Advertisement

Puskesmas Kasihan II Bantul Padukan Layanan Medis dan Tradisional

Yosef Leon
Rabu, 11 Februari 2026 - 14:37 WIB
Maya Herawati
Puskesmas Kasihan II Bantul Padukan Layanan Medis dan Tradisional Salah seorang pasien saat menjalani pengobatan akupunktur di Puskesmas Kasihan II belum lama ini. Puskesmas tersebut sejak 2019 sudah melayani beragam pengobatan tradisional seperti obat/obatan herbal, akupunktur dan akupresur. Dokumentasi Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Di sudut ruang pelayanan Puskesmas Kasihan II Bantul, jarum-jarum halus akupunktur menjadi bagian dari ikhtiar baru layanan kesehatan publik. Pengobatan tradisional yang selama ini identik dengan praktik turun-temurun kini berdampingan dengan medis modern, menghadirkan alternatif terapi bagi warga.

Pagi itu, Sumiyati, 65, warga Tirtonirmolo, duduk menanti giliran. Punggungnya kerap nyeri akibat saraf kejepit yang sudah dirasakannya sejak beberapa tahun lalu. Nomor antreannya dipanggil, ia melangkah pelan menuju ruang tindakan. Sekitar 30 menit terapi akupunktur dijalaninya, sebuah rutinitas yang telah ia tekuni selama sebulan terakhir, bersamaan dengan pengobatan medis di rumah sakit.

Advertisement

“Sudah lama sekali saya merasakan nyeri di tulang belakang, sejak beberapa tahun yang lalu,” katanya

Upaya penyembuhan tak hanya satu jalan. Dari dokter saraf hingga terapi akupunktur, semuanya dicoba. Seminggu sekali ia datang, menyesuaikan jadwal dokter. Biayanya ditanggung BPJS.

"Alhamdulillah karena saya juga ke dokter syaraf dan ditambah akupunktur jadi sakitnya sedikit berkurang," ungkapnya.

Warisan yang Diintegrasikan

Apa yang dijalani Sumiyati bukan lagi layanan pinggiran. Sejak 2019, Puskesmas Kasihan II Bantul resmi mengembangkan pengobatan tradisional sebagai pelengkap medis konvensional. Di tengah budaya masyarakat yang masih lekat dengan jamu dan herbal, respons warga terbilang positif.

Pelaksana Tugas Kepala Puskesmas Kasihan II, Triatmi Dyah Wahyuning, menjelaskan layanan yang tersedia mencakup akupunktur, akupresur, pijat akupresur untuk bayi dan balita, hingga obat herbal berbahan terstandar. Selain itu, puskesmas membina kader asuhan mandiri dan mendampingi penyedia layanan tradisional di masyarakat.

“Pengobatan tradisional ini cukup diterima masyarakat. Warga kami masih akrab dengan jamu dan herbal, sehingga penerimaannya baik,” ujarnya.

Setiap terapi tetap diawali diagnosis dokter. Dari sana diputuskan apakah pasien menjalani terapi konvensional, tradisional, atau kombinasi keduanya. Pendekatan ini menjaga aspek ilmiah sekaligus menghormati kearifan lokal.

Sekitar 20 jenis kasus dapat ditangani melalui akupunktur dan akupresur, mulai dari nyeri pinggang, migrain, gangguan pencernaan, insomnia, hingga osteoartritis. Kasus neurologis seperti bell’s palsy dan carpal tunnel syndrome juga termasuk dalam layanan. Untuk herbal, tersedia kapsul berbahan terstandar bagi hemoroid, gangguan saluran kemih, kolesterol, obesitas, hingga imunomodulator.

“Untuk penyakit tertentu seperti diabetes, kami tidak menyediakan pengobatan herbal,” kata Dyah.

Tantangan dan Harapan

Di balik layanan itu, ada keterbatasan tenaga. Saat ini hanya satu dokter yang memiliki kompetensi akupunktur. Dalam sehari, sekitar 8–10 pasien dilayani, masing-masing selama kurang lebih 30 menit. Sistem perjanjian diterapkan agar antrean tetap tertib.

Namun pengembangan tak berhenti di ruang praktik. Melalui posyandu, petugas mengenalkan teknik akupresur sederhana agar keluarga bisa mempraktikkannya secara mandiri di rumah.

"Harapan kami tradisi pengobatan ini juga tumbuh di lingkungan keluarga," jelas Dyah.

Ke depan, kelompok asuhan mandiri di masyarakat didorong untuk memproduksi olahan herbal yang aman dan bermanfaat. Dari titik ini, pengobatan tradisional tak sekadar terapi. Ia menjelma jembatan antara kesehatan, kemandirian, dan potensi ekonomi warga Bantul.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

BNPB Sebut 108 DAS Picu Bencana Berulang, Sungai Progo Jadi Fokus

BNPB Sebut 108 DAS Picu Bencana Berulang, Sungai Progo Jadi Fokus

News
| Rabu, 11 Februari 2026, 15:47 WIB

Advertisement

Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari

Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari

Wisata
| Senin, 09 Februari 2026, 19:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement