MAXI Yamaha Day 2026 Tawangmangu Satukan Ratusan Bikers Jateng
MAXI Yamaha Day 2026 di Tawangmangu diikuti lebih dari 700 bikers dan ribuan pengunjung, menghadirkan touring, hiburan, serta aksi sosial.
Suasana Simposium Khatulistiwa 2022 di Gedung Pascasarjana ISI Jogja dengan bahasa Seni dan Aktivisme di tengah Kapitalisme Mutakhir pada Jumat (28/10/2022). - Harian Jogja / Triyo Handoko
Harianjogja.com, JOGJA—Yayasan Biennale Jogja (YBJ) menyelenggarakan Simposium Khatulistiwa 2022 di Gedung Pascasarjana ISI Jogja selama dua hari pada Jumat (28/10/2022) dan Sabtu (29/10/2022). Simposium itu berisi pemaparan delapan tema dengan tajuk utama Solidaritas Transnasional dan Gerakan Translokal, yang dimaksudkan untuk menjadi pertemuan antara seniman dan akademisi dalam proses kreatif penciptaan karya seni.
Tajuk tersebut dipilih untuk menjembatani tema penyelenggaraan pameran Biennale Jogja selama sepuluh tahun terakhir dengan yang akan datang. Dalam pameran 2011-2021, pameran Biennale Jogja berseri Equator 1 dan akan disambung Equator 2 mulai tahun depan.
Simposium Khatulistiwa tersebut dimaksudkan jadi ruang kontemplatif untuk mengevaluasi penyelenggaraan pameran Biennale sebelumnya. Bahan evaluasi tersebut kemudian dijadikan wahana untuk menggali hal-hal baru dalam penyelenggaraan pameran Biennale di masa mendatang.
Direktur YBJ, Alia Swastika menjelaskan bahwa posisi simposium ini penting dalam penyelenggaraan pameran Biennale. “Supaya para seniman punya isu-isu baru, pemahaman, dan perspektif baru dalam kesenian untuk bisa diwujudkan dalam karya seni mereka,” jelasnya, Jumat (28/10/1011).
Alia menyebut hubungan seniman dengan konteks sosial yang menyertai proses berkesenian merupakan hal penting. Dengan begitu, kata dia, karya yang dihasilkan tidak menjadi menara gading semata, akan tetapi benar-benar lahir dari proses yang dekat dengan masalah sosial yang ada.
Selain itu, Alia berharap lewat simposium ini ada regenerasi isu dan peneliti muda. “Sirkulasi isu dan pengetahuan biar tidak terpusat tapi bisa didistribusikan seluas-luasnya, sedangkan regenerasi kami berikan kesempatan pada delapan peneliti muda untuk mempresentasikan temuan-temuannya,” katanya.
Distribusi pengetahuan, jelas Alia, jadi semangat Biennale. Hal itu diwujudkan dengan membuka peluang kerjasama dengan negara-negara lain yang lebih luas.
“Mulai tahun depan kami juga akan membuka peluang kerjasama dengan negara-negara lain yang lebih luas untuk pameran Biennale, harapannya semakin luas jejaring yang kami miliki, pengetahuan dapat didistribusikan secara merata dan adil,” jelasnya.
Perumus Simposium Khatulistiwa 2022, Mitha Budhyarto mengaku puas dengan hasil perumusannya. “Kalau lihat pesertanya yang banyak ini pasti puas karena membuktikan bahwa tema-tema simposium yang kami selenggarakan punya relevansi dengan banyak orang sehingga dibutuhkan,” katanya.
Mitha yang merupakan dosen LASALLE College of the Arts di Singapura menjelaskan proses perumusan tematik simposium cukup matang lantaran berbagai aspek dipertimbangkan, mulai dari pembicara, tema, hingga kebutuhan audiens. “Tema utama itu kami buat juga sesuai dengan grand design penyelenggaraan Equator 2, jadi pasti relevan dengan apa yang akan dikerjakan selanjutnya,” ujarnya.
Salah satu pemapar simposium, Benny Widyo menyebut sangat terbantu dengan kegiatan tersebut. “Karena aktivitas berkesenian saya yang notabene berada di pinggiran yaitu Tulungagung, Jawa Timur jadi bisa mengayak ulang proses-proses berkesenian untuk dibahas bersama di forum internasional ini,” katanya.
Simposium Khatulistiwa 2022, bagi Benny, jadi ruang penting untuk saling bertukar gagasan dalam berkesenian. “Distribusi pengetahuan terjadi di sini, dan kami yang dari pinggiran tentu sangat terbantu,” ujarnya.
Benny berharap kegiatan serupa diperbanyak lagi. “Terutama yang melibatkan seniman-seniman dari pinggiran supaya ada keadilan akses yang merata, karena seniman dimanapun pasti punya potensinya sendiri-sendiri,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
MAXI Yamaha Day 2026 di Tawangmangu diikuti lebih dari 700 bikers dan ribuan pengunjung, menghadirkan touring, hiburan, serta aksi sosial.
Tiga penyebab WiFi lemot di rumah modern yang sering terabaikan serta cara mengatasinya agar koneksi lebih stabil.
Korea Selatan vs Meksiko di Piala Dunia 2026 jadi laga krusial Grup yang berpotensi menentukan tiket awal ke babak 32 besar.
Bakamla RI lirik DIY sebagai titik strategis pengawasan Laut Selatan dalam sistem keamanan maritim nasional terintegrasi.
Kanada vs Qatar di Piala Dunia 2026 jadi laga krusial Grup B dengan peluang seimbang dan tekanan besar bagi kedua tim.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo 19 Mei 2026 dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.