiri,” jelas  Yeka Johar.

Yeka Johar telah membayangkan sistem peternakan terintegrasi tersebut sejak awal memperkenalkan budi daya maggot ke masyarakat. Maggot tak hanya bisa dijadikan sumber pakan ternak, tapi juga bisa diolah menjadi pupuk, pestisida. Bahkan, di negara-negara di Eropa, maggot kering telah banyak digunakan sebagai bahan pembuat sereal.

“Dengan sistem yang terkoneksi semua, peternakan dan budi daya maggot, ini akan sangat menguntungkan. Dalam satu wilayah, rencana kami, ada ternak maggot, ternak ayam, dan pertanian. Ini semisal bisa terkoneksi maka akan saling menguntungkan,” jelas Yeka Johar.

Keberhasilan Yeka dan Miko dalam membudidayakan maggot dari lalat BSF tersebut kini telah membuahkan hasil. Setidaknya, BSF Indonesia Raya telah berhasil memperkenalkan peluang budidaya belatung tersebut kepada dinas-dinas di tingkat kabupaten kota di Jawa Tengah. “Juga di Bali, di Denpasar mereka sedang memulai juga. Memang kebanyakan dari Dinas Lingkungan Hidup,” ucap  Yeka Johar.

Sumber : JIBI/Bisnis.com