Advertisement

Bantul Perluas Gerakan 5.000 Jugangan untuk Olah Sampah Organik

Ujang Hasanudin
Kamis, 06 Juni 2024 - 09:57 WIB
Ujang Hasanudin
Bantul Perluas Gerakan 5.000 Jugangan untuk Olah Sampah Organik Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih secara simbolis membuat jugangan untuk mengolah sampah organik di Caturharjo, Pandak, Bantul, Rabu (5/6/2024). - Ist / Humas Pemkab Bantul

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten Bantul memperluas gerakan pembuatan sebanyak 5.000 jugangan atau lubang di tanah di seluruh wilayah ini untuk mengolah sampah organik guna mendukung program Bantul Bersih Sampah 2025 (Bantul Bersama).

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengatakan gerakan 5.000 jugangan untuk mengolah sampah organik awalnya digagas oleh Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Pandak, Bantul. Pihaknya setuju agar gerakan tersebut diperluas di wilayah lainnya.

Advertisement

Hal itu juga merupakan tindak lanjut dari edaran tentang pengolahan sampah yang saya tandatangani. " Gerakan ini menjadi sangat strategis mengatasi persoalan sampah, terlebih saat ini telah dilakukan desentralisasi pengelolaan sampah sejak ditutupnya TPST Piyungan," kata Halim, dikutip dari laman resmi Pemkab Bantul, Kamis (6/6/2024).

Dengan upaya tersebut, Halim yakin pada tahun 2025 mendatang masalah sampah akan teratasi. Ia terus mendorong kalurahan meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan sampah.

"Kalurahan Caturharjo ini menjadi salah satu kalurahan yang merespon cepat terkait kemandirian pengelolaan sampah, dan mampu menghasilkan satu program yang didukung warganya. Gerakan 5000 Jugangan ini akan mempercepat kemandirian pengelolaan sampah,” harap Halim," ucapnya.

Meski demikian, Halim mengingatkan pengolahan sampah dengan memanfaatkan jugangan atau lubang di tanah tersebut, nantinya harus dipastikan bahwa sampah yang dibuang atau dikubur di jugangan benar-benar merupakan sampah organik.

"Dan harus dipastikan benar benar yang masuk ke jugangan hanyalah sampah organik saja, para orang tua kita terdahulu dengan jugangan tidak pernah ada masalah sampah, waktu saya kecil sampah organik di tempat saya itu tidak menjadi masalah," katanya.

BACA JUGA: Terciduk Buang Sampah Liar di Sitimulyo Bantul, 2 Truk Didenda Rp5 juta

Dia mengatakan sampah yang dihasilkan masyarakat tersebut mayoritas atau sekitar 70 persen merupakan sampah organik, sehingga kalau pemerintah bersama masyarakat bisa menyelesaikan sampah organik, maka sisanya hanya tinggal 30 persen.

"Kan sederhana sebetulnya, tetapi dalam praktiknya kita masih gagap di dalam mengelola sampah organik ini, makanya cukup dibuatkan jugangan, tetapi harus dipastikan plastik tidak boleh masuk, logam tidak boleh masuk," katanya.

Lurah Caturharjo, Wasdiyanto mengatakan kegiatan pembuatan 5.000 jugangan ini merupakan kelanjutan dari tahun sebelumnya dalam rangka menyukseskan gerakan Bantul Bersama. “Di Caturharjo mempunyai metode Olah Sampah Coro Simbah, yaitu mengembalikan sampah organik ke alam dengan cara dimasukkan ke jugangan,” katanya.

Di Kalurahan Caturharjo sendiri, sudah dilakukan pengolahan sampah mulai dari rumah tangga. Sampah anorganik yang masih bernilai ekonomi dijual ke BUMKal, sampah residu diolah di Laboratorium Pengelolaan Sampah Kuroboyo, kemudian sampah organik dimasukkan ke jugangan. Selain menjadi pupuk kompos, jugangan ini juga bisa berfungsi sebagai resapan saat musim penghujan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop

Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop

News
| Sabtu, 04 April 2026, 15:57 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement