Advertisement

Di Pilpres 2024, Masyarakat Jogja Lebih Memilih Capres yang Mengusung Toleransi

Lugas Subarkah
Rabu, 30 November 2022 - 06:17 WIB
Budi Cahyana
Di Pilpres 2024, Masyarakat Jogja Lebih Memilih Capres yang Mengusung Toleransi CEO Kolasse, Arga Pribadi Imawan (kiri) dan Dosen Ilmu Pemerintaahn STPMD APMD yang juga anggota Pusat Studi Pancasila UGM, Diasma Swandi Swandaru (kanan) dalam rilis hasil penelitian Perilaku Pemilih dan Ikatan Sosial Masyarakat di DIY, di Kolektif Collaboration Space, Sleman, Selasa (29/11/2022). - Harian Jogja/Lugas Subarkah

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Masyarakat Jogja dan sekitarnya di DIY lebih memilih calon presiden atau capres yang mengusung nilai toleransi dan enggan memilih capres yang memainkan politik identitas.

Di daerah dengan tingkat keberagaman yang tinggi, masyarakat DIY memiliki preferensi politik yang inklusif. Mereka cenderung mencari partai atau pemimpin yang dekat dengan rakyat dan tidak mengusung politik identitas.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Hal ini dikemukakan dalam hasil penelitian Kolaborasi Strategis (Kolasse) yang berjudul Perilaku Pemilih dan Ikatan Sosial Masyarakat di DIY, Selasa (29/11/2022). Penelitian ini melibatkan 500 responden yang diambil dari setiap Kabupaten dan Kota di DIY.

Dosen Ilmu Pemerintahan STPMD APMD yang juga anggota Pusat Studi Pancasila UGM, Diasma Swandi Swandaru, menjelaskan masayrakat DIY memilik ikatan sosial yang sangat kuat, karena sistem kekerabatan dan kekeluargaan masih hidup.

“Ketika ini dikaitkan dengan Pancasila, otomatis yang diingat oleh warga DIY, yang pertama adalah kesatuan. Ada korelasi antara kondisi sosial dengan pencerminan nilai Pancasila. Yang pertama kesatuan, yang kedua gotongroyon, ketiga ketuhanan,” ujarnya.

Hal ini menjadi modal sosial yang penting dalam sebuah pembangunan dan demokrasi. Hal ini dibuktikan dalam riset Kolasse yang menyebutkan lebih dari 90% responden mengaku tidak keberatan bertetangga dengan orang yang berbeda suku maupun agama.

“Ini adalah bagaimana sikap inklusif terbuka terhadap keberagaman. Berkorelasi secara politik. Perilaku sosiologis kultural akhirnya berkorelasi pada perilaku pemilih ketika di dalam urusan pemilihan politik,” kata dia.

BACA JUGA: Jelang Pemilu 2024, PBNU Tolak Politik Identitas

Dalam riset ini, masyarakat DIY lebih dominan memilih partai politik yang secara ideologis memperjuangakan nilai-nilai inklusif. Hal ini dibuktikan dengan PDI Perjuangan dan PKB yang menjadi pilihan terbanyak oleh responden, dengan presentase 26% untuk PDI Perjuangan dan 9,2% untuk PKB.

“Tidak heran setelah PDI Perjuangan, yang nomor dua PKB. Karena PKB juga memiliki sifat-sfat inklusif juga dalam keberagaman. Dia menyuarakan tentang keberagaman, menghargai segala perbedaan. Otomatis itu lah yang akan mendapat hati perolehan suara,” ungkapnya.

Begitu pula dalam poin kepemimpinan negara yang dipilih masyarakat DIY, menunjukkan tokoh yang selama ini dikesankan mengusung nilai inklusif mendapat suara terbanyak. Ganjar Pranowo menempati posisi pertama dengan persentarse 49,6%, disusul Prabowo Subianto 16,2% dan Anies Baswedan 12,6%.

Ganjar Pranowo unggul dalam kategori atribusi kepemimpinan sebagai sosok yang merakyat sebesar 69,3%, mampu diterima semua kalangan 64,3%, menjaga toleransi 58,7% dan mendorong solidaritas sosial 55,8%. Sementara Prabowo unggul dalam atribusi menjaga stabilitas keamanan 62,2% dan menguasai persoalan politik luar negeri 48%.

BACA JUGA: Jokowi: Hindari Politik Identitas & Politisasi Agama di Pilpres 2024

CEO Kolasse, Arga Pribadi Imawan, menuturkan posisi Ganjar Pranowo yang unggul dalam beberapa hal di DIY bisa menjadi pertimbangan partai politik untuk mendapatkan suara. “Ini menjadi pertanda penting untuk dipertimbangkan partai politik,” katanya.

DIY menurutnya memiliki peran yang signifikan dalam penentuan pemenangan kepemimpinan nasional. Praktik sosial-politik di DIY kerap kali menjadi acuan bagi tindak nasional, DIY juga banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional yang memiliki dampak pada kebijakan di tingkat pusat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Jasad Pasutri asal Karanganyar Ditemukan Mengapung di Sungai Bengawan

News
| Senin, 30 Januari 2023, 00:27 WIB

Advertisement

alt

Tanggal Tua tapi Pengin Piknik? Bisa kok

Wisata
| Minggu, 29 Januari 2023, 07:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement