Advertisement

BBM Naik, Luas Lahan Garapan Petani Berpotensi Turun

Catur Dwi Janati
Sabtu, 10 September 2022 - 11:07 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
BBM Naik, Luas Lahan Garapan Petani Berpotensi Turun Sejumlah petani dan anggota TNI tengah menyemprotkan cairan pembasmi hama di lahan pertanian Dusun Blumbang, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Rabu (3/4/2019).-Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO-Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dikhawatirkan membuat petani di bagian pesisir mengurangi luasan lahan garapan guna menekan biaya produksi. Para petani pesisir yang masih banyak menggunakan BBM sebagai bahan bakar pompa air penyiraman, berpotensi terdampak atas kenaikan bahan bakar ini.

Ketua kelompok Tani Gisik Pranaji, Desa Bugel, Panjatan, Sukarman menerangkan bila petani lahan pasir sangat tergantung oleh penyiraman secara manual. Penyiraman ini biasanya menggunakan pompa yang ditenagai oleh BBM baik solar maupun bensin. Kenaikan BBM ini pun turut berdampak bagi para petani karena penyiraman menjadi salah satu komponen penting dalam budi daya.

"Penyiraman lahan pasir dibanding dengan konsumsinya [BBM untuk] motor lebih banyak itu [penyiraman]. Minimal setengah hari itu, satu mesin 4-5 liter, satu pompa, bensin atau solar untuk luasan setengah hektare kurang lebih," terangnya pada Jumat (9/9/2022).

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

Hampir 50 persen petani yang tergabung dalam kelompok masih menggunakan BBM sebagai tenaga mesin pompa airnya. Kenaikan BBM juga berpotensi mendorong kenaikan alat dan bahan pertanian seperti bibit, pupuk maupun pestisida. "Dengan ada kenaikan BBM, kenaikan pupuk, kita mau nanam banyak kan mikir-mikir," ujarnya.

Baca juga: BBM Naik, Upah Buruh Jogja Diminta Naik Minimal 25%

Sukarman khawatir para petani akan mengurangi luasan lahan garapannya yang secara tidak langsung berdampak pada jumlah produksi. Bila luasan lahan yang ditanami mengecil, maka produksi akan lebih rendah. Jika semua petani mengurangi luasan tanamnya karena kenaikan BBM, maka produktivitas panen akan berkurang dan hasil panenan yang ada akan jadi mahal harganya karena terbatas.

"Dengan kenaikan BBM ini kemungkinan semakin mengurangi produksinya, sehingga ya nanti kalau produksi cabai berkurang akhirnya ya mahal cabainya. Misalnya dengan susahnya pupuk petani mengurangi penanamannya, BBM bertambah mengurangi luasannya, kan begitu sesuai kemampuan. Dengan akhirnya semua berkurang, otomatis produksinya semakin berkurang, dampaknya kan terjadi kemahalan harga apa-apa, kaya cabai mahal karena yang nanam berkurang," tandasnya.

Energi Alternatif Lain

Selain menggunakan BBM, mesin pompa air sebenarnya dapat ditenagai oleh listrik maupun gas. Sukarman mencatat petani yang menggunakan pompa dengan bahan bakar gas ada sekitar 10 persen, tenaga listrik 40 persen dan sisanya menggunakan BBM. Namun baik bertenaga listrik maupun gas, keduanya juga bukan tanpa kendala.

Advertisement

Sebenarnya pemakaian listrik untuk mesin pompa dinilai Sukarman menjadi paling hemat. Meski harga listrik naik, menurut hitungan Sukarman penggunaan listrik jauh lebih irit ketimbang bahan bakar gas maupun BBM. "Yang paling bagus itu listrik kalau bisa beralih ke listrik semua itu sangat hemat, walaupun harganya listrik dinaikkan tapi masih relevan untuk usaha," tandasnya.

Sayangnya, tak semua lahan pasir terjangkau jaringan listrik. Pemasangan listrik pun tak bisa sembarangan, lantaran lahan yang dipakai ada yang merupakan kontrak karya.

"Sebetulnya tinggal sumbernya saja, kalau ada listrik di situ ya nanti diganti listrik bukan diesel lagi tapi jet pump. Pakai jet pump lebih irit tapi kan yang lahan pantai ini masih di kontak karya jadi tidak boleh pasang listrik di lahan itu. Bisanya cuma nyambung dari rumah diulur kabelnya sepanjang satu kilometer dan sebagainya, naikan daya," tandasnya.

Advertisement

Energi gas juga jadi alternatif lain yang bisa dipakai untuk petani menjalankan pompa-pompa air penyiraman tanaman. Namun Sukaeman menjelaskan bila bahan bakar gas ini sangat tergantung dengan pasokan elpiji. Ketika sedang langka, petani juga bakal kalang kabut mencari gas untuk menghidupkan pompa air.

"Gas tidak terlalu banyak kendala, walaupun lebih hemat [dari BBM] tapi kalau enggak biasa menghidupkannya agak susah kalau yang tidak terbiasa. Kalau yang listrik itu kan pencet saklar sudah hidup. Selain itu tergantung juga sama stok elpiji. Kadang-kadang elpiji juga susah," tukasnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Aris Nugraha menuturkan bila penggunaan bahan bakar gas memiliki tingkat keiritan sampai 50 persen jika dibandingkan dengan penggunaan BBM pada pompa air. Menurutnya banyak petani yang sudah beralih menggunakan gas sebagai bahan bakar untuk menyalakan mesin pompa penyiraman. 

"Ini sudah banyak dipakai dan itu sebelum kenaikan harga BBBM itu bisa menghemat saat itu 50 persen biayanya. Ini tentunya perlu kita kembangkan lagi," terangnya 

Advertisement

Aris menambahkan bila sampai saat ini belum ada kenaikan harga pada alat dan bahan pertanian seperti pupuk maupun bibit. "Harapan kita tidak terjadi [Kenaikan alat dan bahan pertanian] dan komponen BBM ini kan untuk penyiraman ini beberapa petani sudah melaksanakan inovasi dengan menggunakan bahan bakar gas, jadi pompa air dari bensin diubah dengan gas," tandasnya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Demi Prabowo, Gerindra Siap Lawan Anies Baswedan di Pilpres 2024

News
| Selasa, 04 Oktober 2022, 16:17 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement