Advertisement

Langenastran Jadi Kampung Digital, Belanja Tak Boleh Pakai Uang Tunai

Jumali
Senin, 20 Desember 2021 - 05:37 WIB
Budi Cahyana
Langenastran Jadi Kampung Digital, Belanja Tak Boleh Pakai Uang Tunai Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti bersama Direktur Utama BPD DIY Santoso Rohmad menyambangi salah satu pedagang di kampung digital Langenastran, Sabtu (18/12/2021) malam. - Harian Jogja/Jumali

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kampung Langenastran Kota Jogja mendeklarasikan diri menjadi kampung digital. Pasar sore di wilayah tersebut pun menerapkan pembayaran digital di setiap transaksinya. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Jumali.

Jalan Langenastran Kidul yang berada di sebelah barat Alun-Alun Selatan Jogja itu dipenuhi deretan pedagang makanan, mulai dari cilok hingga sosis bakar, Sabtu (18/12/2021) petang.

BACA JUGA: Hanyut di Lautan, Alat Pendeteksi Cuaca Ditemukan Nelayan

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

Selayaknya pasar sore, para pedagang tersebut berjualan di tenda-tenda yang dipasang di sepanjang pinggir jalan. Namun, pasar sore di Langenastran ini berbeda dibandingkan dengan daerah lain. Sebab, pengunjung tidak akan bisa membeli makanan yang dijual dengan menggunakan uang tunai. 

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti, awalnya membeli sejumlah makanan seperti sosis bakar, dan membayarnya dengan uang tunai. Namun, pembayaran itu ditolak oleh penjual. "Ternyata tidak boleh pakai uang tunai. Semua harus membayar dengan cashless," kata Haryadi.

Alhasil, Haryadi pun harus membayar makanan yang dibelinya dengan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). QRIS adalah standardisasi pembayaran menggunakan metode QR Code dari Bank Indonesia agar proses transaksi dengan QR Code menjadi lebih mudah, cepat, dan terjaga. Pembeli tinggal belanja di gerai penjual. Nantinya merchant penjual tinggal menginformasikan mengenai berapa yang harus dibayarkan oleh pembeli.

Pembeli tinggal membuka aplikasi uang/dompet digital lalu memindai kode QR dan mengisi angka yang ditagihkan dan klik bayar.

 "Cukup mudah. Dan ini bagus, jika dulu bisa manual, sekarang bawa saldo dapat barang. Ini telah mengikuti perkembangan zaman. Di mana ada perubahan sangat cepat dan luar biasa," kata Haryadi.

Pembayaran cashless yang diterapkan pedagang pasar sore Langenastran itu tidak tiba-tiba. Sejak sepakat menjadikan kampung budaya ini sebagai kampung digital, butuh waktu cukup panjang meyakinkan para pedagang agar mau beralih metode pembayaran digital.

Advertisement

"Ya, sekitar tiga bulan. Kami dibantu petugas dari Bank BPD DIY mendekati dan mengedukasi kepada para pedagang agar mau beralih dari metode pembayaran tunai ke digital," kata ketua kelompok pedagang sore Langenastran, Ardianto Setiajati.

Awalnya, banyak pedagang menolak. Namun dalam perkembangannya ada 50 pedagang mau menggunakan pembayaran digital. Alasannya, pembayaran digital sejalan dengan pewujudan Langenastran sebagai kampung digital.

"Mereka yang awalnya menolak itu karena gagap teknologi. Tapi setelah diedukasi, mereka mau memakai transaksi digital," ungkap Ardianto.

Advertisement

Bahkan, sejak menggunakan pembayaran digital, ada peningkatan omzet penjualan dari para pedagang. Sebab, banyak pengunjung yang rata-rata berusia muda, lebih senang membayar secara nontunai. "Bisa sampai 50 persen kenaikannya. Sementara kampung digital di sini lebih kepada semua transaksi dilakukan secara online. Tetapi, bertahap kami ingin mewujudkan kampung digital di segala aspek," kata Ardianto.

Ketua Kampung Langenastran, Panembahan, Kraton, Kota Jogja, Sunu Raharjo, mengungkapkan wilayahnya memiliki banyak potensi yang bisa dijual. Tak hanya sisi sejarah, dan pariwisata, banyak hal bisa dieksplorasi dari wilayahnya. "Kami akan kembangkan potensi kampung jadi unggulan dan mengembangkan ekonomi kreatif. Agar bisa memberi nilai bagi kampung," katanya.

Direktur Utama BPD DIY Santoso Rohmad mengatakan keberadaan kampung digital Langenastran tidak lepas dari kerja sama sejumlah pihak. Selain Bank BPD DIY dan warga kampung Langenastran, terwujudnya kampung digital juga melibatkan Bank Indonesia (BI)  dan Otoritas Jasa dan Keuangan (OJK). "BI menyediakan infrastruktur, OJK mendorong kami melakukan pemberdayaan ekonomi," katanya

BACA JUGA: Manajemen PSS Sleman Ungkap Alasan Pemecatan Dejan Antonic

Advertisement

Santoso menyebut bank milik daerah itu telah cukup lama mengedukasi pembayaran digital kepada warga Langenastran. Tak sampai di situ, BPD DIY juga telah membukakan agen bank kepada para pedagang. Harapannya, melalui agen bank ini, akan mempermudah pembuatan ATM dan rekening. "Sehingga akses bank akan lebih mudah. Baik dalam transaksi maupun penjelasan kredit bank kepada masyarakat," jelasnya.

Tak hanya itu, langkah BPD DIY menciptakan kampung digital di luar Langenastran adalah setiap cabang pembantu wajib lakukan edukasi dan mendorong transaksi digital serta menggandeng ekosistem pembayaran digital. "Harapan lainnya, dengan telah terbentuknya kampung digital, akan membuat BPD DIY lebih efisien dalam operasionalnya," ucap Santoso. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

BPOM Tarik 41 Obat Tradisional dan 16 Kosmetik Mengandung Kimia

News
| Kamis, 06 Oktober 2022, 13:37 WIB

Advertisement

alt

Satu-satunya di Kabupaten Magelang, Wisata Arung Jeram Kali Elo Terus Dikembangkan

Wisata
| Kamis, 06 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement