Advertisement

Mengurai Benang Kusut Pembelajaran Sastra Indonesia di Kampus, TBY Gelar Diskusi

Arief Junianto
Rabu, 16 November 2022 - 06:47 WIB
Arief Junianto
Mengurai Benang Kusut Pembelajaran Sastra Indonesia di Kampus, TBY Gelar Diskusi Para narasumber saat berbicara di acara Diskusi Sastra TBY, Selasa (15/11/2022). - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Dalam beberapa tahun terakhir, peminat Sastra Indonesia di sejumlah kampus terus meningkat. Dengan begitu, seharusnya iklim kesusasteraan, khususnya sastra Indonesia bisa lebih hidup dan bergeliat. Seharusnya pula para kritikus sastra dan juga sastrawan banyak dilahirkan secara akademis.

Banyaknya novel-novel Best Seller yang mengonggok di rak-rak toko buku disinyalir menjadi alasan banyaknya lulusan SMA yang berniat belajar lebih dalam soal kesusasteraan di bangku kuliah.

Advertisement

Namun, faktanya tak demikian. Selama ini sastrawan dan kritikus sastra justru banyak lahir dari kantong-kantong sastra di luar dunia akademis. Kalau pun ada, jumlahnya tak sebanding dengan peningkatan jumlah peminat Sastra Indonesia di sejumlah kampus yang memiliki program studi tersebut.

Belum lagi munculnya klaim-klaim atas genre baru sastra dari lingkungan akademis seperti misalnya botani sastra, zoologi sastra, sastra gastronomi, hingga sastra pariwisata dinilai justru memperkeruh suasana.

Alih-alih memperkaya khazanah kesusasteraan Indonesia, munculnya genre-genre tersebut justru memperkuat stigma bahwa lingkungan akademik memang benar-benar gagal dalam mengembangkan sastra Indonesia.

Tak heran jika banyak kalangan pencinta sastra Indonesia menilai kesusasteraan Indonesia, terutama di lingkungan akademis tengah sakit. Anggapan inilah yang kemudian seolah menegaskan bahwa bisa jadi ada yang salah dengan pembelajaran sastra selama ini. 

Itulah sebabnya, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menjadikan persoalan tersebut sebagai tema dalam Diskusi Sastra yang bertajuk Sastra Indonesia Sakit dan Terluka di Kampus yang digelar di Ruang Seminar TBY, Selasa (15/11/2022).

Sebagai dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM sekaligus novelis, Ramayda Akmal mengamini segala persoalan tersebut.

Hanya saja, dia lebih menegaskan pada dikotomi peran akademisi sastra dan sastrawan itu sendiri. “Menjadi sastrawan dan akademisi [sastra] itu dua hal yang berbeda. Jika sastrawan bisa lebih bebas dalam merefleksikan realita dalam karya-karyanya, tidak demikan halnya dengan akademisi yang terikat dengan kaidah-kaidah keilmuan,” kata Aida, sapaan akrabnya saat menjadi narasumber dalam diskusi tersebut, Selasa.

Begitu pula dengan klaim-klaim genre baru sastra yang belakangan ini muncul, dia menilai bahwa secara tanggung jawab akademis, semua genre tersebut sangat lemah. “Tidak bisa begitu saja dua ilmu yang independen digabungkan menjadi satu. Sebuah ilmu memiliki akar logos-nya masing-masing,” kata dia.

Sementara soal pedagogi, pengarang novel Jatisaba ini tak menampik bahwa Kurikulum Merdeka Belajar tetap bermuara pada penyiapan mahasiswa agar siap “mengabdi” untuk para pemilik modal kapital.

Itulah sebabnya, tak heran jika pola pendidikan, tak terkecuali sastra, juga cenderung pragmatis dan empiris.  

Senada, Dosen Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan, Dedi Pramono persoalan letak peran akademis dalam membentuk iklim sastra hanya lah soal cara pandang. “Sejauh pengamatan saya, mereka menjadikan pembelajaran sastra bukan sebagai profesi, melainkan cara pandang dan di titik tertentu sebagai lakuan hidup,” kata dia. “Maka tak heran, ketika saya tanya kenapa kamu masuk Sastra Indonesia, nyaris tak ada yang bilang ingin jadi sastrawan.”

Sastra Populer

Ternyata hal itu tak sepenuhnya benar. Raihan Robby, mahasiswa Sastra Indonesia UNY yang sempat melakukan penelitian terhadap motivasi mahasiswa baru memilih Sastra Indonesia, menemukan fakta lain.

“Kebanyakan dari mahasiswa baru itu menjawab bahwa mereka masuk jurusan ini [Sastra Indonesia] justru ingin menjadi sastrawan,” kata dia.

Hanya saja, referensi para mahasiswa baru bukanlah karya-karya sastra era 1990-awal 2000. “Referensi mereka adalah misalnya novel-novelnya Tere Liye,” imbuh dia.

Inilah yang bisa jadi menjadi penyebab terjadinya “seleksi alam” di dunia akademis sastra. Mereka yang sejak awal bermimpi mendapatkan ilmu tentang bagaimana menulis sastra dengan acuan sastra populer, justru dicekoki dengan genre sastra yang sama sekali tak pernah mereka bayangkan. “Bahkan untuk mencari bukunya itu pun, mereka kesulitan,” ucap dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Antisipasi El Nino, Mentan Siapkan Pompa Air untuk Cegah Kekeringan Lahan Pertanian

News
| Rabu, 19 Juni 2024, 19:47 WIB

Advertisement

alt

Indonesia Punya Pantai Terbaik untuk Berselancar, Ini Daftarnya

Wisata
| Senin, 17 Juni 2024, 15:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement