Advertisement

Uji Kecepatan di Bukit Bego, KNKT Temukan Titik Terang Penyebab Kecelakaan Maut

Catur Dwi Janati
Senin, 14 Februari 2022 - 18:32 WIB
Budi Cahyana
Uji Kecepatan di Bukit Bego, KNKT Temukan Titik Terang Penyebab Kecelakaan Maut Bukit Bego, Kedungbuweng, Wukirsari, Bantul, Senin (14/2/2022). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menguji kecepatan kendaraan tanpa pengereman dan gas di Bukit Bego Bantul menyusul kecelakaan maut yang menewaskan 13 orang sepekan lalu. KNKT mengungkap beberapa temuan mengenai kecelakaan bus wisata tersebut.

Plt. Ketua Sub Komite Lalu Lintas dan Angkatan Jalan (LLAJ) KNKT Ahmad Wildan mengatakan pada jalan menurun, gaya gravitasi yang besar akan menarik kendaraan. KNKT telah menguji dengan menjalankan satu mobil Ford Ranger Double Cabin turun di jalan sekitar Bukit Bego. Berjalan dengan persneling dua, gaya gravitasi membuat kendaraan mampu melaju 70 kilometer (km) per jam tanpa pengereman dan tekanan gas.

BACA JUGA: Ini Kata-Kata Terakhir Sopir Bus Wisata Sebelum Kecelakaan Maut di Bukit Bego Bantul

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

"Tadi saya minta Kadishub [Kepala Dinas Perhubungan Bantul] nyoba sendiri, ‘Bapak ikut mobil KNKT deh.’ Saya minta pengemudinya pakai gigi dua, jangan ngerem jangan ngegas. Coba kecepatannya berapa pada jarak sekitar 500 meter dari atas. Kecepatannya 70 [km/jam] tanpa ngerem tanpa ngegas, itulah gaya gravitasi Bumi,” terang Wildan, Senin (14/2/2022).

Di jalan menurun, kendaraan terus didorong gaya gravitasi. Hal ini menyebabkan beberapa risiko seperti angin habis dan kampas panas. “Itu seperti kemarin [kecelakaan bus di Bukit Bego pada Minggu, 6 Februari 2022], dia [sopir] menggunakan gigi tiga. Pengemudi saya pakai gigi dua saja kecepatannya 70 [km/kam] tadi, tanpa ngerem. Berarti dia kan dipaksa harus ngerem-ngerem terus,” ungkap dia..

“Bus sama Ford Ranger gedean bus kan. Artinya gaya dorongnya gedean bus. Sopir berarti harus ngerem-ngerem terus,” imbuhnya.

Wildan menjelaskan sistem kerja rem pada bus. Saat bus digas, rem akan mengisi angin, sedangkan saat bus direm, angin akan dibuang. Pada saat berjalan di turunan,  kendaraan tidak memiliki banyak kesempatan mengisi angin karena tidak ada pengegasan.

“Dia hanya buang terus. Pada saat tekanannya kurang dari enam, pengemudi hanya merasakan ngepos gitu lho, maka bunyi jes jes gitu, tapi dia enggak dapat ngerem, sudah hilang tenaga, sudah loyo. Bus yang kecelakaan di Bukit Bego sudah enggak bisa ngerem lagi, itu berdasarkan penjelasan dari pembantu pengemudi, karena pengemudinya meninggal,” kata dia.

KNKT juga telah memeriksa kondisi bus menabrak tebing Bukit Bego. Wildan menyatakan semua sistem rem bagus, angin masih ada. Roda kendaraan pun bagus, tidak halus, tidak gundul. “Kampas tromolnya juga standar, jadi enggak ada masalah,” kata dia.

Advertisement

Namun, sopir bus memasang gigi tiga di jalanan menurun sehingga bus melaju sangat kencang.

Pada saat melakukan pengujian, Wildan mencontohkan salah satu truk yang menuruni jalanan Bukit Bego dengan muatan alat berat. Lampu truk tersebut tidak menyala. Wildan menyebut truk tersebut tidak mengerem.

“Belakang lampu rem tidak menyala kan. Berarti dia enggak ngerem dari atas. Tapi dia pakai gigi satu dan pakai exhaust brake. Dia selamat, itu yang bener. Artinya dia dari atas enggak pernah ngerem, yang nahan kendaraan itu mesin,” ucap dia.

Advertisement

BACA JUGA: Pria Ini Kehilangan Ayah, Ibu, Anak, dan Neneknya akibat Kecelakaan Maut di Bukit Bego Bantul

Kepala Dinas Perhubungan Bantul Aris Suharyanta memcoba langsung mengecek kecepatan kendaraan dengan persneling dua. “Dari atas ke bawah tidak ngerem, tidak ngegas, sampai lokasi ban dipasang paling ujung di Bukit Bego, kecepatannya 70 kilometer per jam,” tuturnya.

Menurut Aris, bila diteruskan, kendaraan akan makin kencang setelah melintasi Bukit Bego. “Pas belok tadi sopirnya ngerem, kalau enggak ngerem, enggak berani. Karena kecepatan semakin tinggi. Kalau sampai sana [bawah] bisa 80 kilometer per jam, bisa 100 kilometer per jam lebih,” ucap dia.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Dijual Segera, Kerangka Dinosourus Usia 150 Tahun untuk Ruang Tamu

News
| Senin, 26 September 2022, 18:27 WIB

Advertisement

alt

Ada Paket Wisata ke Segitiga Bermuda, Uang 100% Kembali Jika Wisatawan Hilang

Wisata
| Minggu, 25 September 2022, 11:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement