Festival Jeron Beteng Jogja, Ada Layang-Layang hingga Pawai Ogoh-Ogoh
Event ini merupakan upaya Dispar dalam rangka memperkenalkan destinasi Njeron Benteng sekaligus destinasi wisata Jogja sisi selatan.
Jalan Malioboro, Jogja. - Harian Jogja/Maya Herawati
Harianjogja.com, UMBULHARJO—Bulan Ramadan normalnya memang menjadi masa-masa low season bagi sektor pariwisata. Kondisi ini juga terjadi di Kota Jogja. Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Jogja menempuh sejumlah upaya untuk mempertahankan angka kunjungan wisatawan. Setidaknya untuk menjaga agar tak terlampau jauh turunnya.
Sekretaris Dispar Kota Jogja Muhammad Zandaru Budi menuturkan di awal Ramadan ini memang terjadi penurunan kunjungan wisatawan. Kondisi ini telah terjadi sejak Januari 2024, mengingat itu merupakan masa-masa low season di sektor pariwisata.
BACA JUGA : Royal Malioboro by Aston Sajikan 90 Menu Buka Puasa Setiap Hari Selama Ramadan
Dia mencatat, pergerakan pada Februari 2024 mencapai 713.956 wisatawan. Angka ini terbilang turun 0,6 persen jika dibanding dengan bulan Januari 2024 yang mencapai 718.371 wisatawan. Kondisi yang sama juga terjadi pada lama tinggal wisatawan. Pada Januari 2024 tercatat lama tinggal wisatawan mencapai 1,82 hari. Sementara Februari 2024 turun 8,7 persen menjadi 1,66 hari.
"Sedangkan rata-rata belanja wisatawan Nusantara bulan Februari 2024 mencapai Rp 2.094.434. Mengalami penurunan kurang lebih sebesar 2 persen dibandingkan bulan Januari 2024, yakni Rp 2.138.304," kata Zandaru saat dihubungi, Selasa (12/3).
Dinas Pariwisata menempuh sejumlah upaya untuk mempertahankan angka kunjungan wisatawan. Salah satunya dengan cara mengembangkan wisata religi dengan menggandeng kampung wisata. Apalagi, saat ini Kota Jogja punya 25 kampung wisata. Seluruhnya bisa didorong untuk mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan religi.
Zandaru mencontohkan, salah satunya adalah Kampung Jogokaryan yang rutin setiap tahun menyediakan ribuan porsi buka puasa untuk masyarakat umum. "Lalu seperti di Kauman, di Kotagede itu kan ada kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pasar sore Ramadan. Itu juga dalam rangka untuk bisa menarik wisatawan," ujarnya.
Dispar Kota Jogja juga memastikan telah melakukan upaya beautifikasi pada kampung-kampung wisata. Misalnya dengan memasang penanda, sehingga wisatawan tak kesulitan dalam mencari spot pada kampung wisata.
"Sehingga wisatawan yang datang itu tau, misalnya ini zona kulinernya, ini zona sejarahnya. Itu sudah ada tulisan-tulisan yang kami buat," katanya.
Di sisi lain, Zandaru turut mendorong usaha jasa pariwisata berinovasi, mengungkit datangnya wisatawan. Misalnya dengan menyediakan paket-paket khusus Ramadan, seperti paket buka bersama (bukber) hingga berbagai diskon lainnya.
"Mereka kan juga tetap ingin eksis. Mereka mengkreasi usaha jasa pariwisatanya. Mungkin ada paket iftar atau bukber. Malah ada yang sahur bareng atau berbagi, terutama hotel resto," ungkapnya.
BACA JUGA : PHRI Bantul Keluhkan Penurunan Okupansi di Bantul
Meski di awal terjadi penurunan, tapi seperti tren yang sudah-sudah kunjungan wistawan akan kembali naik pada pertengahan hingga akhir Ramadan. "Nanti menjelang Idul Fitri akan naik lagi. Baik jumlah kunjungan, lama tinggal, maupun besaran belanjanya wisatawan," kata Zandaru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Event ini merupakan upaya Dispar dalam rangka memperkenalkan destinasi Njeron Benteng sekaligus destinasi wisata Jogja sisi selatan.
Aktivis Global Sumud Flotilla mengaku mengalami sengatan listrik dan kekerasan fisik saat ditahan Israel usai misi kemanusiaan menuju Gaza.
Tingkat pengangguran DIY turun menjadi 3,05% pada Februari 2026. Pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif jadi penyerap tenaga kerja utama.
Harga cabai rawit merah nasional mencapai Rp57.650 per kg menurut data PIHPS Kamis pagi. Telur ayam ras dijual Rp32.500 per kg.
Revisi UU HAM disiapkan untuk melindungi aktivis dan pembela HAM dari kriminalisasi serta memperkuat hak digital dan lingkungan hidup.
Rupiah menguat ke Rp17.653 per dolar AS di tengah penguatan dolar global dan sentimen suku bunga The Fed serta konflik Timur Tengah.