Gunungkidul Anggarkan Rp3,39 Miliar untuk 180 Lampu Penerangan Jalan
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp3,39 miliar untuk memasang 180 lampu jalan pada 2026. Sebanyak 125 unit ditargetkan rampung November.
Dokter hewan Puskeswan Sanden memeriksa kondisi sapi positif PMK di Kapanewon Srandakan, Senin (13/6/2022)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul mencatat sudah ada 511 sapi yang terindikasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Adapun kasus sudah ditemukan di 15 kapanewon dan 121 dusun ditetapkan jadi zona merah.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari mengatakan, potensi penularan PMK masih mungkin bertambah. Data sementara yang tercatat ada 511 sapi yang tersebar di 15 kapanewon terjangkit penyakit ini.
Meski demikian, ia enggan memaparkan secara rinci kapanewon mana saja yang sudah ada temuan kasus. “Yang jelas ada tiga kapanewon yang masih belum ada kasus. sedangkan 15 kapanewon lainnya sudah ada temuan,” kata Wibawanti, Selasa (28/6/2022).
Disinggung mengenai penetapan kapanewon zona merah, ia mengakui adanya temuan kasus maka wilayah tersebut masuk kategori merah. Meski demikian, ia menilai penetapan tersebut kurang efektif untuk penanganan karena tidak semua wilayah terdapat kasus.
“Memang ada kasus [PMK], tapi kan masih ada ternak-ternak yang sehat,” ujarnya.
Baca juga: Kasus PMK Terus Bertambah, Ini Langkah Masif Pemerintah
Oleh karenanya, kebijakan zonasi yang dipakai dipersempit lagi ke tingkat dusun. Wibawanti menilai pemetaan ini akan lebih efektif sehingga penanganan lebih dapat difokuskan.
“Data sementara temuan kasus ada di 66 kalurahan dan zona merah ditetapkan di 121 dusun,” ungkapnya.
Sesuai dengan kebijakan dari Pemerintah Pusat, maka hingga sekarang tidak ada penetapan penularan PMK sebagai wabah. Adapun status di Gunungkidul masuk sebagai daerah tertular.
“Ya kalau kasus sudah ditemukan lebih di empat kapanewon maka penularannya bisa ditetapkan sebagai wabah, tapi berdasarkan kebijakan dari Pemerintah tidak ada. Untuk penularan, meski ada penambahan, tapi jumlah kasus di Gunungkidul masih relatif kecil ketimbang daerah lain di DIY,” ujarnya.
Direncanakan pada minggu ini juga ada pelaksnaaan vaksinasi untuk mencegah penularan PMK. “Kami mendapatkan jatah 500 dosis dan penyuntikan dilaksanakan di awal Juli ini,” katanya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Retno Widiastuti mengatakan, upaya monitoring dan pengawasan terhadap potensi penyebaran PMK terhadap hewan ternak terus dilakukan. Menurut dia, upaya pencegahan bisa dilakukan beberapa cara. Salah satunya memperkuat daya tahan tubuh ternak dengan pemberian pakan secara rutin.
Guna memaksimalkan pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan di lingkungan kandang. Upaya penyemprotan disinfektan juga sangat dibutuhkan agar lokasi kandang bebas dari potensi penyebaran penyakit.
“Penyemprotan bisa dilakukan setiap dua hari sekali. Caranya mudah dan tidak beda jauh dengan pencegahan untuk penyebaran virus corona,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp3,39 miliar untuk memasang 180 lampu jalan pada 2026. Sebanyak 125 unit ditargetkan rampung November.
IHSG ditutup menguat 0,31% ke 5.282,31 mengikuti bursa Asia. Saham kesehatan memimpin kenaikan, sedangkan sektor infrastruktur melemah.
Gunungkidul menjadi percontohan nasional PPKH dengan penguatan layanan kesehatan jiwa, dukungan keluarga, pendidikan, dan olahraga.
Polresta Sleman mengungkap dugaan perakitan senjata api ilegal di Turi dan mengamankan dua tersangka serta sejumlah senjata dan amunisi.
Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin mundur dari Hylo Open 2026 setelah Daniel mengalami nyeri lutut kiri saat latihan.
KPK menggeledah kantor Bea Cukai Kudus dan PT Djarum dalam pengembangan penyidikan kasus dugaan korupsi importasi barang.