Advertisement

72 Festival di Jogja Hasilkan Ratusan Miliar Rupiah, Regulasi Kerap Jadi Penghambat

Triyo Handoko
Minggu, 27 November 2022 - 21:37 WIB
Arief Junianto
72 Festival di Jogja Hasilkan Ratusan Miliar Rupiah, Regulasi Kerap Jadi Penghambat Pembukaan ArtJog 2022, salah satu festival terbesar dan tertua di Jogja yang terus eksis. - Harian Jogja/Triyo Handoko

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA — Jogja Festivals Forum & Expo (JFFE) 2022 mencatat ada 72 festival di Jogja. Sementara penelitian yang dilakukan JFFE pada 12 festival pada 2019 menyebut ada Rp114 miliar uang yang berhasil diputarkan selama penyelenggaraan 12 festival tersebut.

Dari 72 festival tersebut, menurut JFFE, berhasil menarik 245.200 orang yang berkunjung. Festival paling banyak menghasilkan perputaran uang di Jogja adalah ArtJog. Festival yang kerap disebut Lebarannya seni rupa itu dapat menghasilkan sekitar Rp72 miliar dalam sebulan penyelenggaraannya.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Peran strategis festival dalam ekonomi dan pariwisata tersebut jadi salah satu visi JFFE agar bisa terus meningkatkan kemampuan penyelenggaranya dan menguatkan ekosistem yang sudah terbangun.

Regulasi jadi salah satu isu yang terus didorong agar mendukung visi tersebut pada Forum JFFE di Royal Ambarukmo Yogyakarta, Minggu (27/11/2022). 

BACA JUGA: Cegah Longsor di Bukit Bintang, Bahu Jalan Akan Diperkuat

Ketua JFFE 2022, RM Satya Brahmantya menjelaskan ekosistem festival di Jogja yang organik jadi kunci kesuksesan tersebut. “Festival di Jogja itu organik, tumbuh secara mandiri dan kreatif, banyak saya temukan penyelenggara festival di daerah lain kebanyakan jebolan Jogja,” jelasnya.

Ekosistem festival yang sudah mapan tersebut, jelas Brahm, harus didukung oleh regulasi. “Harapannya lewat forum ini ada regulasi satu pintu yang memudahkan penyelenggara festival,” katanya.

Kemudahan perizinan, lanjut Brahm, diperlukan karena penyelenggara festival di Jogja tak hanya berasal dari Jogja. “Ada banyak penyelenggara dari luar Jogja yang menyelenggarakan festival di Jogja, ini perlu regulasi yang tidak ribet,” ujarnya.

Selain regulasi, fasilitas penyelenggaraan festival terutama tempat jadi sorotan JFFE. “Sedikit venue yang bisa digunakan untuk festival di Jogja, untuk JEC buat Kustomfest itu secara kapasitas pengunjung belum memenuhi, di JEC hanya bisa 7.000 orang sedangkan Kustomfest itu bisa menyedot hingga 32.000 pengunjung,” jelas Braham.

Sementara untuk Jogja National Museum sebagai tempat penyelenggara ArtJog, jelas Brahm, sebenarnya belum cukup representatif untuk penyelenggaraan lebarannya seni rupa. “JNM itu dulu kan mangkrak, yang menyulapnya seperti sekarang yang jauh lebih baik itu juga dari ArtJog, penting juga ada perbaikan atau penambahan venue festival di Jogja,” ujar dia.

Direktur Pelaksana Jogja Festivals, Dinda Intan Pramesti Putri menyebut festival di Jogja sebagai daya tarik wisatawan karena penyelenggaranya yang rutin tiap tahun.

“Selain rutin, festival itu kan selalu ada hal yang baru yang ditampilkan dan ini jadi nilai jualnya karena terus diikuti oleh penikmatnya yang memang ada komunitasnya tersendiri,” jelasnya.

Intan menyebut Jogja sebetulnya memiliki ratusan festival. “Kalu menghitung yang tradisi, misalnya seperti merti desa, merti kali yang dikelola langsung oleh masyarakat jumlahnya bisa ratusan,” katanya.

Sehingga Jogja layak disebut sebagai Kota Festival. “Pemda DIY juga sudah cukup responsif membantu penyelenggaraan festival, semoga bisa ditingkatkan lagi karena perannya memang strategis dan multisektor,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Siswi SMP di Klaten Jadi Korban Kekerasan Seksual hingga Ratusan Kali

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 17:47 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Kampung Batik Giriloyo yang Sempat Terpuruk Karena Gempa 2006

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 13:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement