Advertisement

Ribuan Tim Pendamping Keluarga di DIY Dikumpulkan untuk Percepatan Penurunan Stunting

Media Digital
Sabtu, 15 Juni 2024 - 15:17 WIB
Ujang Hasanudin
Ribuan Tim Pendamping Keluarga di DIY Dikumpulkan untuk Percepatan Penurunan Stunting Suasana kegiatan Sinergi Penguatan Tenaga Lapangan untuk Menyukseskan Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting di DIY di Sleman City Hall, Sabtu (15/6/2024)/ Harian Jogja - David Kurniawan

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Ribuan perserta yang berasal dari Tim Pendamping Keluarga (TPK) menghadiri kegiatan Sinergi Penguatan Tenaga Lapangan untuk Menyukseskan Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting di DIY di Sleman City Hall, Sabtu (15/6/2024). Diharapkan TPK bisa menghadirkan seluruh anak dalam bulan penimbangan dan pengukuran serentak di Juni ini.

Kepastian kehadiran sebagai upaya mengkonfirmasi tentang kepastian data angka stunting di DIY. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Hasto Wardoyo mengatakan, ada dua data tentang stunting di Indonesia. Data pertama berasal dari Surve Kesehatan Indonesia (SKI) milik Kementerian Kesehatan dan data yang berasal dari aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPP-GBM).

Advertisement

Ia tidak menampik keduanya memiliki data yang berbeda terkait dengan angka stunting. Oleh karenanya, adanya Bulan Penimbangan dan Pengukuran Serentak diharapkan bisa mengkonfirmasi terkait dengan kepastian angka stunting.

“TPK sangat memegang peranan penting untuk keabsahan data ini. jadi, saat mengukur dan menimbang harus dipastikan dengan cara-cara yang benar,” katanya, Sabtu siang.

Guna memastikan perhitungan yang benar, maka ribuan TPK di DIY dikumpulkan untuk diberikan training atau pelatihan. Dari sisi peralatan sudah dibuat standar sehingga tidak ada masalah. 

Menurut Hasto, pengukuran atau penimbangan ada mekanismenya. Sebagai contoh untuk bayi, pengukuran harus dipastikan kakinya lurus sehingga diukur dengan posisi tidur dengan kaki akan ditekan.

Hal yang sama berlaku pada anak. Saat diukur dilakukan secara sejajar dan tidak boleh dari atas untuk memastikan keakuratannya. “Kesalahan dalam pengukuran biasanya memuat tinggi badan jadi lebih pendek dan tentunya akan berpengaruh terhadap jumlah stunting. Untuk itu, harus dilakukan dengan cara yang benar,” kata mantan Bupati Kulonprogo ini.

BACA JUGA: BKKBN Gelar Kelas Orang Tua Hebat: Perlu Kerabat Agar Bisa Asuh Anak Dengan Baik

Selain memastikan cara pengukuran dan penimbangan dilakukan dengan benar, Hasto juga meminta tingkat kehadiran di posyandu dioptimalkan. Kehadiran ini sangat penting karena juga akan berpengaruh terhadap angka penderita stunting.

“Tadi sudah saya sampaikan, kalau tidak hadir di posyandu, ya didatangani untuk dicek biar datanya benar-benar akurat,” katanya.

Pelaksana Tugas Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Mohammad Iqbal Apriansyah mengatakan, tujuan mengumpulkan ribuan TPK di Sleman City Hall untuk upaya menurunkan angka stunting. Diketahui bersama ada dua data berkaitan dengan stunting di DIY sehingga diperlukan konfirmasi agar ada kepastian terkait dengan data.

“Kalau mengacu dari SKI masih di kisaran 16% angka stunting di DIY. Tapi kalau dari EPP-GBM di angka 10,1%. Ini yang mau diklarifikasi agar datanya bisa sepadan,” katanya.

Diharapkan dengan kehadiran TPK juga bisa meningkatkan partisipasi warga untuk datang ke posyandu. Tingkat kehadiran ini sangat penting akan kepastian data di lapangan. “Kehadiran harus di atas 95%,” katanya. (***)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Penarikan Paspor Firli Bahuri, Ditjen Imigrasi Bakal Cek Ulang

News
| Selasa, 16 Juli 2024, 21:17 WIB

Advertisement

alt

6 Destinasi Wisata Alam yang Wajib Dikunjungi di Bogor

Wisata
| Minggu, 14 Juli 2024, 09:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement