PCA Ngampilan Gelar Milad Aisyiyah ke-109, Ini Dakwah Kemanusiaannya
Milad Aisyiyah ke-109 di Jogja dihadiri 500 peserta. Tekankan dakwah kemanusiaan, UMKM, dan penguatan sosial perempuan.
Danang Maharsa/Istimewa
SLEMAN-Bulan ini bangsa Indonesia kembali memperingati hari Sumpah Pemuda, sebuah peristiwa penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Sumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak dalam proses pembentukan kebangsaan Indonesia.
Pada 27-28 Oktober 1928, pemuda dari berbagai organisasi yang berasal dari seluruh penjuru Nusantara menggelar kongres di Jakarta. Pada akhir kegiatan mereka mengumandangkan ikrar Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia. Mereka berjanji untuk bersatu membangun landasan berdirinya sebuah negara, kemudian 17 tahun kemudian negara Indonesia berdiri setelah melewati perjuangan yang heroik
"Sekarang, 94 tahun sesudah peristiwa itu, apa yang bisa kita kerjakan? Bersyukur dan mendoakan arwah para pendiri bangsa? Sudah tentu hal itu kita lakukan," kata Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa saat ditemui, Rabu (26/10).
Meski telah berdoa, hal itu belum cukup. Syukur yang sebenar-benarnya yakni dengan merawat apa yang diwariskan para pendiri bangsa. “Bung Karno pernah menyebut, perjuanganmu [perjuangan kita saat ini] lebih berat karena musuh yang dihadapi adalah bangsa sendiri. Dulu, musuh yang dihadapi jelas yakni penjajah Belanda. Sekarang yang kita hadapi adalah musuh yang sulit dilihat secara fisik tetapi daya hancurnya luar biasa. Gempuran ideologi dan budaya asing dilancarkan melalui Internet sehingga langsung masuk ke relung-relung hati dan pikiran para pemuda," kata Danang.
Saat ini, dibutuhkan upaya untuk terus merawat spirit Sumpah Pemuda sesuai tantangan zaman. salah satu caranya dengan menyaring informasi dengan baik sebelum menyebarkan. Jika isinya menimbulkan perpecahan, maka jangan disebarkan. Selain itu, masyarakat harus selalu berpegang pada fakta dan akal sehat saat membaca informasi di media sosial.
"Cara lain yang dapat dilakukan adalah berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dengan demikian, kita bisa merawat semangat Sumpah Pemuda dan memupuk persatuan bangsa," katanya.
Dalam penggunaan bahasa Indonesia, dia membayangkan seandainya orang yang lahir, tumbuh dan dewasa di Sleman suatu waktu berkunjung ke Papua atau ke Sulawesi atau ke Aceh, tentu sangat sulit berkomunikasi dengan penduduk setempat. Dengan pelajaran bahasa Indonesia bagi semua siswa di seluruh Indonesia, maka orang dari suku Jawa tetap bisa berkomunikasi dan bersahabat dengan orang Batak, orang Dayak dan lainnya. Oleh karena itu, Danang mengajak masyarakat untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sekaligus bangga berbahasa Indonesia.
"Contohnya, kita sudah mempunyai sebutan yang bagus untuk orang tua yaitu ayah dan ibu. Kenapa harus meminjam sebutannya bangsa asing dengan menyebut abi dan umi? Kita sudah punya sebutan yang khas seperti Anda atau kamu; kenapa harus mengatakan ente atau antum? Begitu pula dalam bahasa Inggris. Jika sudah ada ungkapan baku dalam bahasa Indonesia, kenapa harus sok Inggris?" kata Danang. (***)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Milad Aisyiyah ke-109 di Jogja dihadiri 500 peserta. Tekankan dakwah kemanusiaan, UMKM, dan penguatan sosial perempuan.
Anwar Ibrahim mendesak Israel segera membebaskan aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan saat membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Polresta Sleman kembali membuka peluang restorative justice dalam kasus Shinta Komala terkait dugaan penggelapan iPhone 14.
Kasus kekerasan seksual santri di Lombok Tengah mengungkap penggunaan aplikasi khusus gay oleh tersangka berinisial YMA.
Transformasi ekonomi DIY dinilai tak bisa dipisahkan dari budaya lokal yang menjadi fondasi pengembangan ekonomi kreatif Yogyakarta.
Satpol PP Solo meminta pedagang olahan daging anjing beralih usaha sesuai Perda Tertib Pangan Kota Solo 2025.