Pilur di 31 Kalurahan, DPRD Gunungkidul Minta Warga Cerdas Memilih
Pilur serentak digelar di 31 kalurahan Gunungkidul September 2026. DPRD meminta warga aktif mengawasi tahapan dan cerdas memilih.
Salah seorang pasien saat menjalani pengobatan akupunktur di Puskesmas Kasihan II belum lama ini. Puskesmas tersebut sejak 2019 sudah melayani beragam pengobatan tradisional seperti obat-obatan herbal, akupunktur dan akupresur. Dokumentasi Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL—Di sudut ruang pelayanan Puskesmas Kasihan II Bantul, jarum-jarum halus akupunktur menjadi bagian dari ikhtiar baru layanan kesehatan publik. Pengobatan tradisional yang selama ini identik dengan praktik turun-temurun kini berdampingan dengan medis modern, menghadirkan alternatif terapi bagi warga.
Pagi itu, Sumiyati, 65, warga Tirtonirmolo, duduk menanti giliran. Punggungnya kerap nyeri akibat saraf kejepit yang sudah dirasakannya sejak beberapa tahun lalu. Nomor antreannya dipanggil, ia melangkah pelan menuju ruang tindakan. Sekitar 30 menit terapi akupunktur dijalaninya, sebuah rutinitas yang telah ia tekuni selama sebulan terakhir, bersamaan dengan pengobatan medis di rumah sakit.
“Sudah lama sekali saya merasakan nyeri di tulang belakang, sejak beberapa tahun yang lalu,” katanya
Upaya penyembuhan tak hanya satu jalan. Dari dokter saraf hingga terapi akupunktur, semuanya dicoba. Seminggu sekali ia datang, menyesuaikan jadwal dokter. Biayanya ditanggung BPJS.
"Alhamdulillah karena saya juga ke dokter syaraf dan ditambah akupunktur jadi sakitnya sedikit berkurang," ungkapnya.
Warisan yang Diintegrasikan
Apa yang dijalani Sumiyati bukan lagi layanan pinggiran. Sejak 2019, Puskesmas Kasihan II Bantul resmi mengembangkan pengobatan tradisional sebagai pelengkap medis konvensional. Di tengah budaya masyarakat yang masih lekat dengan jamu dan herbal, respons warga terbilang positif.
Pelaksana Tugas Kepala Puskesmas Kasihan II, Triatmi Dyah Wahyuning, menjelaskan layanan yang tersedia mencakup akupunktur, akupresur, pijat akupresur untuk bayi dan balita, hingga obat herbal berbahan terstandar. Selain itu, puskesmas membina kader asuhan mandiri dan mendampingi penyedia layanan tradisional di masyarakat.
“Pengobatan tradisional ini cukup diterima masyarakat. Warga kami masih akrab dengan jamu dan herbal, sehingga penerimaannya baik,” ujarnya.
Setiap terapi tetap diawali diagnosis dokter. Dari sana diputuskan apakah pasien menjalani terapi konvensional, tradisional, atau kombinasi keduanya. Pendekatan ini menjaga aspek ilmiah sekaligus menghormati kearifan lokal.
Sekitar 20 jenis kasus dapat ditangani melalui akupunktur dan akupresur, mulai dari nyeri pinggang, migrain, gangguan pencernaan, insomnia, hingga osteoartritis. Kasus neurologis seperti bell’s palsy dan carpal tunnel syndrome juga termasuk dalam layanan. Untuk herbal, tersedia kapsul berbahan terstandar bagi hemoroid, gangguan saluran kemih, kolesterol, obesitas, hingga imunomodulator.
“Untuk penyakit tertentu seperti diabetes, kami tidak menyediakan pengobatan herbal,” kata Dyah.
Tantangan dan Harapan
Di balik layanan itu, ada keterbatasan tenaga. Saat ini hanya satu dokter yang memiliki kompetensi akupunktur. Dalam sehari, sekitar 8–10 pasien dilayani, masing-masing selama kurang lebih 30 menit. Sistem perjanjian diterapkan agar antrean tetap tertib.
Namun pengembangan tak berhenti di ruang praktik. Melalui posyandu, petugas mengenalkan teknik akupresur sederhana agar keluarga bisa mempraktikkannya secara mandiri di rumah.
"Harapan kami tradisi pengobatan ini juga tumbuh di lingkungan keluarga," jelas Dyah.
Ke depan, kelompok asuhan mandiri di masyarakat didorong untuk memproduksi olahan herbal yang aman dan bermanfaat. Dari titik ini, pengobatan tradisional tak sekadar terapi. Ia menjelma jembatan antara kesehatan, kemandirian, dan potensi ekonomi warga Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak digelar di 31 kalurahan Gunungkidul September 2026. DPRD meminta warga aktif mengawasi tahapan dan cerdas memilih.
BGN meminta makanan MBG yang tidak layak tidak dikonsumsi dan segera dikembalikan ke SPPG untuk diperiksa dan diinvestigasi.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
BGN membuka kanal khusus bagi guru untuk melaporkan keluhan, temuan, dan pengaduan terkait pelaksanaan Program MBG di sekolah.
Sebanyak 212 orang berhasil dievakuasi dari kebakaran KMP Putri Yasmin di Selat Lombok. SAR melanjutkan pencarian pada Kamis.
Heatstroke dapat mengancam nyawa saat cuaca panas. Kenali gejala, pertolongan pertama, dan kelompok yang lebih rentan mengalaminya.