Skema Droping Air di Gunungkidul Berubah, Kapanewon Jadi Prioritas
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—BPBD Gunungkidul memastikan tidak akan memerpanjang status siaga darurat kekeringan yang ditetapkan sejak 31 Juli 2023. Kepastian ini tak lepas hujan yang mulai turun di wilayah Bumi Handayani.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan, status siaga darurat kekeringan berakhir pada 30 November 2023. Meski demikian, tidak ada rencana memperpanjang status tersebut.
Hal ini tak lepas di wilayah Gunungkidul sudah memasuki musim hujan. Oleh karenanya, maka kegiatan droping juga akan dihentikan setelah anggaran yang dimiliki benar-benar habis.
BACA JUGA : Tiga Hari ke Depan DIY Berpotensi Hujan Lebat Disertai Petir dan Angin Kencang
“Tidak ada rencana perpanjangan karena sekarang sudah musim hujan,” kata Purwono, Jumat (1/12/2023).
Dia menjelaskan, status siaga darurat pertama kali ditetapkan pada 31 Juli 20213 dan berakhir pada 30 September 2023. Namun dikarenakan saat itu masih masuk puncak musim kemarau, maka diperpanjang selama dua bulan dan berakhir pada 30 November lalu.
“Praktis dengan berhentinya siaga darurat dan mulai masuk musim hujan, maka perlahan-lahan wilayah yang sudah hujan tidak lagi mendapatkan kiriman air bersih,” katanya.
Dia menjelaskan, selama musim kemarau di tahun ini ada 16 kapanewon yang mendapat penyaluran air bersih yang dilakukan oleh BPBD, kapanewon maupun pihak ketiga. Adapun Kapanewon Playen dan Wonosari merupakan wilayah yang dinyatakan bebas masalah krisis air bersih.
“Mudah-mudahan dengan masuk musim hujan, maka stok air yang dimiliki warga bisa bertambah sehingga dapat terpenuhi semuanya,” kata mantan Panewu Purwosari ini.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan, tahun ini mengalokasikan bantuan air bersih sebanyak 1.026 tangki dan telah habis disalurkan ke warga membutuhkan. Malahan, sambung dia, dengan ditetapkan siaga darurat kekeringan, BPBD meminta tambahan anggaran ke BKAD guna keperluan droping sebanyak 300 tangki.
“Dengan siaga darurat maka bisa meminta tambahan anggaran dari belanja tak terduga,” katanya.
Menurut dia, hingga sekarang permintaan air bersih masih ada. Sebagai contoh, beberapa hari lalu, Kalurahan Kalitekuk di Kapnewon Semin meminta untuk diberikan bantuan.
“Sekarang tinggal 50 tangki dan tetap akan disalurkan ke warga yang membutuhkan. Kalau nantinya kurang dan anggaran BPBD telah habis, kami siap berkoordinasi dengan pihak ketiga guna memberikan bantuan air,” katanya. (David Kurniawan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Viral perempuan bongkar dugaan perselingkuhan suami lewat data misterius pada timbangan pintar atau smart scale di rumahnya.
Imigrasi memperketat pengawasan WNA di Bantul lewat APOA. Hotel, homestay, dan vila diwajibkan melaporkan tamu asing secara berkala.
Hanung Bramantyo mengadaptasi Children of Heaven berlatar SD Muhammadiyah dengan pesan kuat tentang pendidikan karakter anak.
KPAID Kota Jogja mendorong penerapan pasal lebih berat dalam kasus dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha
Pemerintah memangkas anggaran MBG 2026 menjadi Rp268 triliun demi efisiensi program Makan Bergizi Gratis.