Peneliti Temukan Resep Membuat Es Krim Anti Meleleh
Peneliti membuat terobosan baru setelah menemukan cara untuk membuat es krim yang hampir tidak meleleh.
Tias saat mengisi salah satu booth di pasar organik./Istimewa-Dok. Pribadi.
Harianjogja.com, JOGJA--Tak hanya menanam tanaman lalu menunggu panen, bagi Heningtias Gahas Rukmana, berkebun merupakan upayanya melestarikan alam sekaligus mencintai Tuhan. Dia pun menularkan kegemaran berkebun ke anak-anak muda supaya lebih banyak orang yang mencintai alam.
Kegiatan berkebun sudah menjadi aktivitas sehari-hari bagi Heningtias Gahas Rukmana sejak kecil. Perempuan 31 tahun yang akrab disapa Tias ini mulanya diperkenalkan dengan kegiatan bercocok tanam oleh ayahnya. Kebiasaan itu akhirnya terbawa hingga dewasa.
Alumnus UIN Sunan Kalijaga ini mengaku tetap aktif berkebun saat ngekos beberapa tahun lalu. "Kayaknya cuma saya mahasiswa yang punya tanaman stroberi dan kelor di kos-kosan," kenang Tias kepada Harianjogja.com, belum lama ini.
Bagi Tias, berkebun tak hanya menjadikannya lebih sehat lantaran bisa mengonsumsi makanan yang alami. Dari kegiatan ini, dia pun jadi mengenal alam. Lebih jauh, dia justru merasa lebih dekat dengan Tuhan lewat berkebun.
Keyakinan itu yang coba ia sampaikan kepada orang lain, terutama anak-anak muda. Sejak 2019, di samping mengelola bisnis jual-beli hasil panen organik di Kebun Mba Tias, dia pun membuka kelas bagi siapapun untuk belajar berkebun.
Program itu diwujudkan Tias melalui kegiatan edukasi berbasis kurikulum, mulai dari membersihkan lingkungan, bercocok tanam, hingga pelatihan kewirausahaan. Setiap akhir pekan, ia mengajak siswanya untuk nyemplung ke sungai hingga blusukan ke kebun.
"Saya ajak mahasiswa mengenal lingkungan. Bisa dengan membersihkan sampah di sungai, mengenal tanah di kebun, panen, maupun belajar mendesain kemasan produk kebun. Beberapa dosen titip mahasiswanya ke saya untuk diajak belajar berkebun," ujar Tias.
Meski awalnya jijik dan enggan nyemplung ke sungai maupun berkebun, lama-kelamaan mahasiswa dampingan Tias pun antusias mengikuti program ini. Ibu satu anak ini berharap pengalaman itu bisa menjadi bekal anak-anak muda agar bisa mencintai alam.
"Harapannya dengan mengenal alam, maka mereka bisa mencintai Tuhannya. Mengenal tanaman, komponen di tanah ada ulat dan cacing, itu semua kan makhluk Tuhan. Ini yang coba saya sampaikan lewat edukasi ke murid-murid di Kebun Mba Tias," terangnya.
Ekoteologi Universal
Meski mengajak murid-muridnya untuk mengenal Tuhan dan lebih religius, namun Tias tidak membatasi program edukasinya hanya bisa diikuti oleh murid yang memiliki keyakinan yang sama dengannya. Sebagai seorang Muslim, dia terbuka untuk mendampingi anak-anak muda yang memiliki keyakinan berbeda untuk bersama-sama mencintai alam.
"Kurikulum saya mencakup ekoteologi, tapi universal, bisa diikuti oleh semua pemeluk agama. Saya yakin di semua agama pasti diajarkan bagaimana mendekatkan diri kepada Tuhan lewat mencintai alam," ujarnya.
Di Kebun Mba Tias, dia memiliki visi-misi yang bisa terangkum dalam 3M, meliputi mandiri pangan, mandiri spiritual, serta mandiri ekonomi. Ketika hasil dapur terpenuhi dari kebun sendiri, maka kemandirian pangan mampu tercapai.
Kemudian, pengalaman berkebun merupakan penguatan hubungan antara manusia dengan alam sekaligus mengenal Tuhan yang menjadi wujud kemandirian spiritual. Lebih jauh, ketika hasil panen itu mampu dimanfaatkan untuk diolah dan dijual, maka kemandirian ekonomi turut tercapai.
Ke depannya, dia berharap bisa memberikan pelatihan berkebun kepada peserta usia anak-anak. Sebab, ia percaya jika generasi muda sudah mengenal lingkungan dan gemar berkebun sejak dini, maka kecintaan itu akan terbawa hingga dewasa.
Lebih jauh, Tias bahkan bercita-cita membangun pesantren alam. Para santrinya tidak hanya belajar agama, melainkan juga melestarikan alam lewat berkebun. "Karena saya percaya bahwa dengan mencintai alam, maka akan nyambung ke bagaimana mencintai Tuhan sebagai penciptanya," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Peneliti membuat terobosan baru setelah menemukan cara untuk membuat es krim yang hampir tidak meleleh.
Bedah buku berjudul Budidaya Bawang Merah Asal Biji digelar di Padukuhan Dayakan 2, Kalurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, Rabu (20/5).
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.