Skrining TBC Gunungkidul Belum Optimal, Kesadaran Warga Jadi Kendala
Skrining TBC di Gunungkidul baru menemukan 411 kasus dari target 1.148 hingga Agustus 2026. Kesadaran warga menjadi salah satu kendala.
Ilustrasi. /Everypixel
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Ruang pelayanan cuci darah di Gunungkidul masih terbatas. Kondisi ini berdampak terhadap penanganan pasien yang harus rela mengantre guna mendapatkan pelayanan.
Antrean cuci darah sarah satunya terlihat di RSUD Wonosari. Pasalnya, dari 21 mesin pecuci darah yang dimiliki seluruhnya terpakai untuk menangani pasien di setiap harinya.
Kepala Ruang Cuci Darah di RSUD Wonosari, Sudarmanto mengatakan, penangan cuci darah karena gagal ginjal berbeda dengan pasien lainnya. Hal ini dikarenakan, penderita harus menjalani perawatan rutin dua kali dalam seminggu guna mencuci darah.
BACA JUGA: Gagal Ginjal Pada Anak, Pengobatan dan Cuci Darah Full Ditanggung BPJS Kesehatan
“Jadi pasien kami merupakan pasien tetap dan harus menjalani cuci darah rutin setiap minggunya,” kata Sudarmanto kepada wartawan, Selasa (23/5/2023).
Dia menjelaskan, untuk pasien terdaftar rutin yang melakukan cuci darah sebanyak 104 orang. Adapun alat hemodialisas atau pencuci darah yang dimiliki sebanyak 21 unit.
Rinciannya sebanyak 18 unit dipergunakan untuk merawat pasien rutin. Sedangkan tiga unit lainnya dipergunakan pertolongan pasien khusus berdasarkan rujukan dari intalasi gawat darurat.
“Terpakai semua dan setiap harinya satu alat dipergunakan melayani cuci darah untuk dua pasien,” katanya.
Dia tidak menampik hingga sekarang ada 19 penderita gagal ginjal yang ingin melakukan cuci darah di RSUD Wonosari. Meski demikian, belum bisa dilayani karena pergantian dilakukan pada saat ada pasien [rutin cuci darah] meninggal dunia atau pindah layanan ke rumah sakit lain.
“Selama pasien belum meninggal atau pindah layanan, maka tidak ada pasien baru. Makanya 19 pasien ini masuk daftar tunggu agar bisa mendapatkan pelayanan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Anak Mengidap Gagal Ginjal Akut Bisa Sembuh Total, Tapi...
Hanya saja, sambung Sudarmanto, daftar tunggu sekarang sudah sangat jauh berkurang. Hal ini tak lepas adanya layanan cuci darah lainnya di rumah sakit di Gunungkidul.
“Di awal-awal buka [2015] antreannya bisa mencapai 95 orang, tapi sekarang juga berkurang. Saya kira di rumah sakit lain juga ada antrean yang sama,” katanya.
Disinggung mengenai layanan cuci darah bagi 19 orang yang masuk daftar tunggu, ia mengakui terus berkoordinasi dengan rumah sakit lainnya agar tetap bisa mendapat layanan. “Tentunya cuci darah tidak dilakuakn di RSUD, mungkin bisa di luar Gunungkidul. Mungkin ingin pindah agar lebih dekat menjalani perawatan dari rumah,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty membenarkan bahwa layanan cuci darah di Gunungkidul sudah over kapasitas. Ia tidak menampik, sejumlah rumah sakit sudah memberikan pelayanan, tapi fasilitas yang dimiliki terbatas.
Oleh kareanya, masih ada pasien yang masuk daftar antrean agar bisa terlayani. “Penanganan cuci darah berbeda dengan penyakit lainnya. Sebab, harus rutin dan setiap kali cuci membutuhkan waktu sekitar lima jam. Satu minggunya bisa cuci darah hingga dua kali,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Skrining TBC di Gunungkidul baru menemukan 411 kasus dari target 1.148 hingga Agustus 2026. Kesadaran warga menjadi salah satu kendala.
Jadwal KA Bandara YIA Sabtu 26 September 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA serta waktu tempuhnya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 26 September 2026 dari Palur menuju Jogja/Tugu tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkapnya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 26 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Subsidi BBM dan LPG 3 kg 2027 turun Rp11,4 triliun. DPR menyoroti data penerima subsidi dan tingginya exclusion error pemerintah.
Wapres Gibran meminta pendataan warga terdampak banjir bandang Solok dipercepat untuk penanganan dan penataan permukiman.