Advertisement

Psikolog: Suporter Bola Tak Berani Anarkis Kalau Lagi Sendirian

Bernadheta Dian Saraswati
Kamis, 28 Juli 2022 - 09:17 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Psikolog: Suporter Bola Tak Berani Anarkis Kalau Lagi Sendirian Ilustrasi. - Reuters/Mussa Qawasma

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA-Suporter bola cenderung berani melakukan tindakan anarkis saat berada dalam gerombolannya. Namun saat sendirian, mereka akan cenderung takut. 

Hal tersebut disampaikan seorang psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) bernama Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D., untuk menanggapi peristiwa bentrok suporter bola di Jogja pada Senin, 25 Juli 2022 yang lalu. 

Saat itu sempat terjadi kerusuhan di Kawasan Tugu Jogja dan Gejayan hingga viral di media sosial. Kericuhan tersebut terjadi sebelum pertandingan Persis Solo vs Dewa United di Stadion Moch Soebroto, Magelang saat suporter Persis Solo melewati Jogja menuju Magelang.

Koentjoro mengatakan tindakan anarkis maupun vandalisme yang dilakukan oleh suporter sepak bola terjadi karena dipengaruhi oleh jiwa massa. “Anarkisme yang terjadi pada suporter bola ini karena jiwa massa,” jelasnya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, belum lama ini.

Menurutnya seseorang atau individu akan bersikap berbeda saat berada di tengah massa atau gerombolan. Ketika berada di tengah massa akan mendorong munculnya perilaku atau tindakan yang tidak akan dilakukan saat sedang sendiri.

“Jiwa massa ini timbul ketika berada diantara massa dan memunculkan perilaku aneh yang saat dia sendirian tidak akan berani melakukan hal-hal itu. Apalagi ditambah dengan mengenakan pakaian atau atribut yang kemudian menggambarkan itu adalah satu bagian,” jelasnya.

Baca juga: Suporter Bola Bikin Rusuh di Jogja, Sultan: Kenapa Kekerasan Selalu Terjadi?

Saat bersama dengan massa, terlebih ditambah dengan adanya atribut yang menggambarkan seseorang itu menjadi bagian dari kelompok massa tersebut dikatakan Koentjoro menjadikan seseorang berani melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan saat sendiri. Tak hanya pada suporter bola, hal itu juga terjadi pada kerumunan massa lainnya seperti kampanye maupun demonstrasi.

“Misalnya saja di tengah demo atau kampanye ada pemimpin yang meneriakkan kata-kata dan melakukan gerakan tertentu secara tidak sengaja atau tak disadari akan tertular. Orang seringkali kehilangan kesadaran saat sudah berkumpul karena terhipnotis lingkungan,” paparnya.

Pengendalian Massa

Advertisement

Guna mencegah kericuhan massa, Koentjoro menyebutkan pentingnya upaya pengendalian massa. Pengengendalian massa bisa dilakukan memecah massa dalam kelompok-kelompok lebih kecil agar jiwa massa tidak terlalu solid. “Penting memecah massa agar massa tidak terkonsentrasi menjadi satu,”

Ia mengatakan aparat keamanan dapat membuat pengaturan waktu kepulangan suporter dalam beberapa kloter. Selain mengatur rute untuk memecah kerumunan.

“Kalau jiwa sudah dikendalikan massa itu kan susah apalagi kalau ada penyusup dengan tujuan tertentu seperti adu domba atau pun buat konten biar viral. Ini kan mengerikan jadi untuk mencegah kericuhan perlu memecah konsetrasi massa baik lewat pengaturan waktu ataupun rute,” pungkasnya.

Advertisement

Senada, Gubernur DIY Sri Sultan HB X menjelaskan semua pihak harus memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dan menunjukkan bahwa masyarakat memiliki peradaban yang baik. Kelompok suporter sepak bola harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Ia berharap bentrok fisik suporter tidak perlu terjadi lagi.

“Harapan saya hal seperti itu tidak harus terjadi, kalau tidak merasa nyaman ya enggak usah punya komentar di medsos,” kata Sultan, Selasa (26/7/2022).

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Streaming Starjoja FM
alt

Istri di China Menuntut Selingkuhan Suaminya Senilai Rp8,2 Miliar

News
| Senin, 15 Agustus 2022, 23:17 WIB

Advertisement

alt

Tiket Masuk Borobudur dan Pulau Komodo Naik, Sandiaga Uno: Tidak Semua Tiket Destinasi Naik!

Wisata
| Senin, 15 Agustus 2022, 23:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement