Skema Droping Air di Gunungkidul Berubah, Kapanewon Jadi Prioritas
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Ilustrasi lahan pertanian tembakau - Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani di Kapanewon Purwosari, Gunungkidul mulai panen raya tembakau. Total hingga sekarang hasil panen tercatat mencapai 28 ton daun tembakau basah.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan, budi daya tembakau menjadi salah satu usaha yang dikembangkan petani Gunungkidul. Adapun jenis yang ditanam seperti Sadana, Jowo, Paiton dan Kedu.
Untuk area penanaman mulai dari Kapanewon Semin, Purwosari, Wonosari hingga Ngawen. “Sekarang sudah mulai panen. Salah satunya yang sudah memetik adalah petani di Kapanewon Purwosari,” katanya, Rabu (9/8/2023).
Risimiyadi menjelaskan, sentra tembakau di Purwosari berada di Kalurhan Giriasih dan Giritirto. Luas tanam yang dikembangkan petani mencapai 68,5 hektare.
“Memang ada penyusutan dibandingkan luas tanam di 2022 yang mencapai 71,7 hektare,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui untuk masa tanam sekarang berjalan dengan baik. Hasil perhitungan sementara, petani sudah menghasilkan tembakau basah seberat 28 ton.
BACA JUGA: Bocah Hilang di Hutan Dlingo Ditemukan dalam Kondisi Lemas
“Untuk harga di kisaran Rp100.000-300.000 per kilogram. Ini baru panen pertama dan petani masih bisa beberapa kali panen dalam sekali tanam,” katanya.
Dia berharap budidaya tembakau bisa memberikan manfaat, khususnya bagi upaya menyejahterakan kehidupan para petani. “Nilai ekonomisnya tinggi. Terlebih lagi, tembakau ditanam saat kemarau sehingga tidak menggangu budidaya tanaman pangan,” katanya.
Bupati Gunungkidul, Sunaryanta mendukung penuh upaya budidaya tembakau. Menurut dia, sentra tembakau tidak hanya di Purwosari, tapi juga ada di kapanewon lain seperti Semin, Ngawen hingga Wonosari.
Menurut dia, potensi tembakau di Gunungkidul sangat luar biasa sehingga butuh pendampingan secara berkelanjutan agar para petani bisa mendapatkan hasil yang maksimal. “Potensinya bagus. Ini terlihat dari harga jual. Jadi, agar bisa lebih dimaksimalkan, maka dibutuhkan pendampingan secara berkelanjutan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Ducati jual fairing asli MotoGP GP25 Márquez dan Bagnaia lewat MotoGP Authentics untuk kolektor
Meta PHK 8.000 karyawan di tengah investasi besar AI meski perusahaan catat laba tinggi
Pembangunan akses keluar-masuk (ramp on/off) dan Gerbang Tol Trihanggo di area Simpang Kronggahan, Sleman terus bergulir. Proyek konstruksi yang menjadi bagian
Survei State of Motherhood 2026 ungkap rumah tangga bisa kacau dalam 1–2 hari tanpa peran ibu