Advertisement

Hari Bahasa Ibu Sedunia, Momentum Pertegas Bahasa Daerah sebagai Bahasa Ibu

Lajeng Padmaratri
Senin, 21 Februari 2022 - 07:07 WIB
Arief Junianto
Hari Bahasa Ibu Sedunia, Momentum Pertegas Bahasa Daerah sebagai Bahasa Ibu Ilustrasi. - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Sebagai bangsa yang multisuku, Indonesia memiliki beragam bahasa ibu. Globalisasi dan modernisasi, tak dimungkiri menjadi salah satu ancaman serius atas keberadaan bahasa tersebut.

Keragaman bahasa yang digunakan membuat Indonesia menduduki peringkat kedua negara dengan bahasa terbanyak di dunia. Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, ada 718 bahasa yang ada di Indonesia hingga 2019. Dari data itu, baru 94 bahasa daerah atau sekitar 10% yang dikaji kevalidan bahasanya.

Sayangnya, hasil kajian cukup mengkhawatirkan. Dari 94 bahasa ibu itu, delapan bahasa dikategorikan punah, lima bahasa kritis, 24 bahasa terancam punah, 12 bahasa mengalami kemunduran, 24 bahasa dalam kondisi rentan (stabil, tetapi terancam punah), dan 21 bahasa berstatus aman.

Itulah sebabnya, pada momentum Hari Bahasa Ibu Sedunia yang jatuh pada 21 Februari, hasil kajian dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tersebut bisa menjadi warning agar bahasa ibu bisa tetap lestari.

Akan tetapi, sayangnya, globalisasi menyebabkan banyaknya anak muda tak lagi menuturkan bahasa ibunya masing-masing. Dengan semakin menipisnya jumlah penutur bahasa ibu, maka bukan tidak mungkin bahasa ibu di Indonesia nantinya hanya tinggal cerita.

Salah satu anak muda yang mengaku tidak menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu ialah Ayu. Gadis asal Aceh ini mengaku sejak kecil memang telah dibiasakan menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi.

"Di rumah seringnya pakai bahasa Indonesia. Dari kecil dibiasakan begitu. Terus aku sekolah di kota. Teman-temanku pakai bahasa Indonesia, jadinya aku memang lebih sering pakai bahasa Indonesia. Palingan ngomong bahasa Aceh itu ketika pulang kampung ke Nagan Raya," kata gadis berusia 22 tahun itu kepada Harianjogja.com, Rabu (16/2/2022).

Meski begitu, dia mengaku masih bisa berbahasa Aceh, khususnya bahasa daerah khas Meulaboh, Aceh Barat. Namun, hal itu hanya menjadi selingan dalam kalimat yang ia ucapkan dalam bahasa Indonesia saja.

Ketika pulang kampung pun, dia belum tentu menggunakan bahasa daerah Aceh sepenuhnya. Ayu menjelaskan ketika ia pulang kampung ke Desa Parom, Nagan Raya, kampung halaman ibunya, maka dia akan tetap berbahasa Indonesia lantaran terbiasa oleh budaya keluarga di sana.

Namun, ketika pulang ke Desa Kulu, Nagan Raya, kampung halaman ayahandanya, ia akan lebih sering menggunakan bahasa daerah. "Kalau di sana malah aneh kalau pakai bahasa Indonesia," ucap dia.

Advertisement

Begitu merantau ke Jogja untuk kuliah, Ayu pun mengaku makin jarang berbahasa Aceh. Sebab, di Jogja, dia sedikit sekali menemukan perantau dari asal yang sama. Teman-temannya di Jogja pun berasal dari berbagai daerah, sehingga mereka lebih sering menggunakan bahasa Indonesia.

"Paling sama saudara yang ada di Jogja aku pakai bahasa Aceh. Tapi itu pun campur-campur bahasa Indonesia, karena dari kecil aku lebih sering pakai bahasa Indonesia," kata dia.

Pengalaman berbeda diungkapkan oleh Nurul. Perempuan asal Sunda itu mengaku dibiasakan menggunakan dua bahasa oleh orang tuanya, yaitu bahasa Sunda dan bahasa Indonesia.

Advertisement

"Kalau di rumah ya campur-campur bahasanya, tetapi kalau sama orang tua pakai bahasa Sunda," kata perempuan berusia 25 tahun itu.

Begitu merantau ke Jogja, dia mengaku masih terbiasa menggunakan bahasa Sunda. Pasalnya, dia begitu mudah menemukan sesama perantau dari Sunda di Jogja. Meski begitu, ia tak selalu menggunakan bahasa Sunda dan fleksibel jika ingin mengobrol dengan bahasa Indonesia.

Lebih Dipahami

Tak hanya diakui oleh anak muda, para ibu yang mulai mengajarkan bahasa ke anaknya pun mengakui jika bahasa daerah kini tak lagi digunakan sebagai bahasa ibu. Apalagi jika dalam satu keluarga terdiri dari dua suku yang berbeda.

Advertisement

Hal itu diungkapkan oleh Tika. Ibu muda beranak satu asal Kulonprogo ini memilih menerapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu kepada anak perempuannya lantaran suaminya berasal dari Jawa Barat.

"Saya lebih sering pakai bahasa Indonesia biar lebih cepat dimengerti anak saya dan suami saya, soalnya suami saya dari Sunda. Nanti anak saya bingung kalau menerima berbagai bahasa daerah," ujar dia.

Kepada anak perempuannya yang kini berusia lima tahun itu, pemilihan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dirasa lebih efektif dibandingkan bahasa daerah. Apalagi, di sekolahnya juga menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana berkomunikasi.

Advertisement

"Tetapi kadang kami juga berbahasa Jawa dan Sunda kalau ngomong spontan. Tetap yang utama bahasa Indonesia saja," kata dia.

Senada, seorang ibu berusia 32 tahun asal Jogja, Sari, mengakui meskipun dia dan suami sama-sama orang Jogja dan berlatar belakang suku Jawa, tetapi lantaran terbiasa tinggal di lingkungan perkotaan, maka mereka menerapkan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan anak-anaknya.

"Soalnya saya sendiri dari kecil terbiasa berbahasa Indonesia di keluarga, jadi ketika punya anak ya yang dipakai bahasa Indonesia. Meskipun tetap mengajarkan bahasa Jawa juga meskipun tidak sering," ujarnya.

Bilingual

Advertisement

Linguis Sastra Indonesia dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Suhandono menjelaskan perubahan bahasa ibu dari orang tua ke generasi berikutnya tersebut pasti ada sebabnya.

"Sebagian keluarga memang mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak mereka. Ini berarti apabila orang tua semula menjadikan bahasa daerah sebagai ibu, maka anak-anak mereka tidak lagi demikian. Apabila ini terjadi pada banyak keluarga, penutur bahasa daerah akan menyusut, ditinggalkan generasi mudanya," terang Suhandono, Kamis (17/2/2022).

Kondisi ini perlu diketahui sebabnya. Sehingga bisa mencari jalan agar tidak terjadi perubahan bahasa ibu dari orang tua ke generasi berikutnya.

Menurut Suhandono, sebagian orang mungkin lebih bangga apabila anaknya berbahasa Indonesia. "Mengapa demikian? Apakah berbahasa daerah tidak dapat menimbulkan rasa bangga? Kalau seperti itu, diperlukan usaha untuk menumbuhkan rasa bangga berbahasa daerah," kata dia.

Advertisement

Dia beranggapan jika orang tua mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak karena berpikir bahwa menguasai bahasa Indonesia akan memudahkan anaknya dalam mengakses informasi, pengetahuan, dan pergaulan, mungkin jalan keluarnya adalah menjadikan bahasa Indonesia dan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Sehingga, orang tua perlu menjadikan anak-anak bilingual.

"Namun, perlu diingat bahwa memilih bahasa itu sesuatu yang alami. Saat ini pemilihan bahasa Indonesia menjadi bahasa ibu sudah menjadi hal yang terjadi dengan sendirinya pada kalangan tertentu, seperti pada keluarga muda di perkotaan. Saya rasa keadaan yang ideal adalah anak mampu berbahasa Indonesia dan bahasa daerah [bilingual]," ucap Suhandono.

Tantangan lain agaknya muncul ketika seseorang merantau ke daerah lain. Perantau barangkali jadi lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa daerahnya.

"Memang, kalau penutur bahasa daerah yang merantau bertemu dengan sesama penutur, mereka punya kesempatan untuk mempraktikkan bahasa daerahnya. Namun adanya teknologi komunikasi gadget dan sejenisnya memberi kesempatan untuk berkomunikasi tanpa bertemu muka. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan penggunaan bahasa daerah," jelasnya.

Dia menguraikan bahwa akan lebih baik kalau dalam media sosial juga digunakan bahasa daerah seperti dalam grup Whatsapp yang anggotanya berlatar belakang bahasa daerah yang sama. Suhandono menegaskan, selama penutur bahasa daerah masih menganggap bahasa daerah sebagai simbol identitas mereka, bahasa daerah akan tetap digunakan.

5 Provinsi dengan

Bahasa Daerah Terbanyak di Indonesia

1. Papua : 326 bahasa

2. Papua Barat : 102 bahasa

3. NTT : 72 bahasa

4. Maluku : 62 bahasa

5. Kalteng : 23 bahasa

8 Bahasa Daerah

di Indonesia yang Sudah Punah

1. Bahasa Tandia (Papua Barat)

2. Bahasa Mawes (Papua)

3. Bahasa Kaiely (Maluku)

4. Bahasa Piru (Maluku)

5. Bahasa Moksela (Maluku)

6. Bahasa Palumata (Maluku)

7. Bahasa Hukumina (Maluku)

8. Bahasa Hoti (Maluku)

Sumber: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Hubungan dengan Keluarga Merenggang, Pria Ini Kencingi Makam Mantan Istri Setiap Hari

News
| Minggu, 02 Oktober 2022, 17:07 WIB

Advertisement

alt

3 Rekomendasi Glamcamp Seru di Jogja

Wisata
| Sabtu, 01 Oktober 2022, 17:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement