Advertisement

Sleman Dukung Indonesia Eliminasi TBC di 2030

Media Digital
Jum'at, 23 September 2022 - 23:37 WIB
Budi Cahyana
Sleman Dukung Indonesia Eliminasi TBC di 2030 Kustini Sri Purnomo - Istimewa

Advertisement

SLEMAN—Penyakit tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang dipicu bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini dapat memicu kematian jika tidak ditangani dengan baik.

Indonesia menjadi negara dengan beban penyakit TBC terbesar ketiga di dunia setelah China, dengan estimasi 824.000 jumlah kasus, dan hanya 47% kasus yang terlaporkan (Global TB Report 2021, WHO). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, cakupan pengobatan TBC secara nasional menurun dari 67% di 2019 menjadi 42% di 2020. Pandemi Covid-19 menyebabkan upaya penanggulangan TBC berbasis masyarakat mengalami hambatan.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menjelaskan di Bumi Sembada TBC menjadi salah satu masalah kesehatan yang belum dapat dituntaskan. Sebagai wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di DIY yaitu 1.089.365 jiwa, realisasi penemuan kasus dan pengobatan TBC pada 2021 baru mencapai 983 kasus, lebih rendah dari target Kementerian Kesehatan sebesar 2.546 kasus.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

"Temuan kasus TBC di Sleman pada 2019 mencapai 61,18 persen. Angka ini turun menjadi 33,36 persen di 2020 namun naik pada 2021 sebesar 35,89 persen. Temuan kasus ini sejatinya belum mencapai target," kata Kustini, Kamis (22/9/2022).

Penanganan TBC, kata Kustini, harus mendapatkan perhatian yang serius. Pasalnya, kasus serta potensi kematian yang dipicu TBC cukup tinggi. Bahkan, dunia secara serentak berkomitmen untuk bebas TBC di 2050, sementara Indonesia berkomitmen untuk menghentikan penularan TBC di 2030. "Kami juga berkomitmen untuk mengeliminasi kasus TBC pada 2030. Komitmen ini tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi menjadi tanggung jawab semua stakeholder," katanya.

Pemkab Sleman menerapkan sejumlah strategi pencegahan, deteksi dan pengobatan TBC. Sleman juga melakukan kampanye Perangi Gejala Batuk Kurang Lebih 2 Minggu atau Perjaka 2M. “Kampanye ini merupakan strategi kampanye investigasi kontak untuk meningkatkan temuan kasus TBC di Sleman,” kata Kustini.

Selain itu, Sleman juga meningkatkan akses layanan pemeriksaan dan diagnostik TBC dengan melengkapi seluruh puskesmas dengan fasilitas dan sumber daya pemeriksaan BTA (bakteri tahan asam) serta dengan tes cepat molekuler yang tersebar di RSUP dr Sarjito, RSUD Sleman, RSUD Prambanan, RSA UGM, Lab Mikrobiologi UGM, dan Puskesmas Ngemplak II.

Sleman juga berupaya meningkatkan temuan kasus bekerja sama dengan seluruh organisasi profesi kesehatan. Selain itu Pemkab Sleman juga menjalin kerja sama dengan lembaga non pemerintah seperti Global Fund dan USAID dalam upaya penguatan sumber daya dan fasilitas. Selain itu, Pemkab Sleman juga berkolaborasi dengan organisasi masyarakat Sinergi TB dalam melatih dan mendampingi para sukarelawan kesehatan untuk membantu peningkatan temuan kasus.

Penanggulangan TB juga dilakukan secara kolektif di seluruh DIY melalui program Zero TB. Bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada, Sleman telah meresmikan Program Zero TB Goes to Sleman melalui skrining kesehatan TBC. "Kami berharap masyarakat dapat mendukung upaya Pemkab dalam pencegahan, deteksi dan pengobatan TBC. Dengan upaya bersama ini diharapkan dapat mewujudkan eliminasi TB di Sleman," kata Kustini. (***)

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Perwakilan Menteri Kesehatan Kerajaan Negeri Melaka, Malaysia menemui Gubernur Ganjar Pranowo

News
| Selasa, 27 September 2022, 15:57 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement