Advertisement

Pakar UGM: Banjir Bandang Berpotensi Meningkat, Pahami Faktor dan Upaya Mitigasinya

Catur Dwi Janati
Rabu, 06 Desember 2023 - 17:57 WIB
Arief Junianto
Pakar UGM: Banjir Bandang Berpotensi Meningkat, Pahami Faktor dan Upaya Mitigasinya Guru Besar dalam Bidang Rekayasa Sumber Daya Air dan Lingkungan, UGM, Prof. Agus Maryono saat Rabu (6/12/2023). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Guru Besar dalam Bidang Rekayasa Sumber Daya Air dan Lingkungan, UGM, Prof. Agus Maryono mengungkapkan potensi terjadinya banjir bandang yang meningkat musim ini.

Landasannya adalah kemarau panjang yang terjadi sebelumnya. Kondisi ini membuat lengas tanah turun.

Advertisement

"Habis kemarau sangat panjang, berarti lengas tanahnya turun, tiba-tiba hujan nanti akan banyak longsor. Longsor kecil, longsor menengah, longsor besar," kata dia di Fortakgama UGM, Rabu (6/12/2023).

Tanah longsor, lanjut Agus, umumnya terjadi di tebing-tebing. Sementara salah satu letak tebing ada di sisi sungai. Material longsor yang menimpa sungai akan membuat sungai tersumbat.

"Longsoran itu kalau menimpa sungai, menyumbat sungai nanti nanti terjadi penggenangan lama di hulunya. Kemudian jebol, itu lah banjir bandang terjadi akibat longsor," ujar dia.

Semakin tinggi disparitas antara lengas tanah musim kemarau yang panjang dan musim hujan, maka kata Agus akan semakin banyak longsor.

Ada banyak faktor yang bisa menjadi pemicu banjir bandang. Faktor pertama yang sering ditemukan adalah sumbatan alur sungai oleh longsor dan material alamiah.

Secara alamiah sumbatan terbentuk dari kayu, dahan, batu, kerikil maupun ranting yang terjadi secara menahun. "Ini menyebabkan terjadinya danau-danau alami di sepanjang sungai," ujarnya.

"Suatu saat danau alami yang berjejer dari hulu sampai hilir itu tadi tidak mampu lagi menahan air. Kalau di hulu jebol satu saja, bawahnya ikut jebol karena tidak mampu lagi. Karena dia bukan konstruksi bendungan sipil, dia hanya tumpukan kayu, batu dan sebagainya," tandasnya.

Faktor penyebab banjir bandang lainnya ialah bertemunya dua puncak banjir dari dua aliran sungai. Puncak dua banjir sungai bertemu di satu titik ini memang jarang tejadi tapi bisa menyebabkan banjir bandang.

Selain itu masih ada faktor seperti bendungan jebol, rusaknya daerah aliran sungai (DAS) dan hujan ekstrem yang bisa menyebabkan banjir bandang.

Di sisi lain, Agus menambahkan jika sungai berukuran kecil dan menengah di daerah berbukit dengan tebing yang terjal memiliki risiko longsor dan banjir bandang yang lebih tinggi dibandingkan dengan sungai-sungai besar.

Di samping itu, risiko banjir bandang juga lebih tinggi di sungai di mana banjir bandang pernah terjadi sebelumnya.

Karena itulah, untuk menurunkan risiko tersebut Agus berpandangan jika kegiatan susur dan periksa sungai perlu dilakukan, terutama di sungai-sungai yang melewati pemukiman atau perkampungan.

Aktivitas ini dilakukan secara bergotong royong antara masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Fokusnya adalah membersihkan sumbatan-sumbatan sungai dari material kayu, batu dan sebagainya. 

"Masyarakat diajak dan hasilnya didiskusikan dengan masyarakat agar mereka paham dan merasa memiliki sungai tersebut. Jika tidak ada banjir bandang masyarakat sejahtera dan dapat memanfaatkan sungai untuk wisata, perikanan, hingga pertanian," tegasnya.

BACA JUGA: Lansia Tertimbun Longsor di Wonogiri Belum Ditemukan

Selain itu menurut analisa Agus di DIY sendiri risiko banjir bandang dapat ditemukan di sejumlah sungai. Di antaranya seperti Sungai Code, Winongo hingga Gajahwong berpotensi terjadi banjir bandang.

Peran Pemerintah

Kepala Pusat Studi Bencana UGM, M. Anggri Setiawan menilai pemerintah telah cukup hadir dalam mitigasi bencana hidrometeorologi. Khususnya lewat peraturan perundang-undangan maupun kelembagaan.

"Negara kita secara sistem sebetulnya sudah baik, semua sudah ada bagiannya. Yang perlu dioptimalkan adalah aksi antisipasi, yang saat ini juga sedang digalakkan di tingkat internasional dan di tingkat nasional sedang dirumuskan pedomannya," tandanya.

Ia menilai pergantian musim menjadi momen baik untuk menambah literasi masyarakat terkait fenomena bencana hidrometeorologi. Dengan sinergi yang baik antara berbagai pemangku kepentingan, risiko bencana dapat diantisipasi dan dampaknya bisa diminimalkan.

"Bencana bisa ditangani secara pentaheliks. Mari dorong aksi antisipasi dengan menyajikan contoh sukses untuk melengkapi manajemen bencana yang sudah ada," tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Gibran Enggan Beberkan Hasil Pembahasan Kementerian Baru dengan Prabowo di Kartanegara

News
| Sabtu, 24 Februari 2024, 08:27 WIB

Advertisement

alt

Pelancong Masuk ke Thailand Diwajibkan Bawa Uang Tunai Minimal Rp6,7 Juta

Wisata
| Jum'at, 23 Februari 2024, 17:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement