Tahun Depan, Industri Wisata DIY Lebih Siap Menghadapi Tantangan

Malioboro, Jumat (24/12/2021) pagi. - Harian Jogja/Sunartono.
31 Desember 2021 06:37 WIB Herlambang Jati Kusumo & M. Faisal Nur Ikhsan Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Industri pariwisata di DIY akan bergerak semakin baik di 2022. Pelonggaran aktivitas dengan tetap menjaga protokol kesehatan menjadi harapan pelaku wisata.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardyanto Setyo Ajie, mengatakan pariwisata di DIY selama 2021 masih sangat dinamis. Kondisi masih sulit untuk diprediksi dan gerak pariwisata sangat bergantung pada regulasi. Salah satunya regulasi mengenai pembatasan aktivitas masyarakat.

“Dimulai setelah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat [PPKM Darurat, level 4] selesai, sangat positif pergerakan wisata. Termasuk saat Nataru ini pun awalnya ada kekhawatiran,,” ucap Bobby.

Yang perlu menjadi perhatian, menurut Bobby, adalah kunjungan wisatawan mancanegara, yang masih sangat minim. Minimnya kunjungan wisman ini tidak lain karena regulasi yang memberatkan wisatawan.

Selain itu, hal yang perlu menjadi perhatian di sektor pariwisata pada 2021 yaitu travel corridor yang telah direncanakan Pemda DIY. Meski telah ada kesepakatan dengan 10 Pemda, namun implementasi dari kebijakan ini belum bisa berjalan dengan baik. Bobby berharap rencana tersebut dapat dilanjutkan.

Bobby cukup optimis pariwisata akan bergerak menuju arah yang lebih baik pada 2022. Pemerintah maupun masyarakat dirasa lebih siap menghadapi kondisi saat ini. Kesadaran masyarakat untuk menerapkan prokes dirasa semakin baik. “Kami mengharapkan kedepan Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang memberikan satu ruang wisata bergerak,” ucap Bobby.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan dua tahun pandemi merupakan masa perjuangan bagi PHRI DIY. Namun, 2021 lebih baik, meski belum sepenuhnya pulih. Pergerakan wisatawan mulai mengalami peningkatan,

“Di 2021 baru ada pergerakan cukup baik pada November. Kami masih waswas karena belum sepenuhnya pulih. Hotel resto yang sebelumnya tutup permanen, kini tinggal 22. Namun, semuanya masih melakukan efisiensi. Ini baru awal untuk bangkit,” ucap Deddy.

Deddy mengaku optimistis kondisi pariwisata di DIY akan menbaik tahun depan. “Yang perlu menjadi perhatian selain kepatuhan akan prokes, sinergi antar pemerintah, stakeholder lainnya perlu ditingkatkan tahun depan,” ucap Deddy.

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY, Hery Setyawan menilai wisata luar ruangan memiliki potensi yang besar ke depan. Di DIY sendiri, Hery juga melihat potensi destinasi wisata outdoor yang besar. Wisata pantai hingga ke sport tourism yang menawarkan wisata bersepeda, mengelilingi destinasi wisata alam di DIY, akan menjadi tumpuan.

Hery mengatakan sebenarnya untuk industri sudah siap menangkap peluang itu. Namun, hal ini juga perlu dibarengi dukungan kebijakan dari pemerintah. “Kami industri sebenarnya sudah siap, namun untuk saat ini wisatawan masih kebanyakan yang melakukan perjalanan mandiri. Kami perlu dukungan dari Pemerintah,” ucap Hery.

Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yu­sran mengatakan ke­yakinan itu mesti diba­rengi dengan kebijakan pelong­aran mobilitas masyarakat dalam negeri yang konsisten selama tahun depan.

Dia beralasan pelonggaran mobilitas masyarakat dalam negeri sudah menunjukkan peningkatan okupansi hotel yang signifikan selama triwulan keempat tahun ini.

 “Tahun depan kita optimistis pertumbuhan yang jauh lebih baik, jika situasi PPKM maksimal di level dua karena sudah ter­buk­ti terjadi pertumbuhan okupansi dan pergerakan orang sejak September 2021,” katanya melalui sambungan telepon, Senin (27/12).

Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani mengatakan  kunjungan wisatawan mancanegara selama pandemi Covid-19 mengalami penurunan drastis. Kunjungan wisman sepanjang Januari—Oktober 2021 bahkan hanya 9 orang. Optimisme pariwisata akan bangkit pada tahun depan menjadi harapan seluruh pelaku usaha.

Hariyadi menjelaskan kunjungan wisman secara nasional pada 2019 sekitar 16,1 juta orang, dan langsung anjlok 74,84% pada 2020, kemudian penurunan berlanjut pada 2021. “Kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari—Oktober hanya 1,2 juta orang,” tuturnya.

Diperkirakan, hingga akhir Desember tahun ini, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara hanya menyentuh angka 1,5 juta. Hariyadi menjelaskan bahwa indikasi pemulihan sektor pariwisata nasional sudah mulai terlihat pada Kuartal IV/2021.

Meskipun sempat terkontraksi akibat penyebaran virus corona varian Delta, kini jumlah kunjungan wisatawan baik di hotel maupun restoran sudah mulai mengalami kenaikan yang signifikan.

“Sampai dengan bulan Juni itu sudah membaik, pasti di Juli-September itu drop karena varian Delta. Tetapi kami meyakini di Oktober—Desember ini sudah mulai bergeliat naik, mulai bagus. Jadi perkiraan kami di 2021 ini kondisinya secara keseluruhan masih lebih baik dari 2020,” jelasnya.