KONI DIY Bangun Simpalawa, Data Atlet Kini Serba Digital
KONI DIY mengembangkan aplikasi Simpalawa untuk pengelolaan data atlet, pelatih, dan wasit berbasis digital di DIY.
Perwakilan Aliansi Rakyat Peduli Indonesia (ARPI) menggelar jumpa pers./Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, JOGJA — Aliansi Rakyat Peduli Indonesia (ARPI) meminta pemerintah untuk menaikkan upah buruh di Jogja minimal 25% akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Mereka menilai dengan upah yang diterima saat ini, buruh tidak dapat lagi bertahan dan daya beli menurun lantaran harga bahan pokok ikut melonjak.
Koordinator Aliansi Rakyat Peduli Indonesia, Dani Eko Wiyono berharap pemerintah mendengar aspirasi warga yang keberatan dengan kenaikan harga BBM. Menurutnya, efek domino yang ditimbulkan akibat kenaikan BBM sangat banyak.
Terlebih, kata dia, harga bahan pokok di Jogja kini sudah mulai naik. "Rakyat kembali susah dengan ulah pemerintah yang tidak adil. Kami harap ada kenaikan upah buruh di Jogja minimal 25 persen. Kita bisa lihat sendiri bahwa upah buruh Jogja sangat miris di angka Rp2 juta dan itu sudah tidak cukup dan tidak layak buat penghidupan di Jogja," katanya, Kamis (8/9/2022).
ARPI meminta kepada pemerintah untuk membatalkan kenaikan harga BBM, menurunkan harga kebutuhan pokok, dan menaikkan upah buruh minimal 25 persen. "Karena kenaikan harga BBM ini efek dominonya sangat banyak sekali. Kami berharap pemerintah bisa mendengarkan aspirasi masyarakat," katanya.
BACA JUGA: Demo Tolak Kenaikan Harga BBM di Jogja Ricuh, Demonstran: karena DPRD DIY Tak Menemui Massa Aksi
Anggota ARPI, Feldy Nata Kusuma menyatakan, total ada sebanyak 120 juta pekerja informal se-Indonesia yang diprediksi bakal terdampak kenaikan harga BBM. Daya beli buruh disebutnya akan menurun drastis akibat inflasi yang juga naik. Apalagi buruh sudah tiga tahun terakhir tidak mendapat kenaikan gaji yang signifikan akibat pandemi Covid-19.
"Hari ini negara sudah inflasi 6,5 persen dari yang sebelumnya 4,9 persen, artinya buruh yang semula daya belinya turun 30 persen dengan adanya kenaikan BBM jadi semakin menurun jadi 50 persen," ungkapnya.
Sementara, anggota lainnya, Sapta Candra Miarsa meminta pemerintah membatalkan sejumlah proyek ambisius alih-alih menaikkan harga BBM untuk penghematan anggaran. Menurutnya hal itu lebih rasional ketimbang menaikkan harga BBM yang jelas-jelas semakin membuat rakyat sengsara.
"Kenaikan BBM hari ini jelas tidak berdasar, rakyat masih susah kenapa BBM dinaikkan. Kenapa tidak proyek yang menelan dana besar ditunda dulu, IKN dan kereta cepat. Kalau memang pemerintah mau tidak menyusahkan rakyat batalkan saja. Apalagi masyarakat masih merasakan dampak pandemi dan belum sepenuhnya pulih. Maka kami minta pemerintah membatalkan kenaikan BBM," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KONI DIY mengembangkan aplikasi Simpalawa untuk pengelolaan data atlet, pelatih, dan wasit berbasis digital di DIY.
Manchester City vs Chelsea di final Piala FA Wembley. Guardiola dan McFarlane siap duel perebutan gelar.
Milad Aisyiyah ke-109 di Jogja dihadiri 500 peserta. Tekankan dakwah kemanusiaan, UMKM, dan penguatan sosial perempuan.
Top Ten News Jogja 16 Mei 2026: Mandala Krida, 32 anak divisum, SPMB 2026, Waisak, hingga sapi kurban Presiden Prabowo.
Malioboro dipadati 50.138 wisatawan saat long weekend. Puncak kunjungan terjadi malam hari di Jogja.
Jelang peringatan Hari Jadi Ke-110, Kabupaten Sleman dinobatkan sebagai peringkat kedua Kabupaten Paling Maju di Indonesia