Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Ilustrasi petani./Harian Jogja
Harianjogja.com, BANTUL—Tahun ini di Bantul terdapat penurunan jumlah petani hingga mencapai 4.000 orang. Penurunan itu ditengarai karena minimnya minat generasi muda pada pertanian, lantaran dianggap sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan secara finansial.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo menjelaskan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis beberapa waktu lalu, tahun ini penurunan petani mencapai 4.000 petani. “Pada 2022 ada 62.297 petani sekarang tinggal sekitar 58.000 petani,” ujarnya, Senin (11/12/2023).
Menurutnya salah satu faktor penurunan jumlah petani ini karena regenerasi yang minim. Merespons hal ini, pihaknya mendorong pengenalan dunia pertanian kepada generasi muda. “Kami baru mencoba pendekatan lewat SMK Pandak, karena itu SMK yang bergerak di sektor pertanian,” katanya.
Di SMK tersebut para alumni digerakkan untuk memotivasi para siswa agar mau terjun ke dunia pertanian. Ia berharap generasi muda tidak malu untuk bertani. “Kalau milenial terjun di pertanian bisa sebagai pengusahanya, bukan hanya terjun di sawah,” ungkapnya.
Walau jumlah petani berkurang, Pemkab Bantul tetap berupaya agar produktivitas pertanian selalu meningkat dengan berbagai inovasi. “Beberapa daerah kelompok tani padi ada yang mencapai hasil panen 10,9 ton. jadi sudah ada peningkatan. Ratra rata di Bantul 8,8 ton. Tetapi banyak kelompok yang produktivitasnya lebihd ari 10 ton,” katanya.
Ketua Gapoktan Patalan, Sumantri, mengatakan regenerasi petani minim karena pekerjaan bertani dianggap tidak menguntungkan. “Karena pekerjaan sebagai petani sekarang tidak menguntungkan, harga pupuk mahal, harga jual saat panen murah,” paparnya.
BACA JUGA: Penjelasan Pakar Terkait Meningkatnya Persentase Petani Tua di DIY
Biaya produksi yang tidak sebanding dengan hasil yang didapat saat panen membuat generasi muda tidak tertarik pada sektor ini. “Sulitnya mencari regenerasi yang mau masuk anggota Gapoktan, karena tidak ada petani muda,” katanya.
Adapun para petani yang tergabung dalam gapoktannya saat ini rata-rata sudah berusia tua. Ia berharap pemerintah dapat mengupayakan regenerasi petani. “Saat ini kurangnya sosialisasi dari pemerintah untuk menjadi petani penerus,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Pemkab Sleman menyalurkan hibah Rp166,5 juta kepada 32 LKS pada 11 Juni 2026. Dana diberikan melalui rekening masing-masing lembaga.
Mendag Budi Santoso meninjau harga bahan pokok di Pasar Potrojayan Sleman dan menekankan pentingnya menjaga harga wajar bagi produsen dan konsumen.
Leica Al-Humaira Lubis meraih perunggu Asian Games 2026, sementara Kanurian Al Ghozi menembus final Men’s 10m Air Rifle.
Keluarga mengenang Den Baguse Ngarsa sebagai sosok serius, jarang mengeluh sakit, dan sehari sebelum meninggal masih sempat ngangkring.
Polresta Jogja memeriksa pemilik food truck dan dua jukir terkait dugaan pungli saat berjualan di Alun-Alun Kidul Jogja.