Advertisement

Biennale Jogja Menuangkan Kisah Arsip dalam Film Dokumenter

Sirojul Khafid
Kamis, 15 Desember 2022 - 19:17 WIB
Budi Cahyana
Biennale Jogja Menuangkan Kisah Arsip dalam Film Dokumenter Suasana pemutaran film Pendidikan dan Apresiasi Seni Publik di Ruang Cinema Museum Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Sleman, Kamis (15/12/2022). - Harian Jogja/Sirojul Khafid

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Yayasan Biennale Yogyakarta memutar film dokumenter Olah Arsip Biennale Jogja: Pendidikan dan Apresiasi Seni Publik. Film yang menjadi bagian dari seri dokumenter ini diputar di Ruang Cinema Museum Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Sleman.

Pendidikan dan Apresiasi Seni Publik mencoba menelusuri pendapat dari kalangan akademisi tentang hubungan kegiatan apresiasi seni dengan proses belajar-mengajar. Kalangan akademisi termasuk para guru dari berbagai jenjang, baik sekolah dasar sampai kampus.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Dalam film tersebut, beberapa guru menceritakan persinggungan apresiasi seni dengan para murid. Seni menjadi ruang belajar para murid selain di kelas. Bahkan dengan seni, para murid mendapat perspektif yang beragam dan tak terhingga akan sebuah pelajaran hidup.

Hadir mewakili Direktur YBY, Nana Yustina mengatakan  produksi seri film dokumenter ini sebagai arsip perjalanan Biennale Jogja, terutama dalam gelaran pameran bertema Equator. Berkolaborasi dengan berbagai negara yang berada di garis katulistiwa, konsep aquator sudah berjalan sejak 2011 sampai 2022. Negara kolaborator seperti India, Arab, Nigeria, Brasil, ASEAN, dan Oceania.

“Film dokumenter ini sangat relevan menuju ke redesign Biennale. Kuratorial Equator sudah habis masa berlakunya sehingga pemutaran serta diskusi ini menjadi ruang untuk mendapat masukan dari publik dan akademisi,” kata Nana, Kamis (15/12/2022).

Berdiri sejak 1988, sutradara dan konseptor film dokumenter Biennale Jogja, Putri R.A.E Harbie, menganggap arsip Biennale Jogja jarang bisa diakses oleh publik. Dalam film ini terdapat proses yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang dalam proses apresiasi seni.

“Film dianggap format terbaik untuk bisa menyajikan [cerita Biennale] kepada masyarakat,” katanya.

Manajer Program dan Riset Biennale Jogja dan Pendidik Seni, Karen Hardini, mengatakan pada dasarnya Biennale Jogja memiliki tekad dan komitmen pada edukasi masyarakat. Selain apresiasi seni dua tahun sekali, ada pula program-program pendampingan untuk seniman maupun umum.

Meski demikian, sejauh ini belum ada yang secara spesifik menyasar pada pendampingan murid sekolah. “Ini yang coba kami godog hari ini. Kerja edukasi Biennal Jogja mengundang guru-guru sekolah dan memberikan ruang seni pada anak-anak. Seperti pada apresiasi seni, Biennale Jogja menyediakan kid corner,” kata Karen. “Ada pula pengemasan arsip berupa game.”

Pengemasan arsip dalam berbagai bentuk menjadi penting sebagai refleksi program Biennale Jogja ke depan. Arsip bisa menjadi bahan pertimbangan dalam melangkah dan menyusun perencanaan program masa depan.

Turut hadir dalam diskusi, pakar pendidikan seni, dosen, dan kurator, Hajar Pamadhi. Dia mengatakan konsep Equator yang diusung Biennale Jogja sekitar satu dekade ke belakang merupakan konsep yang menarik. Garis ekuator merupakan garis paling indah di dunia.

Negara-negara yang berada di lingkar garis ekuator ini memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Tidak hanya berupa karya seni murni, banyak juga karya seni di wilayah ini yang muncul dalam keresahan gagasan, pikiran, dan cita.

Hajar menerangkan  kesenian senantiasa berkembang. Setidaknya ada tiga unsur seni, yaitu fisik, sistem, dan ideologi. Fisik salah satunya dalam bentuk karya. “Sementara untuk sistem seperti pameran Artjog, itu sistem, bagaimana bisa mengangkat seni pada masyarakat. Kalau Biennal Jogja lebih pada ideologi, konsepsi ideologi itu penting,” katanya.

Selain pendidikan dan apresiasi seni publik, Biennal Jogja juga memproduksi film dokumenter lain berjudul Wahan Kaum Muda. Untuk film kedua tersebut, penayangannya berada di Universitas Diponegoro Semarang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Daya Beli Masyarakat Rendah, Indef Sebut Gara-gara Harga BBM Naik

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 20:57 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Kampung Batik Giriloyo yang Sempat Terpuruk Karena Gempa 2006

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 13:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement