Advertisement

Cerita Banyak Mahasiswa UNY Kesulitan Bayar Kuliah: Jual Motor Hingga Sapi dan Pindah Kampus

Lugas Subarkah
Selasa, 17 Januari 2023 - 17:57 WIB
Budi Cahyana
Cerita Banyak Mahasiswa UNY Kesulitan Bayar Kuliah: Jual Motor Hingga Sapi dan Pindah Kampus Mahasiswa UNY bercerita dalam Babak Baru Pendidikan Ada Apa dengan UNY? Kesaksian Korban UKT di UNY di Nitikusala Coffee and Tea, Senin (16/1/2023) - Istimewa youtube Media Philosofis

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Viralnya kisah Nur Riska, mahasiswi UNY angkatan 2020 yang kesulitan membayar uang kuliah tunggal (UKT) hingga akhir hayatnya, memantik banyak mahasiswa lainnya menceritakan kisah mereka. Banyak yang keteteran dan keluarga mereka harus berkorban demi memenuhi biaya pendidikan.

Para mahasiswa memaparkan cerita mereka dalam acara Babak Baru Pendidikan ‘Ada Apa dengan UNY? Kesaksian Korban UKT di UNY’ yang diinisiasi oleh UNY Bergerak di Nitikusala Coffee and Tea dan disiarkan melalui Youtube Media Philosofis, Senin (16/1/2023).

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Beberapa mahasiswa yang membuka cerita ini tidak berani menyebutkan namanya. Salah satu mahasiswa menuturkan waktu masuk kuliah, pandemi Covid-19 sedang gaanas-ganasnnya. Pendapatan kedua orang tuanya terpotong banyak akibat pandemi.

BACA JUGA: Ribuan Mahasiswa Kampus Negeri Jogja Kesulitan Bayar Uang Kuliah

Angkringan bapaknya tidak seramai sebelum pandemi. Sementara ibunya yang bekerja sebagai buruh pabrik jam kerjanya dikurangi sehingga gajinya pun terpotong. “Ibu saya diberikan cuti berapa hari dan masuk lagi, jadi gaji terpotong cukup banyak,” ujarnya.

Dalam kondisi keuangan yang sedang payah, ia justru mendapat UKT Rp4,2 juta. Ia tidak menyerah di sini. Pada semester pertama dan kedua ia bekerja di salah satu perusahaan perkebunan untuk mendapatkan pemasukan tambahan.

Namun hasil bekerja itu ternyata belum cukup untuk memenuhi semua biaya yang diperlukan. Akhirnya, bapaknya harus menjual sapi untuk memenuhi biaya kuliah. “Ibu dan bapak menjual sapi yang menjadi tabungan untuk membiayai saya kuliah. Padahal itu untuk tabungan adik saya nanti agar bisa masuk ke sekolah setelah SD,” ungkapnya.

Selain menjual sapi, kedua orang tuanya juga ternyata berutang bank. Kondisi kian parah ketika motor yang biasa ia gunakan dan baru saja lunas hilang. Ia dan keluarganya begitu sedih waktu itu menghadapi kenyataan yang begitu berat.

“Tapi apakah di sini kita terus-menerus meromantitasi kesedihan ini? Enggak kan, kita harus mencoba mendorong agar kebijakan di UNY khususnya berubah agar menjadi satu kampus yang lebih ramah teman-teman yang mau kuliah di situ,” katanya.

Mahasiswa lainnya menceritakan ia harus membayar UKT Rp3,6 juta. Padahal, ia sudah mengisi surat-surat yang diminta UNY tentang kondisi ekonomi seperti gaji orang tua, kondisi rumah dan lain-lain sesuai kenyataan. Waktu itu, orang tuanya juga terdampak pandemi.

“Pada saat itu kondisi keluarganya tidak baik-baik saja. Mungkin sama kayak teman-teman yang lain, waktu itu Covid-19, tempat kerja bapak gulungg tikar, bosnya juga melarikan diri. Bapak pulang ke rumah tidak dapat pesangon, tidak bawa apa-apa. Akhirnya di rumah kerja serabutan,” katanya.

Bapaknya meminjam uang kepada tetangganya. Lantaran tidak ada uang untuk melunasi, bapaknya pun terpaksa menjual motor. “Uang dari jual motor itu buat nutup utang, setelah itu kuliah lah,” ungkapnya.

BACA JUGA: Ribuan Mahasiswa Kesulitan Bayar Kuliah, Ini Respons UGM

Semester berikutnya, bertepatan dengan adiknya yang masuk SMK, ia kembali kebingungan bagaimana membayar UKT. Setelah mengusahakan berbagai cara termasuk mencoba beasiswa dari Pemda DIY namun tidak berhasil, ia memutuskan untuk cuti kuliah sambil bekerja di rumah makan.

Pengajuan keberatan dan penurunan golongan UKT pun ternyata bukan perkara mudah. Salah satu mahasiswa yang sudah pernah mencobanya menceritakan saat ini ia terpaksa berhenti kuliah di UNY dan melanjutkan kuliah di kampus lainnya di daerahnya.

“Kenapa enggak lanjut, soalnya saya dulu pernah mengajukan penurunan UKT, UKT Rp3,6 juta. Bisa dibilang murah sebenarnya, tapi berhubung saya orang Jakarta yang enggak ada saudara atau siapapun di Jogja, jadi Rp3,6 itu terasa mahal, belum biaya kos, biaya makan, belum biaya saya berdinamika sendiri di kampus,” ungkapnya.

Ia menceritakan saat mencoba mengajukan penurunan UKT,  kampus tidak menyetujuinya. Hal ini membuat orang tuanya yang hanya berjualan soto patah semangat sehingga memintanya untuk tidak melanjutkan kuliah di UNY.

“Keresahan waktu itu di UNY memang birokrasi itu bener-bener tutup kuping menurut saya. Karena apa pun yang terjadi di Jogja enggak bakal dilirik sama birokrat. Sampai dengar kabar almarhum [Nur Riska] sampai begitu, apakah mungkin ada korban selanjutnya seperti almarhum?” katanya.

BACA JUGA: Kisah Pilu Mahasiswa UNY Perjuangkan Keringanan Biaya Kuliah hingga Kematiannya

Anggota Tim Humas UNY Bergerak, Opal, menuturkan Babak Baru Pendidikan ‘Ada Apa dengan UNY? Kesaksian Korban UKT di UNY’ ini merupakan bagian dari upaya menurunkan biaya pendidikan sampai terjangkau oleh semua mahasiswa.

Berdasarkan survei UNY bergerak, ada 97% dari 1.000 lebih mahasiswa yang keberatan membayar UKT. UNY Bergerak berencana mengirimkan hasil kajian yang sudah dibuat ke Dirjen Dikti, Prof. Nizam, untuk memberi gambaran kondisi sebenarnya di UNY. “Kenyataannya ada 1.000 lebih mahasiswa yang sampai hari ini kesulitan untuk mengakses kuliah,” kata dia.

Pesawat Kertas menjadi simbol harapan para mahasiswa untuk dapat mengakses pendidikan yang lebih terjangkau. Mahasiswa berharap uang kuliah bisa selalu disesuaikan setiap semester dan benar-benar melihat kondisi keluarga mahasiswa. “Bukan cuma satu golongan yang turun. Tapi benar-benar turun seusai kondisi mahasiswa. Kalau memang harus turun Rp1-Rp2 juta ya kasihlah,” ujarnya.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Hukum UNY, Anang Priyanto, mengklaim rektorat sudah memfasilitasi pengajuan penurunan golongan UKT. “UNY berkomitmen untuk membantu mahasiswa yang memiliki kendala secara ekonomi dalam penyelesaian studi, sesuai prosedur dan data-data yang valid atau terverikasi,” katanya.

Ia mengklaim UNY terbuka atas masukan, saran, dan kritik. UNY juga menyediakan sarana atau untuk penyampaian data atau informasi berkaitan dengan layanan, termasuk tentang UKT. “Jika dipandang sangat perlu bisa langsung disampaikan kepada Rektor,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Begini Cara Pangeran Arab Saudi Nikmati Kekayaan

News
| Senin, 06 Februari 2023, 22:07 WIB

Advertisement

alt

Kunjungan Malioboro Meningkat, Oleh-oleh Bakpia Kukus Kebanjiran Pembeli

Wisata
| Senin, 06 Februari 2023, 10:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement