Masih Sulit Menabung Bisa Jadi Tanda Posisi Ekonomi Anda
Penurunan kemiskinan ekstrem di Indonesia menyoroti lima indikator yang sering digunakan untuk mengenali kondisi kelas menengah bawah dan kelas bawah.
Suasana Pantai Parangtritis dipenuhi para wisatawan, Sabtu (25/12/2021). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul mencatat jumlah kunjungan wisatawan pada awal bulan Puasa mengalami penurunan.
Subkoordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dispar Bantul, Markus Purnomo Adi mengungkapkan penurunan jumlah kunjungan wisatawan sangat terlihat di awal Ramadan 2024. Jika pada Minggu (10/3/2024) ada sebanyak 14.267 pengunjung, maka pada Senin (11/3/2024) jumlah pengunjung itu turun menjadi 5.654 pengunjung.
BACA JUGA : Dari Rp1,1 Juta Uang yang Dihabiskan Wisatawan Tak Semua Dinikmati Warga Bantul
"Jumlah itu menurun drastis pada hari Selasa (12/3/2024) yang hanya mencapai 1.278 pengunjung. Untuk Senin (11/3/2024) itu, meski sebagian telah melakukan puasa, tapi kan itu libur Nyepi," terang Ipung-panggilan akrab Markus Purnomo Adi, Sabtu (16/3/2024).
Lebih lanjut Ipung memaparkan, sepinya wisatawan saat Ramadan, adalah hal yang biasa dan selalu terjadi setiap tahunnya. Sebab, kondisi ini tidak hanya terjadi di Bantul, tapi juga di wilayah lainnya di Indonesia.
"Kalau pas Puasa seperti ini, hari biasa pengunjung rata-rata 800 sampai 1.000 orang. Sementara akhir pekan biasanya 1.500 sampai 3.000 orang. Untuk pelaku wisatawan, hal ini sudah diantisipasi tentunya," ucap Ipung.
Sementara pemilik warung makan seafood di Pantai Depok, Dardi Nugroho mengungkapkan kunjungan wisatawan ke warungnya menurun drastis pada awal puasa. Ia memperkirakan, geliat pengunjung baru akan dirasakan pada pekan kedua Ramadan.
"Ini sudah jadi tradisi. Setiap awal Ramadan pasti sepi pengunjung. Sedangkan pesanan takjil kini juga jarang, karena banyak yang memilih membentuk panitia dan membuat takjil sendiri. Apalagi saat ini harga kebutuhan pokok juga cukup tinggi," kata Dardi.
Hal berbeda justru terlihat di sekitar Jembatan Kretek 2. Di lokasi tersebut, ada ratusan pedagang yang menjajakan minuman dan makanan saat berbuka puasa. Salah satu warga yang tinggal tidak jauh dari Jembatan Kretek 2, Yunianto mengatakan penampakan banyaknya pedagang yang berjualan mendekati buka puasa sudah menjadi pemandangan beberapa hari terakhir.
"Kami sendiri berharap, keberadaan jembatan tersebut bisa menggerakkan perekonomian. Khususnya warga sekitar agar bisa berjualan makanan dan minuman di tempat tersebut," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penurunan kemiskinan ekstrem di Indonesia menyoroti lima indikator yang sering digunakan untuk mengenali kondisi kelas menengah bawah dan kelas bawah.
Rusia mengklaim menyerang pusat logistik dan fasilitas produksi drone Ukraina, sementara Iran memprotes serangan Ukraina di Laut Kaspia.
Pemkot Semarang menginstruksikan OPD dan warga siaga penuh menghadapi kemarau ekstrem 2026 untuk mencegah kebakaran dan gangguan kesehatan.
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.
PDIP Kota Yogyakarta menanam 300 pohon, menggelar simulasi bencana, dan pelayanan kesehatan lansia saat pelantikan pengurus.
Samsung Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan fitur kesehatan berbasis AI untuk trail running, diving, dan pemantauan kebugaran harian.