Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Wisatawan ke Jogja Terdampak
Erupsi Anak Krakatau mengganggu penerbangan dari Soetta. Dispar DIY memantau dampaknya terhadap wisatawan dan menyiapkan antisipasi.
Suasana Teras Malioboro 1, Jogja, Sabtu (19/2/2022) malam/Harian Jogja-Sirojul Khafid.\r\n
Harianjogja.com, JOGJA–Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja menyatakan kelompok musik angklung segera bisa tampil lagi di Teras Malioboro 1 dan 2. Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Malioboro, Ekwanto menyampaikan saat ini masih proses kurasi.
Dari sekitar tujuh kelompok musik angklung, menurutnya masih kurang dua lagi yang harus dikurasi. Dia menegaskan tidak ada masalah dengan alat musik angklung, namun akan dikombinasikan dengan alat musik yang ada di Jogja.
"Yang kami kurasi selama ini itu, konversi dengan alat musik dengan yang ada di Jogja lah mungkin saron, gamelan atau apa bentuknya yang lebih bisa dinikmati masyarakat," ucapnya, Selasa, (28/3/2023).
Terkait padu padan dengan alat musik khas Jogja menurutnya untuk mengakomodir semua pihak. "Nuwun sewu, kami juga menghargai orang-orang, kami sering di-bully warganet ini angklung gimana bukan asli Jogja."
Lebih lanjut dia menyampaikan, diharapkan Lebaran besok kelompok musik angklung sudah bisa tampil. "Ya mudah-mudahan [Lebaran tampil]," harapnya.
Penjabat Wali Kota Jogja Sumadi mengatakan angklung ini tidak hanya urusan dari Pemkot Jogja, namun juga melibatkan Pemda DIY. Saat dilakukan kurasi dan penilaian.
"Nanti teman teknis, tapi saya kira berkesenian kan boleh saja lah ya. Ya [gak harus alat musik Jogja] tapi nanti itu timnya lah yang akan menilai," ujarnya.
Sebelumnya, Etnomusikolog atau peneliti musik, Aris Setyawan menyampaikan angklung termasuk sebagai musik tradisi."Angklung atau dulunya calung ini tumbuh berkembang di kalangan masyarakat sejak zaman kerajaan di masa lampau, tumbuh karena masyarakat tak dapat akses ke gamelan yang mahal dan ilmu karawitan yang hanya berkembang di lingkungan Keraton saja," paparnya.
Gamelan yang terbuat dari logam kuningan, jelas Aris, juga tidak mudah didapat masyarakat."Akhirnya masyarakat ini menggunakan bahan dari lingkungan sekitar yang mudah didapat yaitu bambu untuk alat musik ini."
Angklung tercipta di Pesisir Selatan Jawa dari sekitar Pangandaran dan Purwokerto. "Dua tempat itu dulu termasuk di bawah Mataram," katanya.
BACA JUGA: Polisi Periksa Kejiwaan Pelaku Mutilasi Sleman
Pelarangan angklung di Malioboro, menurut Aris, tidak tepat. "Mungkin maksud Pemkot Jogja melarang agar Malioboro terkesan Jogja sekali. Lalu kalau minta dipadukan pentasnya di gamelan itu tidak aksesibel karena gamelan berat susah dibawa ke mana-mana."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Erupsi Anak Krakatau mengganggu penerbangan dari Soetta. Dispar DIY memantau dampaknya terhadap wisatawan dan menyiapkan antisipasi.
BMKG memprediksi kemarau di Jateng selatan, khususnya Cilacap, berpotensi berlangsung hingga Oktober 2026 akibat El Nino sangat kuat.
Jembo Cable Bimasakti Racing Team Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi di ajang internasionaL
Gunung Anak Krakatau masih erupsi pada 10 September 2026. Status Level III Siaga, simak data erupsi dan imbauan PVMBG.
Sibakul Jogja Sport & Fest 2026 menambah nomor half marathon 21K. Dinas Koperasi dan UKM DIY menargetkan pelari dari luar DIY.
Kenali gejala keracunan makanan, cara pertolongan pertama, tanda dehidrasi, hingga kondisi yang mengharuskan penderita ke dokter.