Harapan Fian, Komunitas yang Memperjuangkan Warga Jalanan di Jogja

Posyandu Jalanan yang digagas oleh Harapan Fian. - Instagram @harapanfian
15 Januari 2022 09:47 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Problem komunitas jalanan di Jogja menjadi perhatian sekumpulan anak muda yang tergabung dalam Harapan Fian. Mereka memperjuangkan akses kesehatan, isu pendidikan, hingga persoalan identitas warga jalanan.

Fian, yang menjadi nama perkumpulan tersebut, adalah nama seorang anak yang lahir sekitar tujuh tahun lalu di Jogja. Dia lahir dengan keluarga yang tidak ideal. Sang ibunda, salah seorang remaja yang tinggal di jalanan Jogja, semula mengandungnya dengan kondisi kehamilan tidak direncanakan (KTD).

Ahmad Syaifuddin, aktivis di Jogja yang akrab disapa Didin, menemukan kasus tersebut saat mendampingi anak-anak jalanan dalam program pendidikan. Dia terlibat dalam sebuah komunitas mengajar bagi anak-anak jalanan.

Kehadiran Fian sebagai kasus anak hasil KTD pertama yang dijumpainya rupanya menjadi titik balik bagi Didin untuk memikirkan ulang mengenai problem komunitas jalanan.

"Tadinya kami hanya bikin gerakan di isu pendidikan saja. Kehadiran Fian ini membuat kami berpikir ulang, mau mengajar saja atau menyelesaikan masalah lain juga," kata Didin kepada Harian Jogja, belum lama ini.

BACA JUGA: Anak Jalanan di Gunungkidul Mudah Berpindah Tempat

Masalah lain yang Didin pikirkan saat itu mengacu pada kebutuhan Fian seiring tumbuh kembangnya. Saat bayi, dia membutuhkan akses kesehatan. Menjelang kanak-kanak, dia butuh akses pendidikan. Semakin besar, rupanya Fian membutuhkan akses pendidikan.

Dia pun berkaca bahwa anak-anak lain di jalanan pun memiliki kebutuhan yang kompleks dan tidak sebatas akses pendidikan semata. Didin pun mengumpulkan teman-temannya untuk membuat gerakan baru yang memiliki spektrum yang lebih luas mengenai kompleksitas masalah di komunitas jalanan.

"Kami sudah serius berkegiatan sejak 2018, tetapi resminya baru awal 2020 lalu. Ada empat isu yang kami fokuskan, yaitu isu identitas, kesehatan, pendidikan alternatif, serta ekonomi alternatif," ujar Didin.

Jika awalnya dia fokus pada sasaran anak-anak, maka kini dia pun memperluas target sasaran. Sebab, menurut Didin, peran orang-orang di sekitar anak jalanan pun sangat penting, seperti orang tua, anggota keluarga yang lain, serta teman bermain.

Bersama sekitar enam sukarelawan yang berkegiatan dalam periode tertentu, Harapan Fian pun menjalankan sejumlah program pendampingan bagi komunitas jalanan di Jogja, Sleman, dan Bantul. Di samping itu, Harapan Fian juga banyak berkolaborasi dengan komunitas lain yang memiliki visi serupa.

Posyandu Jalanan

Sejak pandemi, Harapan Fian punya kegiatan baru yang difokuskan hingga saat ini. Jika mulanya mereka hanya fokus di isu identitas dan ekonomi alternatif melalui pendampingan akses administrasi kependudukan dan lokakarya menjahit, maka kini Didin dan kawan-kawan justru menekuni sebuah program bernama Posyandu Jalanan.

"Kami sedang fokus di isu kesehatan ibu dan anak lewat program Posyandu Jalanan. Ini berbeda dengan Posyandu di masyarakat itu ya, karena kami menyasar kelompok marginal dan penduduk rentan di Jogja dan sekitarnya, terkait masalah kesehatan ibu dan anak di sana," ucap Didin.

Sekali dalam sebulan, mereka berkegiatan dengan sejumlah komunitas untuk melakukan penjangkauan komunitas jalanan, pemeriksaan kesehatan rutin, monitoring ibu hamil dan tumbuh kembang anak, serta pendampingan komunitas untuk mengakses pelayanan kesehatan di puskesmas.

"Tujuan besar kami adalah teman-teman di komunitas jalanan itu tidak lagi mengalami hambatan dalam mengakses layanan kesehatan. Kalau bisa, mereka bisa mengakses layanan kesehatan secara mandiri," ujarnya.

Dalam melaksanakan kegiatan ini, Harapan Fian berkolaborasi dengan sejumlah komunitas yang beranggotakan tenaga kesehatan. Dengan begitu, pemantauan kesehatan bagi ibu dan anak yang mereka dampingi bisa maksimal.

Isu kesehatan dirasa penting, terutama berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Didin mengungkapkan komunitas jalanan mengalami tingkat KTD yang tinggi, terutama kasus remaja di bawah umur. Dalam setahun, Harapan Fian bahkan pernah mendampingi empat kasus KTD di Kota Jogja.

"Kami komunitas kecil, enggak membayangkan bagaimana situasi di daerah lain. Pendampingan KTD kan butuh waktu panjang ya, satu kasus bisa dua tahun, maka kami menganggap isu ini penting untuk dikerjakan," ujarnya.

Meskipun memiliki berbagai kegiatan seperti posyandu jalanan, mengajar, bahkan memasak bersama anak-anak dampingan, Didin memastikan bahwa roh Harapan Fian ialah pendampingan komunitas melalui kegiatan advokasi.

"Kami menangani banyak hal berkaitan dengan komunitas di jalanan sebab isunya kompleks sekali," kata dia.