Solusi Bangun Indonesia Dorong Inovasi Material Rendah Karbon untuk Konstruksi
Dampak perubahan iklim yang semakin terasa, mulai dari peningkatan suhu hingga perubahan pola cuaca, menjadi tantangan dalam pembangunan gedung
Suasana Simposium Khatulistiwa 2022 di Gedung Pascasarjana ISI Jogja dengan bahasa Seni dan Aktivisme di tengah Kapitalisme Mutakhir pada Jumat (28/10/2022). - Harian Jogja / Triyo Handoko
Harianjogja.com, JOGJA—Yayasan Biennale Jogja (YBJ) menyelenggarakan Simposium Khatulistiwa 2022 di Gedung Pascasarjana ISI Jogja selama dua hari pada Jumat (28/10/2022) dan Sabtu (29/10/2022). Simposium itu berisi pemaparan delapan tema dengan tajuk utama Solidaritas Transnasional dan Gerakan Translokal, yang dimaksudkan untuk menjadi pertemuan antara seniman dan akademisi dalam proses kreatif penciptaan karya seni.
Tajuk tersebut dipilih untuk menjembatani tema penyelenggaraan pameran Biennale Jogja selama sepuluh tahun terakhir dengan yang akan datang. Dalam pameran 2011-2021, pameran Biennale Jogja berseri Equator 1 dan akan disambung Equator 2 mulai tahun depan.
Simposium Khatulistiwa tersebut dimaksudkan jadi ruang kontemplatif untuk mengevaluasi penyelenggaraan pameran Biennale sebelumnya. Bahan evaluasi tersebut kemudian dijadikan wahana untuk menggali hal-hal baru dalam penyelenggaraan pameran Biennale di masa mendatang.
Direktur YBJ, Alia Swastika menjelaskan bahwa posisi simposium ini penting dalam penyelenggaraan pameran Biennale. “Supaya para seniman punya isu-isu baru, pemahaman, dan perspektif baru dalam kesenian untuk bisa diwujudkan dalam karya seni mereka,” jelasnya, Jumat (28/10/1011).
Alia menyebut hubungan seniman dengan konteks sosial yang menyertai proses berkesenian merupakan hal penting. Dengan begitu, kata dia, karya yang dihasilkan tidak menjadi menara gading semata, akan tetapi benar-benar lahir dari proses yang dekat dengan masalah sosial yang ada.
Selain itu, Alia berharap lewat simposium ini ada regenerasi isu dan peneliti muda. “Sirkulasi isu dan pengetahuan biar tidak terpusat tapi bisa didistribusikan seluas-luasnya, sedangkan regenerasi kami berikan kesempatan pada delapan peneliti muda untuk mempresentasikan temuan-temuannya,” katanya.
Distribusi pengetahuan, jelas Alia, jadi semangat Biennale. Hal itu diwujudkan dengan membuka peluang kerjasama dengan negara-negara lain yang lebih luas.
“Mulai tahun depan kami juga akan membuka peluang kerjasama dengan negara-negara lain yang lebih luas untuk pameran Biennale, harapannya semakin luas jejaring yang kami miliki, pengetahuan dapat didistribusikan secara merata dan adil,” jelasnya.
Perumus Simposium Khatulistiwa 2022, Mitha Budhyarto mengaku puas dengan hasil perumusannya. “Kalau lihat pesertanya yang banyak ini pasti puas karena membuktikan bahwa tema-tema simposium yang kami selenggarakan punya relevansi dengan banyak orang sehingga dibutuhkan,” katanya.
Mitha yang merupakan dosen LASALLE College of the Arts di Singapura menjelaskan proses perumusan tematik simposium cukup matang lantaran berbagai aspek dipertimbangkan, mulai dari pembicara, tema, hingga kebutuhan audiens. “Tema utama itu kami buat juga sesuai dengan grand design penyelenggaraan Equator 2, jadi pasti relevan dengan apa yang akan dikerjakan selanjutnya,” ujarnya.
Salah satu pemapar simposium, Benny Widyo menyebut sangat terbantu dengan kegiatan tersebut. “Karena aktivitas berkesenian saya yang notabene berada di pinggiran yaitu Tulungagung, Jawa Timur jadi bisa mengayak ulang proses-proses berkesenian untuk dibahas bersama di forum internasional ini,” katanya.
Simposium Khatulistiwa 2022, bagi Benny, jadi ruang penting untuk saling bertukar gagasan dalam berkesenian. “Distribusi pengetahuan terjadi di sini, dan kami yang dari pinggiran tentu sangat terbantu,” ujarnya.
Benny berharap kegiatan serupa diperbanyak lagi. “Terutama yang melibatkan seniman-seniman dari pinggiran supaya ada keadilan akses yang merata, karena seniman dimanapun pasti punya potensinya sendiri-sendiri,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dampak perubahan iklim yang semakin terasa, mulai dari peningkatan suhu hingga perubahan pola cuaca, menjadi tantangan dalam pembangunan gedung
Juventus mengawali Liga Europa 2026/2027 dengan kemenangan 5-0 atas NEC Nijmegen. Lima pemain berbeda mencetak gol, sementara Milan kalah dari Benfica.
Harga rumah kian mahal, Pemda DIY petakan kebutuhan rusun dan hunian vertikal bergaya tradisional Jawa untuk masyarakat di kawasan Kartamantul.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk 1001 Tanya untuk Wakil Rakyat di Terban, Kemantren Gondokusuman.
Jadwal layanan SIM Station Terminal Dhaksinarga Gunungkidul Jumat 18 September 2026. Lengkap dengan syarat BPJS Kesehatan dan lokasi SIM Keliling.
DPUPKP Sleman memperingatkan ancaman krisis hunian 10-20 tahun mendatang dan mendorong pengembangan hunian vertikal bagi warga berpenghasilan rendah.