Kasus Baru HIV di Kota Jogja Turun, Ada Temuan 41 Kasus hingga Juni 2026
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
BPBD Bantul menyalurkan permintaan dropping air bersih ke kapanewon terdampak kekeringan awal Desember 2023./Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL—Hingga saat ini beberapa kapanewon di Bantul masih terdampak kekeringan. Padahal anggaran APBD Bantul 2023 untuk dropping air bersih telah habis.
Staf Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bantul, Plentyas Lalang Dwi Hartanta menyampaikan hingga saat ini pihaknya masih menerima permintaan dropping air bersih dari beberapa kapanewon di Bantul.
Hal itu membuktikan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap air bersih masih tinggi. Sebut saja misalnya di Kalurahan Bangunjiwo, Kasihan, yang mengajukan permintaan dropping 10 tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter per pengiriman setiap tiga hari sekali. “Akumulasi [dropping air bersih] per hari masih tinggi, sekitar 8-10 tangki. Kalau kami bergerak distribusi 5-7 hari habis 70 tangki,” katanya, Selasa (19/12/2023).
Padahal, diakui Lalang, per 16 Desember 2023 anggaran dari APBD Bantul 2023 sekitar Rp22 juta yang dialokasikan untuk penyediaan air bersih telah habis.
BACA JUGA: Anggaran Habis! Padahal Masih Banyak Wilayah di Sleman Butuh Dropping Air Bersih
Dari anggaran tersebut menurut dia telah dialokasikan untuk penyediaan 150 tangki air bersih.
Untuk itu, pihaknya kini hanya mengandalkan persediaan 50 tangki bantuan air bersih dari CSR. Dia menyampaikan apabila persediaan air bersih tersebut habis, maka BPBD Bantul akan mengajukan penggunaan dana Belanja Tidak Terduga (BTT). “Sebenarnya di perubahan kami masih punya BTT itu bisa. Kami tidak mengajukan karena karena masih ada CSR,” katanya.
Hingga saat ini menurut dia persediaan tangki tersebut masih mencukupi untuk penyediaan air bersih pada beberapa kapanewon terdampak.
“Ini [kebutuhan air bersih] ranah kebencanaan, kalau musim kemarau masih seperti ini yang terpenting kebutuhan [air bersih] anggota masyarakat tercukupi. Anggaran dari mana nanti kita upayakan, kita koordinasikan dengan pihak terkait,” katanya.
Sementara sebelumnya Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bantul Antoni Hutagaol di Bantul menyampaikan status siaga darurat kekeringan di Kabupaten Bantul diperpanjang hingga akhir Desember 2023.
“Perpanjangan tersebut alasannya berdasarkan pers rilis dari BMKG sampai Desember ini hujan masih di bawah normal. Dan masih adanya masyarakat yang membutuhkan dropping air bersih,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
Disdag Jogja menggelar Gemati di 22 pasar selama Oktober 2026. Belanja minimal Rp20.000 berpeluang mendapat smartphone hingga sepeda.
Pemprov Jateng menyalurkan 75,4 juta liter air bersih ke 33 kabupaten/kota untuk membantu warga terdampak kekeringan.
Komisi XIII DPR menemukan miras di salah satu bangunan Lapas Cibinong. Sebanyak 10 bangunan di bantaran Ciliwung dibongkar.
Empat atlet Indonesia lolos final speed panjat tebing di Nagoya. FPTI membidik medali dan berharap podium dikuasai wakil Indonesia.
DPRD Jogja meminta Rippar 2026–2045 tak hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi juga lama tinggal, belanja, tenaga kerja, dan lingkungan.