Advertisement

Simposium Khatulistiwa 2022: Ruang Pertemuan Perupa dengan Ide Berkesenian Baru

Media Digital
Senin, 31 Oktober 2022 - 05:37 WIB
Lajeng Padmaratri
Simposium Khatulistiwa 2022: Ruang Pertemuan Perupa dengan Ide Berkesenian Baru Suasana Simposium Khatulistiwa 2022 di Gedung Pascasarjana ISI Jogja dengan bahasaSeni dan Aktivisme di tengah Kapitalisme Mutakhirpada Jumat (28/10/2022). - Harian Jogja - Triyo Handoko

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Yayasan Biennale Jogja (YBJ) menyelenggarakan Simposium Khatulistiwa 2022 di Gedung Pascasarjana ISI Jogja selama dua hari pada Jumat (28/10/2022) dan Sabtu (29/10/2022). Simposium itu berisi pemaparan delapan tema dengan tajuk utama Solidaritas Transnasional dan Gerakan Translokal, yang dimaksudkan untuk menjadi pertemuan antara seniman dan akademisi dalam proses kreatif penciptaan karya seni.

Tajuk tersebut dipilih untuk menjembatani tema penyelenggaraan pameran Biennale Jogja selama sepuluh tahun terakhir dengan yang akan datang. Dalam pameran 2011-2021, pameran Biennale Jogja berseri Equator 1 dan akan disambung Equator 2 mulai tahun depan.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Simposium Khatulistiwa tersebut dimaksudkan jadi ruang kontemplatif untuk mengevaluasi penyelenggaraan pameran Biennale sebelumnya. Bahan evaluasi tersebut kemudian dijadikan wahana untuk menggali hal-hal baru dalam penyelenggaraan pameran Biennale di masa mendatang.

Direktur YBJ, Alia Swastika menjelaskan bahwa posisi simposium ini penting dalam penyelenggaraan pameran Biennale. “Supaya para seniman punya isu-isu baru, pemahaman, dan perspektif baru dalam kesenian untuk bisa diwujudkan dalam karya seni mereka,” jelasnya, Jumat (28/10/1011).

Alia menyebut hubungan seniman dengan konteks sosial yang menyertai proses berkesenian merupakan hal penting. Dengan begitu, kata dia, karya yang dihasilkan tidak menjadi menara gading semata, akan tetapi benar-benar lahir dari proses yang dekat dengan masalah sosial yang ada.

Selain itu, Alia berharap lewat simposium ini ada regenerasi isu dan peneliti muda. “Sirkulasi isu dan pengetahuan biar tidak terpusat tapi bisa didistribusikan seluas-luasnya, sedangkan regenerasi kami berikan kesempatan pada delapan peneliti muda untuk mempresentasikan temuan-temuannya,” katanya.

Distribusi pengetahuan, jelas Alia, jadi semangat Biennale. Hal itu diwujudkan dengan membuka peluang kerjasama dengan negara-negara lain yang lebih luas.

“Mulai tahun depan kami juga akan membuka peluang kerjasama dengan negara-negara lain yang lebih luas untuk pameran Biennale, harapannya semakin luas jejaring yang kami miliki, pengetahuan dapat didistribusikan secara merata dan adil,” jelasnya.

Advertisement

Perumus Simposium Khatulistiwa 2022, Mitha Budhyarto mengaku puas dengan hasil perumusannya. “Kalau lihat pesertanya yang banyak ini pasti puas karena membuktikan bahwa tema-tema simposium yang kami selenggarakan punya relevansi dengan banyak orang sehingga dibutuhkan,” katanya.

Mitha yang merupakan dosen LASALLE College of the Arts di Singapura menjelaskan proses perumusan tematik simposium cukup matang lantaran berbagai aspek dipertimbangkan, mulai dari pembicara, tema, hingga kebutuhan audiens. “Tema utama itu kami buat juga sesuai dengan grand design penyelenggaraan Equator 2, jadi pasti relevan dengan apa yang akan dikerjakan selanjutnya,” ujarnya.

Salah satu pemapar simposium, Benny Widyo menyebut sangat terbantu dengan kegiatan tersebut. “Karena aktivitas berkesenian saya yang notabene berada di pinggiran yaitu Tulungagung, Jawa Timur jadi bisa mengayak ulang proses-proses berkesenian untuk dibahas bersama di forum internasional ini,” katanya.

Advertisement

Simposium Khatulistiwa 2022, bagi Benny, jadi ruang penting untuk saling bertukar gagasan dalam berkesenian. “Distribusi pengetahuan terjadi di sini, dan kami yang dari pinggiran tentu sangat terbantu,” ujarnya.

Benny berharap kegiatan serupa diperbanyak lagi. “Terutama yang melibatkan seniman-seniman dari pinggiran supaya ada keadilan akses yang merata, karena seniman dimanapun pasti punya potensinya sendiri-sendiri,” tegasnya.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Gunung Semeru Masih Luncurkan Awan Panas

News
| Senin, 05 Desember 2022, 11:57 WIB

Advertisement

alt

Jangan Sampai Salah, Hotel 26 Lantai di China Ini Khusus untuk Babi

Wisata
| Minggu, 04 Desember 2022, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement