Buntut Serangan Ransomware, Jokowi Minta BPKP Audit Tata Kelola Pusat Data Nasional
Presiden Jokowi meminta BPKP untuk melakukan audit tata kelola dan finansial pusat data nasional.
Anggota Jogja Every Core berfoto bersama seusai acara musik yang mereka gelar./Instagram jogjaeverycore
Harianjogja.com, JOGJA — Musik dengan karakter cadas seperti rock, hardcore, punk, hingga grunge pernah begitu diminati kalangan pelajar Jogja beberapa tahun silam. Meski gaungnya kini sedikit tergeser musik folk, dangdut dan koplo, tetapi tidak bagi mereka yang tergabung di Komunitas Jogja Every Core.
Jogja Every Core (JEC) berdiri sejak 2013. Ketua JEC, Anselmus Bagas Putra Kumara menuturkan komunitas ini dibentuk oleh lima grup band besar beraliran hardcore di Jogja yang ingin memiliki wadah untuk mengembangkan skena musik hardcore di Jogja.
Sebelum JEC dibentuk, kata dia, pendiri komunitas ini sudah sering berkegiatan bersama, Namun, JEC secara resmi berdiri ketika mereka menggelar acara pertamanya di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Salah satu founder-nya ketika itu adalah Sulis, salah satu personel grup band Ask To Me.
"Memasuki tahun kesembilan ini, JEC sudah ada empat generasi. Anggotanya sekarang makin luas, mewadahi genre musik selain hardcore juga, seperti metal, pop-punk, emo, dan sejenisnya," ujar pria yang akrab disapa Bugis itu ketika ditemui Harianjogja.com, Selasa (23/8/2022).
Bugis mengaku dirinya termasuk ke dalam generasi keempat di JEC. Dia bergabung ke komunitas ini pada 2017, kemudian menjabat sebagai ketua pada 2020.
"Sekarang di dalamnya bukan hanya musikus saja, tetapi ada pelaku event musik juga. Jadi person boleh bergabung, enggak mesti ngeband," tuturnya.
BACA JUGA: Siap-Siap! Tarif Angkutan Umum Naik sampai 22%
Adapun total anggota yang saat ini bergabung menurut Bugis sekitar 27 pencinta music hardcore. Meski musik cadas ini identik dengan maskulinitas, tetapi nyatanya komunitas ini juga menggaet anggota perempuan.
Bagi JEC, musik bersifat universal, tidak ada batasan apapun, termasuk soal gender.
Bugis menuturkan komunitas ini merupakan wadah berkumpulnya anak-anak muda di Jogja yang menggemari musik hardcore. Biasanya, mereka merupakan kalangan mahasiswa asli Jogja, maupun mahasiswa luar kota yang menempuh ilmu di Kota Pelajar.
"Kami bisa bertahan selama ini karena generasi awal yang sudah senior tetap bisa membaur dengan anggota baru, jadi justru jadi wadah sharing soal kehidupan," kata Bugis.
Setiap bulan, setidaknya mereka menggelar satu acara musik hardcore sebagai ajang unjuk gigi bagi grup band underground di Jogja. Dengan begitu, Bugis meyakini era hardcore akan kembali digilai oleh remaja di Jogja.

Saatnya Bangkit
Saat ini, Bugis tercatat sebagai personel di dua gurp band yang berbeda, yakni Holiday with Masha dan Grass n' Hopper. Pria asal Wates, Kulonprogo ini bahkan sudah ngeband sejak masih duduk di bangku SMP pada 2011.
Menurutnya, periode itu merupakan masa kejayaan musik hardcore di Jogja. Sekitar 2010-2015, musik underground digandrungi pelajar hingga mereka bisa menggelar pentas seni dengan mengundang grup-grup hardcore ngetop di sekolahnya.
"Waktu SMP, aku ngerasain banget jaman kejayaan hardcore lagi bagus dan naik banget. Habis itu, masanya sempat lewat," ujarnya.
Oleh karena itu, JEC berupaya berperan dalam kebangkitan skena musik hardcore di Jogja. Komunitas ini ingin menggerakan grup band underground yang sudah vakum untuk bisa kembali ke panggung.
Nantinya, kata Bugis, JEC tidak hanya akan fokus membuat event musik hardcore. Lebih penting, dia berharap komunitas ini bisa mendorong semua grup band yang bergabung di JEC untuk membuat progres dalam bermusik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Presiden Jokowi meminta BPKP untuk melakukan audit tata kelola dan finansial pusat data nasional.
Harga emas Pegadaian hari ini Kamis 21 Mei 2026 turun. Emas Antam jadi Rp2,862 juta, UBS Rp2,797 juta, dan Galeri24 Rp2,756 juta.
KA Prameks kembali padat penumpang Senin ini, cek jadwal lengkap rute Jogja–Kutoarjo.
Imigrasi Sulsel menemukan WNA asal Filipina dan Malaysia memakai KTP Indonesia untuk mengurus paspor RI di sejumlah daerah.
Prabowo Subianto menegaskan pemerintah siap memakai radar dan satelit untuk melacak aset ilegal serta memburu koruptor hingga bungker bawah tanah.
Jadwal DAMRI Bandara YIA Kamis 21 Mei 2026 melayani rute Jogja dan Sleman dengan tarif Rp80.000 serta konektivitas antarmoda.