Muktamar Ke-35 NU Tentukan Mekanisme Pilih Ketum PBNU Lewat Voting
Muktamar Ke-35 NU akan menentukan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU lewat voting tertutup setelah dua opsi belum menemui kesepakatan.
Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Lima anak di DIY meninggal dunia akibat gangguan ginjal akut atau acute kidney injury (AKI). Anak menunjukkan gejala demam, batuk, pilek disertai penurunan volume urine, harus segera dibawa ke rumah sakit.
Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembajun Setyaningastutie menjelaskan selama Januari hingga Oktober telah terdeteksi 13 kasus ginjal akut di DIY. Jumlah itu berasal dari delapan anak berusia di bawah lima tahun dan lima anak berusia enam hingga 13 tahun. Dari 13 anak yang menderita gangguan ginjal, lima meninggal dunia. Sementara, yang masih dirawat di RSUP Dr. Sardjito ada enam anak. Dua anak sudah sembuh.
“Dari lima anak yang meninggal itu, empat anak balita, kemudian satu anak usia 10 tahun satu bulan,” katanya, Selasa (18/10/2022).
Dari kasus tersebut, terdapat kasus komplikasi dengan Covid-19 dan dua kasus komplikasi dengan organ tubuh lain seperti jantung atau fungsi lain. Selain itu ada dua anak yang meninggal dunia di PICU (pediatric intensive care unit) rumah sakit. Kondisi itu menunjukkan indikator penanganan darurat pada anak. Selain itu, tiga anak telat dibawa ke rumah sakit karena orang tua mereka menganggap gejala yang diperlihatkan anak-anak biasa saja.
“Awalnya biasa tetapi makin banyak, akhirnya jadi satu KLB, kasus yang tidak biasa. Kebanyakan memang tidak diketahui etiologi atau penyebabnya. IDAI juga sedang mengevaluasi ini,” ujarnya.
Ia menambahkan sejumlah gejala dari penyakit ginjal akut ini di antaranya demam, batuk pilek, mual atau muntah pada anak. Kemudian pada hari ketiga hingga kelima, volume urine pada anak tersebut mulai menurun, urine berwarna keruh. Bahkan ada beberapa anak yang tidak bisa mengeluarkan urine.
“Urine sangat sedikit, karena tidak ada yang bisa dikeluarkan. Ketika sudah seperti ini harus diwaspadai, jangan-jangan ginjal tidak bisa berfungsi dengan baik, maka harus segera dibawa ke fasyankes secepatnya,” katanya.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu khawatir atau panik berlebihan dalam merespons kondisi ini. Dia meminta masyarakat agar tetap mewaspadai penularan Covid-19 dengan tetap menjaga prokes, karena ada kasus yang disebabkan oleh komplikasi Covid-19.
BACA JUGA: Gangguan Ginjal Misterius pada Anak Bermunculan, Diduga Berkaitan dengan Covid-19
“Selanjutnya harus mematuhi PHBS [perilaku hidup bersih dan sehat],” katanya.
Sebanyak 10 dari 13 kasus yang terungkap di DIY tidak diketahui penyebabnya. Kasus ini sedang diteliti para pakar dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementerian Kesehatan. Menurutnya banyak pihak yang masih kebingungan karena anak-anak yang terkena tidak memiliki catatan gagal ginjal.
“Makanya sering disebut ini misterius karena tidak diketahui apa penyebabnya, ini gagal ginjal tetapi tidak diketahui penyebabnya,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Muktamar Ke-35 NU akan menentukan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU lewat voting tertutup setelah dua opsi belum menemui kesepakatan.
Hutan lereng Merapi sisi selatan memiliki medan lebat dan terjal. Tim SAR mengimbau warga tidak masuk hutan seorang diri.
Budi Gunadi Sadikin mengungkap alasan maju sebagai calon Dirjen WHO atas amanah Presiden Prabowo Subianto. Ini tahapan pemilihannya.
Ondrej Rudzan membidik starting XI PSIM Jogja. Bek Republik Ceko itu siap bermain di posisi apa pun demi membantu tim meraih kemenangan.
DPRD DIY menyoroti kesiapan SAR menghadapi bencana. Basarnas Jogja memiliki 117 personel dan belum punya alut untuk operasi SAR di tengah laut.
TelkomGroup Prioritaskan Stabilitas Jaringan Selama Fase Normalisasi Pascabencana