Advertisement
Penjahat Seksual Mengintai Anak di Jogja, Ini Saran Psikolog untuk Orang Tua
Ilustrasi. - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Kasus child grooming menyasar sejumlah anak di Bantul, belum lama ini. Child grooming merupakan kejahatan seksual terhadap anak yang dilakukan secara halus agar pelaku bisa mendekati korbannya yang merupakan anak-anak.
Dalam kasus di DIY, pelaku mengontak nomor WhatsApp korban untuk berkomunikasi. Setelah itu melalui video call, pelaku mempertontonkan alat kelaminnya kepada anak. Atas kejadian itu, orang tua perlu mewaspadai modus kejahatan yang satu ini.
Advertisement
Psikolog Anak, Lucia Peppy Novianti, menjelaskan untuk menghindarkan anak dari tindak kekerasan seksual online, orang tua atau pengasuh perlu mengikuti perkembangan teknologi dan memantau penggunaanya oleh anak.
"Orang yang menemani anak bertumbuh kembang itu perlu melek digital. Mau belajar dan menjadi partner anak untuk berdiskusi dan memahami. Ditambah pandemi kemaren, semua anak sekarang terkoneksi dengan digital," ujarnya, kepada Harianjogja.com, Selasa (12/7/2022).
BACA JUGA: Fakta Baru Polisi Tembak Polisi, Mabes Klaim Ada Perbuatan Tak Senonoh terhadap Istri Kadiv Propam
Maka satu-satunya cara untuk menjaga anak adalah pada komunikasi. Kita perlu memahami apa yang dilihat anak sehari-hari. Jika menemukan hal-hal negatif atau bahkan mengerikan, jangan direspons dengan langsung memarahi anak.
"Atau langsung ekstrem dengan merebut atau melarang. Tapi kita justru sebagai orang tua mengajak anak bicara, apa yang dia alami. Supaya kita tahu sejauh mana dia mengalami fenomena itu. Itu yang lebih penting," katanya.
Respons langsung marah atau merebut handphone anak menurutnya justru berbahaya karena jika anak sudah terjerat, belum tentu akan tidak berhenti dengan respons itu. "Sebagai orang yang sudah dewasa, perlu memisahkan respons emosional yang justru bisa destruktif," ungkapnya.
Bagi anak yang sudah menjadi korban dari kasus tersebut, orang tua harus menjadi pendamping bagi anak, dalam pemulihan diri maupun proses hukum. Menurutnya sering ditemukan ketika korban anak menghadapi proses hukum justru orang tuanya yang menjadi penghambat.
"Misalmya karena malu, karena capek nemenin, atau karena melihat anak yang terdampak itu seakan-akan gapapa. Jangan salah, anak yang terdampak bisa saja secara kasat mata seperti anak pada umumnya," kata dia.
Maka sangat penting peran orang tua dalam pemulihan mental anak dan pendampingan proses hukum, untuk mendukung masa depan anak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Washington Post PHK Sepertiga Karyawan, Krisis Media di AS Kian Dalam
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- BPBD Catat 129 Kejadian Bencana, Gunungkidul Siaga Sampai Maret
- Ekspor Bantul 2026 Ditargetkan USD 120 Juta, Global Jadi Tantangan
- DLH Bantul Bangun 4 RTH pada 2026, Jogging Paseban Anggaran Terbesar
- Kue Keranjang Kampung Tukangan Jogja Bertahan Sejak Pra-Kemerdekaan
- Tiga Jembatan di Sleman Dibongkar 2026, DPUPKP Diganti Bangunan Baru
Advertisement
Advertisement



