Kepyakan Gotong Royong Digalakkan, Tradisi Sambatan Rewang Dipelihara
Kepyakan gotong royong terus digalakkan di Gunungkidul. Tradisi sambatan, rewang, nyumbang hingga layatan tetap dijaga sebagai budaya warga.
Ilustrasi. /Everypixel
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul kembali melanjutkan pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bedoyo di Kalurahan Bedoyo, Ponjong. Proyek ini sempat mandek selama dua tahun karena terdampak pandemi Covid-19.
Kepala Bidang Cipta Karya, DPUPRKP Gunungkidul, Nanang Irawanto mengatakan, tahun ini pemkab mengalokasikan anggaran sekitar Rp500 juta untuk melanjutkan pembangunan RSUD Bedoyo. Proyek pembangunan rumah sakit ini sudah dimulai sejak 2018 lalu.
Pembangunan tahap pertama sudah dimulai di 2019, namun dikarenakan pandemi corona terpaksa berhenti. Pasalnya, pagu anggaran yang ada terkena refokusing untuk penanangan wabah.
“Macet selama dua tahun dan baru dilanjutkan sekarang,” katanya, Minggu (3/7/2022).
BACA JUGA: Harga Bawang Merah Masih Mahal
Menurut dia, pemkab di 2022 mengalokasikan anggaran sebesar Rp500 juta. Rencananya, dana ini untuk menyelesaikan gedung rawat inap lantai dua.
“Minggu depan mulai dikerjakan. Sesuai pagu yang ada untuk pemasangan dinding penyekat, plafon serta kusen pintu dan jendela,” ungkapnya.
Meski pembangunan kembali dilanjutkan, Nanang tidak menampik bahwa untuk penyelesaikan masih membutuhkan tambahan dana hingga belasan miliar rupiah. Hal ini dikarenakan pembangunan fasilitas kesehatan membutuhkan investasi dana yang mahal.
Adapun anggaran yang dimiliki pemkab juga masih terbatas sehingga pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Dia menjelaskan, sesuai dengan Detail Engineering Design yang ada, total kebutuhan anggaran untuk RSUD Bedoyo sekitar Rp20 miliar.
Hingga sekarang dana yang dipergunakan membangun baru sebesar Rp6 miliar. “Estimasi masih perlu Rp14 miliar lagi. Semoga tahap selanjutnya bisa dianggarkan untuk penyelesaian gedung rawat inap agar pembangunan bisa terselesaikan,” katanya.
Sekretaris Daerah Gunungkidul, Drajad Ruswandono mengatakan, pandemic corona berdampak terhadap proyek infrastruktur di Gunungkidul. Menurut dia, banyak program yang terpaksa berhenti karena anggaran yang ada dipergunakan penanganan dan penanggulangan corona.
“Salah satunya adalah kawasan kantor terpadu Siraman. Hingga sekarang yang terbangun baru kantor BPBD, sedangkan lainnya belum terealisasi,” katanya.
Drajad berharap pandemic segera berakhir agar pagu anggaran penanggulangan bisa dialihkan untuk membiayai berberbagai kegiatan yang sempat terhenti. “Belanja Tak Terduga [untuk penanganan corona] besar. jadi, kalau sudah terkendali maka bisa dikurangi untuk kegiatan yang lain,” katanya. (David Kurniawan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kepyakan gotong royong terus digalakkan di Gunungkidul. Tradisi sambatan, rewang, nyumbang hingga layatan tetap dijaga sebagai budaya warga.
IHSG dibuka melemah ke level 5.899,27 pada Kamis 11 Juni 2026. Konflik Timur Tengah dan sentimen suku bunga global membayangi pasar.
Dony Oskaria memaparkan tiga pilar transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045, yakni ketahanan pangan, energi, dan penguatan SDM.
Daftar lagu resmi Piala Dunia dari 1990 hingga 2026, dari Waka Waka, Cup of Life, Dreamers hingga Dai Dai milik Shakira dan Burna Boy.
Cara memperbaiki resleting macet dan rusak dengan mudah di rumah, mulai dari slider longgar hingga gigi resleting bengkok.
Rupiah dibuka melemah ke Rp17.933 per dolar AS pada Kamis 11 Juni 2026. Pasar menanti data inflasi AS dan penjualan ritel Indonesia.