Advertisement

GKR Mangkubumi, Putri Kraton Jogja yang Piawai Menari Sejak Kecil

Sunartono
Rabu, 02 Maret 2022 - 08:07 WIB
Budi Cahyana
GKR Mangkubumi, Putri Kraton Jogja yang Piawai Menari Sejak Kecil Buku GKR Mangkubumi, Penyambung Budaya Adiluhung dan Peradaban Indonesia Modern. - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJAGKR Mangkubumi ternyata sejak kecil memiliki keahlian menari klasik. Dia bahkan pernah meraih juara pertama saat lomba menari tingkat DIY. Hal itu terungkap dalam buku GKR Mangkubumi, Penyambung Budaya Adiluhung dan Peradaban Indonesia Modern.

BACA JUGA: GKR Mangkubumi, Sosok Sederhana yang Terlambat Kenal Lipstik

Kemampuan GKR Mangkubumi dalam bidang ini bukanlah kaleng-kaleng. Bakatnya sebagai penari telah terlihat sejak masih usia SD dengan nama RAj Nurmalita Sari, saat masih duduk di bangku SD Marsudirini, Kota Jogja. Dalam buku GKR Mangkubumi, guru SD GKR Mangkubumi, Ignatius Suparmin, mengungkap putri pertama Sultan tersebut memiliki kemampuan menari. Bahkan pernah menjadi juara pertama lomba tari klasik gaya Jogja dalam Porseni SD tingkat provinsi DIY.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

"Beliau aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dan seni tari. Di bidang seni pernah mengikuti lomba tari klasik gaya Jogja dalam Porseni tingkat provinsi DIY dan meraih juara I," kata Ignatius Suparmin dalam tulisannya yang masuk dalam Bab III Sahabat Istimewa.

Saat masih duduk di bangku SD, Nurmalita Sari dikenal sebagai murid yang tekun, ulet, cerdas, rajin, disiplin bertanggung jawab dan selalu bersemangat dalam berbagai bidang. Selain itu, memiliki prestasi yang bagus di setiap jenjang kelas. Bahkan soal presensi kehadiran, RAj Nurmalita Sari tak pernah terlambat apalagi membolos. Hal itu kerap menjadi teladan bagi teman-temannya di sekolah.

Kemampuan tari masih dibawa sampai bergelar GKR Mangkubumi. Adik bungsunya, dalam hal ini GKR Bendara menjadi salah satu yang kerap tak bisa berkata banyak soal kemampuan menari kakak pertamanya. Pada suatu waktu semua putri Sultan harus menarikan koreografi Tari Karya Yasan Dalem Sri Sultan HB X atau dikenal dengan Bedhaya Tirta Hayuningrat. Tarian ini mengisahkan tentang Arjuna mulai dari berguru hingga mendapatkan wahyu.

GKR Bendara dalam buku ini menceritakan, dirinya harus berlatih selama delapan bulan untuk bisa fasih memainkan tarian itu dengan apik. Namun dalam perkembangannya, karena kesibukan kegiatan sosial, GKR Mangkubumi jarang datang latihan. Namun, saat hari H pelaksanaan, ketika ia melihat

GKR Mangkubumi mengenakan baju Dodot Paes Ageng, tak mampu berkata banyak.

Begitu juga saat menarikan tarian tersebut, GKR Mangkubumi tampak yang paling piawai sebagai yang terdepan di hadapan adik-adiknya. Dalam buku ini digambarkan dengan kalimat, saat menggerakkan tangannya, keindahan menyergap, saat menggeser kakinya, sosok GKR Mangkubumi tampak jauh lebih besar lagi.

Advertisement

“Tiba-tiba saya melihat gambaran sosok yang sehari-hari saya temui, tetapi susah dibahasakan secara singkat. Halus sekaligus kuat, tenang tetapi punya daya ledak, agung dan magis,” kata GKR Bendara dalam buku tersebut.

Sebagai putri sulung HB X, GKR Mangkubumi mengemban tanggung jawab besar di lingkungan Kraton Jogja. Salah satunya menjabat sebagai Kawedanan Hageng Parwa Budaya yang merupakan inti budaya Kraton yang kewenangannya mengurusi dan mengatur pelaksanaan kebijakan di bidang agama, adat kebudayaan, dan kesenian.

Puji Kepemimpinan

KPH Notonegoro, suami dari GKR Hayu, memuji kepemimpinan GKR Mangkubumi di lingkungan Kraton. Dalam buku ini diceritakan pada suatu saat, ia sebagai punggawa di KHP Kridhamardawa berusaha untuk menentukan penari maupun pesinden Kraton lewat audisi dari sebelumnya ditentukan oleh pemucal atau guru tari.

Advertisement

Namun GKR Mangkubumi mampu berada di tengah-tengah, dengan mendengarkan suara tradisi para pamucal, sesepuh dan senior. Hingga sekarang penentuannya dilakukan dengan audisi dan diambil nilai tertinggi.

“Gusti Mangkubumi tak hanya menuruti keinginan seorang berpendidikan modern barat untuk segera melakukan perubahan. Tetapi juga mampu mendengarkan apa yang menjadi kegelisahan pamucal,” kata KPH Notonegoro dalam buku tersebut.

Penerbitan buku GKR Mangkubumi, Penyambung Budaya Adiluhung dan Peradaban Indonesia Modern terbilang singkat. Prosesnya hanya memakan waktu sekitar dua pekan. Pimpinan Produksi sekaligus editor buku Julius Felicianus mengungkap banyak cerita menarik dan inspiratif dari sosok GKR Mangkubumi. Bahkan beberapa tulisan yang terungkap banyak yang belum diketahui masyarakat.

BACA JUGA: 10 Fakta GKR Mangkubumi Putri Kraton Jogja yang Jarang Diketahui: Suka Nonton Langsung Smackdown

Advertisement

Selama proses editing dan layout buku, timnya tidak tidur selama tiga hari. Namun, yang membuatnya heran, tetap kuat dan tidak ada yang sakit sehingga seperti ada kekuatan lain yang membantu. Kekuatan itu mungkin termasuk semangat dari tim yang buku itu diyakini bakal menjadi inspirasi bagi banyak orang.

“Meski beberapa kali harus ganti foto misalnya, karena memang ada beberapa foto yang secara tradisi tidak boleh dikonsumsi publik. Tetapi proses itu cepat dan berjalan lancar,” ucap Julius.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Top 7 News Harianjogja.com Kamis, 29 September 2022

News
| Kamis, 29 September 2022, 07:27 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement